Pidie Jaya, NU Online
Tradisi Jak Bak Jeurat (ziarah kubur) usai pelaksanaan shalat Idul Adha masih terus hidup dan terjaga di tengah masyarakat Aceh. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga sarana memperkuat ikatan keluarga, mendoakan orang yang telah wafat, serta mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat.
Rais Syuriyah PCNU Pidie Jaya Tgk Yusri Gade, yang akrab disapa Abiya Yusri dan juga Pimpinan Dayah Ribatul Muta’allim Al-Aziziyah Meurah Dua, mengatakan tradisi Jak Bak Jeurat memiliki nilai spiritual yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Menurutnya, ziarah kubur setelah shalat Idul Sdha menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang jasa orang tua, keluarga, guru, dan para pendahulu yang telah wafat melalui doa dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
“Tradisi Jak Bak Jeurat bukan sekadar kebiasaan masyarakat, tetapi mengandung nilai ibadah. Di sana ada doa untuk ahli kubur, ada pelajaran tentang kematian, dan ada pengingat bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara,” ujar Abiya Yusri Gade, Rabu lalu.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Aceh sejak dahulu menjadikan hari-hari besar Islam, termasuk Iduladha, sebagai momentum mempererat hubungan kekeluargaan. Setelah melaksanakan Shalat Id, banyak keluarga bersama-sama mengunjungi makam orang tua dan sanak saudara untuk membaca tahlil serta memanjatkan doa.
Menurutnya, tradisi tersebut juga memiliki fungsi sosial karena mempertemukan kembali anggota keluarga yang datang dari berbagai daerah untuk merayakan Iduladha di kampung halaman.
“Sering kali keluarga yang lama tidak bertemu berkumpul kembali di hari raya. Setelah shalat Id mereka bersama-sama berziarah ke makam keluarga. Ini menjadi sarana memperkuat silaturahmi dan menjaga hubungan kekeluargaan,” katanya.
Sementara itu, Ketua PCNU Pidie Jaya Tgk Ikhwani, yang akrab disapa Abati Ikhwani dan juga Pimpinan Dayah Sirajul Huda Al-Aziziyah Meureudu, menilai Jak Bak Jeurat merupakan salah satu warisan budaya Islami masyarakat Aceh yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Menurutnya, tradisi tersebut menunjukkan kuatnya hubungan antara nilai agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh.
“Budaya Aceh tumbuh bersama nilai-nilai Islam. Karena itu, banyak tradisi yang sarat dengan pesan keagamaan, termasuk Jak Bak Jeurat yang mengajarkan penghormatan kepada orang tua dan leluhur melalui doa,” ujarnya.
Abati Ikhwani menegaskan bahwa ziarah kubur dalam Islam bertujuan mengingat kematian, mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang terdahulu, serta mendoakan mereka yang telah wafat.
Karena itu, ia mengingatkan agar tradisi tersebut tetap dilaksanakan sesuai tuntunan syariat dengan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, dan menghindari praktik-praktik yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Iduladha sejatinya tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang pengorbanan, keikhlasan, dan memperkuat hubungan antarsesama manusia.
“Iduladha mengajarkan pengorbanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Pada saat yang sama, tradisi ziarah kubur mengajarkan kita untuk tidak melupakan jasa orang tua dan para pendahulu yang telah mendahului kita,” katanya.
Kedua tokoh NU Pidie Jaya tersebut sepakat bahwa tradisi Jak Bak Jeurat merupakan salah satu kearifan lokal Aceh yang memiliki nilai pendidikan spiritual, sosial, dan budaya. Tradisi tersebut tidak hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga menjadi sarana muhasabah agar manusia senantiasa mengingat tujuan akhir kehidupannya.
“Ketika berada di makam, manusia menyadari bahwa semua yang dimiliki di dunia akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal saleh dan doa yang terus mengalir. Karena itu, tradisi Jak Bak Jeurat harus dipahami sebagai momentum memperbaiki diri sekaligus memperkuat silaturahmi dalam suasana Iduladha,” tutup Abiya Yusri Gade.

5 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·