Pakar ungkap faktor penentu rupiah bisa “rebound” pada semester II

5 jam yang lalu 8
Menentukan titik balik rupiah saat ini sangat bergantung pada kapan variabel eksternal mulai mendingin atau mereda

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi memperkirakan, nilai tukar rupiah berpeluang mengalami pembalikan arah (rebound) ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.200 per dolar AS apabila sejumlah faktor penentu terpenuhi pada semester II 2026

“Menentukan titik balik rupiah saat ini sangat bergantung pada kapan variabel eksternal mulai mendingin atau mereda. Namun, secara teknis dan fundamental, ada beberapa pemicu yang bisa menjadi pembalikan arah (rebound) rupiah,” kata Rahma saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Rahma menjelaskan bahwa penyebab utama dolar yang terlalu kuat adalah ekspektasi suku bunga The Fed. Rupiah berpotensi menemukan titik balik apabila data ekonomi AS mulai menunjukkan titik terang atau pendinginan yang signifikan.

“Jika angka pengangguran di AS merayap naik dan inflasi mereka melandai di bawah 3 persen, pasar akan kembali bertaruh pada pemangkasan bunga. Ini akan berdampak pada penurunan yield Treasury AS, sehingga aliran modal (capital inflow) akan kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia (SBN) yang saat ini menawarkan yield sangat tinggi,” jelas dia.

Bank Indonesia (BI) juga tidak hanya mengandalkan suku bunga, tetapi instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus diperkuat. Menurut Rahma, rupiah bisa menguat jika tingkat imbal hasil SRBI sudah mencapai level yang dianggap terlalu murah untuk dilewatkan oleh investor asing.

“Saat ini, dengan yield SRBI yang dipatok di atas 7,3-7,5 persen, daya tarik untuk masuk ke pasar domestik secara bertahap akan terbangun, menciptakan pasokan dolar baru di pasar,” kata dia.

Secara historis, tekanan terhadap rupiah pada kuartal II atau April-Juni juga cenderung meningkat karena korporasi asing di Indonesia gencar menukar rupiah ke dolar AS untuk repatriasi dividen. Memasuki Juli dan Agustus, tekanan musiman tersebut biasanya mereda.

“Jika tidak ada kejutan negatif dari sisi fiskal, rupiah secara alami memiliki ruang untuk menguat karena permintaan dolar dari korporasi menurun. Tapi sebaliknya, jika ada kejutan negatif dari fiskal, maka rupiah terus akan tertekan,” kata Rahma.

Ia menilai terdapat level psikologis tertentu yang mendorong BI melakukan intervensi agresif untuk menjaga kredibilitas rupiah. Jika cadangan devisa dinilai cukup kuat menjaga volatilitas, spekulan cenderung melakukan profit taking sehingga dapat memicu penguatan rupiah secara cepat.

Sebagai negara pengekspor komoditas, Rahma mengingatkan bahwa penguatan rupiah juga bergantung pada stabilitas harga energi. Jika tensi di Timur Tengah mereda dan harga minyak dunia turun ke kisaran 75-80 dolar AS per barel, beban impor energi akan berkurang sehingga menopang neraca perdagangan Indonesia.

Menurutnya, otoritas moneter dan pemerintah biasanya akan beralih ke langkah yang lebih struktural apabila kenaikan suku bunga belum efektif menahan tekanan rupiah. Salah satunya melalui penguatan aturan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang mewajibkan eksportir menempatkan devisa di sistem keuangan domestik.

Selain itu, BI juga dinilai perlu untuk terus menjaga daya tarik instrumen SRBI dengan imbal hasil kompetitif untuk menarik aliran modal asing. Upaya lain dilakukan melalui perluasan transaksi mata uang lokal (LCT) dan pengembangan instrumen non-dolar guna menekan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Di sisi lain, menurut Rahma, pemerintah juga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dengan menahan impor yang tidak mendesak atau menunda proyek yang memiliki komponen impor tinggi.

Namun, ia juga mengingatkan, jika pasar melihat tensi geopolitik terus memanas atau defisit APBN melebar secara tidak sehat, maka kebijakan administratif seperti kewajiban DHE dapat dianggap sebagai sinyal darurat yang justru memicu kekhawatiran investor.

“Langkah-langkah di atas memang terlihat kuat di atas kertas, namun efektivitasnya sering kali berbenturan dengan psikologi pasar,” kata Rahma.

Baca juga: Ekonom nilai instrumen moneter saja belum cukup tahan pelemahan rupiah

Baca juga: Nilai tukar tembus Rp17.800, BI jaga rupiah nonstop di pasar global

Baca juga: ESDM tegaskan harga BBM subsidi tak naik walau kurs rupiah Rp17.877

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya