Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa sore, menguat 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp18.091 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.109 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi respons positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen per tahun hingga tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB.
Pertumbuhan ekonomi ini didorong belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi. S&P menilai kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor.
Kendati begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menembus 5,6 persen pada kuartal I/2026, tetapi diiringi gejolak pasar keuangan selama semester I/2026. Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar, hingga nilai tukar rupiah turut turun sekitar 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama.
“Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri,” ungkap Ibrahim.
Melihat sentimen global, Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah pertukaran militer yang diperbarui dengan Teheran. Trump juga mengatakan Washington akan memungut biaya 20 persen pada kargo yang melewati Selat Hormuz untuk menutupi biaya keamanan.
Militer AS mengatakan akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa (14/7), menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran sambil mengizinkan pengiriman komersial netral untuk terus melewati jalur air tersebut.
“Investor tetap khawatir bahwa eskalasi militer lebih lanjut atau tindakan balasan dapat mengganggu aliran dari Teluk, yang dilalui oleh sekitar seperlima konsumsi minyak global, setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah,” ucap dia.
Aksi militer AS dianggap dapat memicu serangan lebih lanjut oleh Iran yang mempengaruhi infrastruktur energi regional, sehingga berpotensi meningkatkan harga minyak mentah hingga berdampak pada pasar keuangan lebih luas, menekan pasar saham, dan menaikkan kekhawatiran inflasi karena investor menilai kembali potensi dampak kenaikan biaya energi terhadap pertumbuhan global dan kebijakan bank sentral.
Sentimen lain berasal dari pernyataan Gubernur Federal Reserve (Fed) Christopher Waller yang mengungkapkan bahwa jika Indeks Harga Konsumen (CPI) naik pekan ini, pihaknya harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga.
Waller menyatakan bahwa angka inflasi inti yang tinggi "akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat."
“Meskipun bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2 persen tanpa kenaikan suku bunga dan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja lebih dekat dengan target lapangan kerja maksimum The Fed,” ujar Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp18.099 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.131 per dolar AS.
Baca juga: Ekonom UI: Stabilitas rupiah dan efisiensi investasi kunci lolos MIT
Baca juga: Dolar AS level tertinggi setahun, BI “all out” jaga rupiah
Baca juga: BI: Cadev capai 145,6 miliar dolar AS pada Juni, naik 700 juta dolar
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·