Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 berpotensi membaik dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong percepatan belanja pemerintah pada semester kedua.
“Di kuartal ketiga kami cukup optimistis pertumbuhan ekonomi lebih baik daripada kuartal kedua,” kata Faiz dalam Media Luncheon HUT ke-70 Danamon di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diperkirakan sedikit melambat setelah perekonomian pada kuartal I mendapat dorongan dari sejumlah faktor musiman, antara lain momentum Lebaran dan pembayaran tunjangan hari raya.
Dorongan fiskal pada kuartal II juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya seiring berlangsungnya penyesuaian belanja dan transisi pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah.
Namun, Faiz menilai ruang penguatan pertumbuhan kembali terbuka pada semester II karena masih terdapat pagu belanja pemerintah yang belum direalisasikan.
“Di kuartal III dan kuartal IV kami melihat belanja yang belum dibelanjakan masih cukup besar. Kalau ini dibelanjakan, akan menjadi dorongan lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan dampak belanja pemerintah tidak hanya tercatat pada komponen konsumsi pemerintah, tetapi juga dapat merambat ke konsumsi rumah tangga dan investasi.
Menurut Irman, efek rambatan tersebut telah terlihat pada kuartal I ketika stimulus fiskal turut mendorong aktivitas konsumsi dan pembentukan modal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 21,81 persen, sedangkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional.
Pada periode tersebut, produk domestik bruto atas dasar harga konstan tercatat Rp3.447,7 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara hingga semester I 2026 mencapai Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun.
Berdasarkan laporan data Kementerian Keuangan pada 7 Juli 2026 belanja pemerintah pusat tercatat Rp1.298,6 triliun atau 41,2 persen dari target Rp3.149,7 triliun, sehingga masih terdapat ruang realisasi belanja yang cukup besar pada semester kedua.
Faiz menilai percepatan belanja tersebut perlu dibarengi pengelolaan fiskal yang terukur agar dukungannya terhadap pertumbuhan dapat berlangsung tanpa mengganggu kredibilitas APBN.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga penerimaan negara sesuai target karena pelemahan ekonomi global maupun penerimaan pajak yang lebih rendah dapat membatasi ruang belanja pemerintah.
Menurut dia, kepastian realisasi penerimaan diperlukan agar berbagai stimulus yang telah diumumkan pemerintah dapat tetap dijalankan pada semester II dan menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.
“Pemerintah perlu memastikan koleksi pajak dan penerimaan negara sesuai dengan target baru sehingga belanja untuk mendorong pertumbuhan pada semester kedua tetap dapat dilancarkan,” ucap Faiz.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026 guna menjaga konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Stimulus tersebut mencakup insentif transportasi, program magang dan pelatihan vokasi, bantuan pangan, serta dukungan stabilisasi harga pangan. Selain itu, pemerintah juga menargetkan percepatan realisasi belanja negara pada semester II agar menjadi penggerak aktivitas ekonomi.
Baca juga: Airlangga nilai afirmasi S&P cerminkan kepercayaan global ke RI
Baca juga: ADB pertahankan proyeksi ekonomi Indonesia 5,2 persen pada 2026
Baca juga: BI jaga stabilitas sekaligus dorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·