Dari Sultan Iskandar Muda hingga Gen Z, Meugang Tetap Menjadi Identitas Aceh

3 jam yang lalu 2

Banda Aceh, NU Online

Denyut tradisi meugang terus terasa di seluruh penjuru Aceh terutama saat Idul Adha lalu. Pasar-pasar tradisional dipadati warga yang berburu daging, sementara aroma masakan khas Aceh mulai memenuhi dapur-dapur rumah tangga. Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar membeli dan memasak daging, melainkan tradisi yang menyimpan sejarah panjang, nilai sosial, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Tradisi ini diyakini berkembang kuat pada masa Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Dalam berbagai catatan sejarah, sang sultan dikenal memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat. Menjelang hari-hari besar Islam, kerajaan menyembelih hewan dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada masyarakat. Tradisi itulah yang kemudian berkembang menjadi budaya meugang yang bertahan hingga kini.


Warisan Budaya yang Menyatukan Masyarakat

Penggiat budaya Aceh, Azhari, mengatakan meugang merupakan salah satu warisan budaya paling kuat yang dimiliki masyarakat Aceh karena mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman.


“Meugang lahir dari semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada masyarakat. Karena itu, tradisi ini tetap hidup hingga sekarang,” ujarnya, Selasa lalu.


Menurut Azhari, meugang bukan sekadar aktivitas membeli daging menjelang hari raya. Di balik tradisi tersebut terdapat nilai silaturahmi, penghormatan kepada orang tua, solidaritas sosial, dan kebiasaan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.


“Pada hari meugang, banyak perantau pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Ada yang sengaja meluangkan waktu makan bersama orang tua dan sanak saudara. Nilai inilah yang membuat meugang tetap istimewa,” katanya.


Azhari yang juga menakhodai Aceh Documentary Competition (ADC) menilai meugang merupakan bagian penting dari identitas budaya Aceh yang harus terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda.


Ia dikenal sebagai salah satu pegiat yang konsisten mengangkat sejarah dan budaya Aceh melalui film dokumenter. Bersama ADC, ia telah melahirkan puluhan film dokumenter yang merekam berbagai warisan budaya Aceh, mulai dari adat istiadat, tradisi keagamaan, situs sejarah, hingga kearifan lokal masyarakat.


Menurutnya, budaya hanya akan bertahan apabila terus didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Nilai Islam dalam Tradisi Meugang

Sementara itu, Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali yang akrab disapa Abu Sibreh menilai tradisi meugang memiliki nilai yang sangat selaras dengan ajaran Islam.


“Meugang memang bukan ibadah wajib, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya sangat Islami, seperti mempererat silaturahmi, berbagi rezeki, menghormati keluarga, dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.


Menurut Ketua MPU Aceh tersebut, semangat utama meugang bukan hanya menghadirkan hidangan daging di meja makan, tetapi juga membangun kepedulian sosial kepada sesama.


“Kalau ada kelebihan rezeki, jangan lupa berbagi kepada tetangga, fakir miskin, dan anak yatim. Itulah ruh meugang yang diwariskan para ulama dan leluhur Aceh,” katanya.


Abu Sibreh menegaskan bahwa tradisi meugang merupakan contoh bagaimana adat Aceh berjalan selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.


Tetap Relevan bagi Generasi Z

Di tengah perkembangan media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan gaya hidup digital, muncul pertanyaan apakah meugang masih relevan bagi generasi muda.


Penggiat sosial, agama, dan budaya Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI), Tgk Iswadi atau yang akrab disapa Abah Iswadi, menilai generasi Z justru memiliki cara baru dalam merawat tradisi tersebut.


Menurutnya, suasana meugang kini menjadi salah satu konten yang ramai dibagikan melalui TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube. Anak-anak muda mengabadikan suasana pasar, aktivitas memasak keluarga, hingga kisah sejarah meugang melalui berbagai platform digital.


“Gen Z mungkin merayakan meugang dengan cara yang berbeda, tetapi nilai kebersamaan yang diwariskan tetap sama,” ujarnya.


Abah Iswadi menilai teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi budaya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kembali tradisi Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.


“Kalau dulu cerita meugang diwariskan dari mulut ke mulut, sekarang bisa diwariskan melalui film, video pendek, dan media sosial. Yang penting nilai-nilainya tetap terjaga,” katanya.


Ia menambahkan, di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, meugang justru menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan keluarga dan masyarakat.


Warisan Peradaban Aceh

Bagi Azhari, Abu Sibreh, dan Abah Iswadi, meugang membuktikan bahwa tradisi akan tetap hidup selama nilai-nilai yang dikandungnya terus dijaga.


Empat abad setelah masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, gema meugang masih terdengar di seluruh pelosok Tanoh Rencong. Dari pasar tradisional hingga ruang digital, dari generasi tua hingga generasi Z, meugang tetap menjadi simbol kebersamaan masyarakat Aceh.


Tradisi ini bukan sekadar budaya kuliner, melainkan warisan peradaban yang mengajarkan persatuan, silaturahmi, kepedulian sosial, penghormatan kepada keluarga, dan semangat berbagi. Karena itulah, meugang tetap relevan hingga hari ini dan diyakini akan terus hidup di tengah masyarakat Aceh pada masa mendatang.

Baca Artikel Selengkapnya