Sumenep, NU Online
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita masih memantik banyak kalangan untuk menontonnya, tidak terkecuali santri yang difasilitasi oleh pondok pesantren tempat mereka belajar. Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, Gapura, Sumenep, Jawa Timur misalnya, yang menggelar nonton bareng, Sabtu (30/5/2026) malam.
Pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, Kiai A Dardiri Zubairi menyampaikan pentingnya menonton film ini bagi kalangan santri. "Di Sumenep Madura, setidaknya yang saya tahu, yang sudah mengadakan nobar yaitu Pesantren Annuqayah Daerah Late Guluk-Guluk dan Pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura melalui sekolah tingginya (STAINAS)," ungkapnya melalui media sosial miliknya dikutip Ahad (31/5/2025).
Ia mengajak pesantren-pesantren yang lain untuk ikut menyelenggarakan nonton bareng bersama santrinya. Ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari film yang disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu.
Kiai Dar, sapaannya, tak menampik bahwa ada sebagian kalangan pesantren yang berkomentar agar berhati-hati dengan film ini. Menurutnya hal ini wajar lantaran beberapa hal. Pertama, belum menontonnya secara utuh. Kedua, terdapat kata 'babi' yang digambarkan dalam Islam sebagai binatang yang haram dimakan. Ketiga, ada gambar salib, simbol bagi agama tertentu.
"Dua simbol, babi dan salib, mungkin dianggap cukup untuk mengatakan film ini tidak cocok diputar di pesantren. Tapi syukurlah, setelah nonton film justru santri mengapresiasi. Dalam pengalaman saya, baru kali ini santri tak beranjak nonton film dokumenter. Pada hal durasinya lumayan. 1 jam 25 menit. Nonton film dokumenter lain, 30 menit saja mereka bosan. Bahkan ada yang angkat kaki," ungkapnya.
Kiai Dar menyaksikan betapa para santri begitu antusias melihat film ini sedari awal hingga tuntas. Baginya film ini cukup menarik, menyentuh perasaan, dan menginspirasi. Santri seolah diajak langsung ke Papua. Melihat dengan mata telanjang dan merasakan secara empatik masyarakat adat di sana yang mempertahan ruang hidupnya.
Ada lima hal yang menurutnya dialami oleh santri setelah menonton film ini. Pertama, mengenal secara lebih dekat suku lain yang dari sudut bahasa, tradisi, budaya, dan warna kulit berbeda. Pengalaman ini penting bagi santri biar mereka siap hidup berdampingan dengan lain suku dan mengajari mereka untuk tidak bersikap rasis terhadap suku lain.
"Apalagi Papua dan Madura memiliki kesamaan, sama-sama memperoleh perlakuan rasis dengan labeling yang tidak mengenakkan," terangnya.
Kedua, santri mengalami 'perjumpaan' dengan suku lain yang memiliki keyakinan agama yang berbeda. Santri Muslim, orang Papua (dalam film) Katolik. Tetapi santri dan orang Papua disatukan oleh imaji kebangsaan dan kemanusiaan.
"Inilah pelajaran sejati makna toleransi. Bukan sekadar menghormati orang beda agama, tapi juga siap berjihad membela orang tertindas meski beda agama. Setidaknya itulah pelajaran yang bisa mereka ambil," ungkapnya.
Ketiga, santri juga belajar soal agraria, ekologi, dan dampak sosial ekologisnya bagi masyarakat. Dampak sosial ekologisnya luar biasa. Masyarakat adat dipaksa oleh kekuasaan dan korporasi mencerabut diri dari lingkungan hutannya, ruang hidupnya. "Bukan sekadar manusianya, juga keanekaragaman hayati dan satwanya. Mungkin juga makhluk ghaibnya," ucapnya.
Keempat, para santri jadi tahu wajah negaranya, elitenya, dan pemimpinnya. "Film ini menjadi bukti bagaimana negara ini dikelola, siapa yang kuasa mengatur, dengan cara apa negara ini diatur, siapa yang untung, dan siapa yang paling buntung," tandasnya.
Kelima, film ini jadi ruang bagi para santri untuk mempertautkan pengalaman kegamaan dan kedaerahan mereka. Teks agama mereka sangat banyak yang menyeru agar berlaku adil terhadap makhluk non-manusia lainnya, termasuk bumi yang kita huni.
"Sumenep, daerah mereka, juga akan mengalami problem lingkungan yang akan bertambah rumit ke depan. Pesisir habis, tambang fosfat, rencana pembangunan pembangkit listrik, alih fungsi lahan pertanian yang makin massif, ancaman krisis air, dan lainnya," ucapnya.
Setidaknya lima hal itu menurutnya bisa menjadi alasan film Pesta Babi ini penting diputar di pesantren-pesantren. "Sudah waktunya pesantren terlibat dalam isu-isu agraria dan ekologi di daerahnya masing-masing, karena peristiwa di Papua bukan tidak mungkin akan terjadi juga di masyarakat sekitar pesantren, di mana negara dan korporasi meleleh air liurnya untuk menyantap tanah dan kekayaan yang dikandungnya," pungkasnya.

7 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·