Jakarta, NU Online
Sekretaris Steering Committee (SC) Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026, Prof. Mohammad Nuh, menegaskan bahwa Munas-Konbes kali ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya karena berkaitan langsung dengan persiapan menuju Muktamar NU.
Menurutnya, Munas-Konbes NU 2026 harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyiapkan Muktamar agar dapat berjalan dengan baik. Sebab, Muktamar merupakan forum penting yang berkaitan dengan laporan pertanggungjawaban kepengurusan serta arah perjalanan organisasi ke depan.
“Karena itu, kita ingin menyiapkan Munas-Konbes sebaik mungkin supaya nanti Muktamar bisa berjalan sebaik mungkin,” ujarnya saat ditemui di Gedung PBNU lantai 4, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Dalam pemaparannya, Nuh juga menyoroti hasil survei Alvara tahun 2023 yang menunjukkan bahwa warga NU membutuhkan layanan yang tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga menyangkut pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Menurutnya, ketiga bidang tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang harus menjadi perhatian serius NU dalam merumuskan program dan rekomendasi organisasi.
“Kalau Gen X, yang paling dibutuhkan adalah kesehatan. Kalau milenial, pendidikan. Sementara Gen Z membutuhkan pendidikan yang beririsan dengan ekonomi,” jelasnya.
Ia mencontohkan masih terbatasnya perguruan tinggi NU yang memiliki daya saing tinggi sehingga banyak warga NU memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar lingkungan NU. Begitu pula dengan layanan kesehatan yang dinilai belum sepenuhnya mampu menjangkau kebutuhan warga.
Karena itu, NU ingin mengembalikan semangat perkhidmatan sebagai inti pengabdian organisasi kepada masyarakat. “Kita ingin betul mengembalikan perkhidmatan, karena tugas kita adalah memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Selain membahas kebutuhan dasar warga, Munas-Konbes NU 2026 juga akan menyoroti sejumlah isu aktual, termasuk persoalan kekerasan di dunia pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren.
Menurut Nuh, organisasi tidak cukup hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga harus menghadirkan solusi yang nyata dan dapat diterapkan.
“Yang dibutuhkan itu tahu persoalannya, bisa menyelesaikan persoalan, dan tahu jawabannya. Kalau hanya tahu persoalan dan tahu jawabannya, itu namanya konsultan. Bagus, tetapi belum cukup. Itu yang kita dorong,” paparnya.
Ia juga menyambut positif berbagai masukan yang datang dari forum Mubes Warga NU, organisasi-organisasi NU, maupun diaspora NU. Menurutnya, beragam pandangan tersebut menunjukkan kuatnya rasa memiliki terhadap jam’iyah.
“Berbagai pandangan yang disampaikan itu kita sambut baik. Artinya mereka semua merasa memiliki NU. Karena itu, kita bersyukur atas berbagai masukan tersebut,” katanya.
Nuh menjelaskan, berbagai gagasan yang berkembang dalam Munas-Konbes akan dibahas melalui sejumlah komisi dan dirumuskan menjadi rekomendasi bagi internal organisasi maupun untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.
Menurutnya, rekomendasi yang dihasilkan harus berbasis pada pemahaman yang utuh terhadap persoalan dan memiliki peluang nyata untuk diwujudkan.
“Rekomendasi itu tidak sekadar usulan. Kita harus paham persoalannya, paham solusinya, dan yakin bahwa solusi itu bisa dicapai. Jangan sampai merekomendasikan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tanggung jawab NU tidak hanya terbatas kepada warga nahdliyin, tetapi juga mencakup bangsa, negara, dan peradaban dunia. Karena itu, rekomendasi yang dihasilkan Munas-Konbes diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat secara luas.
“NU bukan hanya untuk NU. NU juga hadir untuk masyarakat, bangsa, negara, dan kemanusiaan secara keseluruhan,” pungkasnya.

2 jam yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·