Gus Ghofur Paparkan Lima Poin Utama dalam Draf Piagam Keulamaan NU

2 jam yang lalu 2

Rembang, NU Online

Nahdlatul Ulama (NU) tengah menyusun dokumen strategis berupa Piagam Nilai-Nilai Keulamaan menjelang Muktamar ke-35 NU mendatang.


Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), menyampaikan bahwa draf piagam tersebut memuat lima pilar utama yang akan menjadi pedoman prinsipil keulamaan di lingkungan NU.


“Nah, di Muktamar ke-35 yang akan datang, sudah ada draf tentang Piagam Ulama. Ada poin-poin di dalam piagam tersebut: ada ruhaniyahnya, ada ilmunya, ada kebangsaannya, ada jam’iyyahnya, ada alamiyahnya,” jelasnya saat memberikan pemantik dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di Auditorium Gedung KH Maimoen Zubair, STAI Al-Anwar Sarang, Rembang, Selasa (9/6/2026).


Gus Ghofur kemudian menguraikan satu per satu lima dimensi yang termuat dalam draf piagam tersebut.


Pada aspek ruhaniyah, ia menekankan pentingnya pancaran spiritualitas seorang ulama yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.


“Jadi ruhaniyah-nya, itu nilai yang paling tinggi di antaranya itu. Kira-kira cara bahasa kita itu ya kalau Pak Prabowo salaman itu terasa kalau salaman dengan ulama,” ungkapnya.


Menurutnya, dimensi ruhaniyah merupakan karakter mendasar yang harus melekat pada diri seorang ulama sehingga kehadirannya mampu menghadirkan keteduhan dan kewibawaan spiritual di tengah umat.


Pada dimensi keilmuan, Gus Ghofur menegaskan pentingnya kapasitas intelektual, penguasaan khazanah keislaman, khususnya kitab kuning, serta ketepatan dalam berfatwa. Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan tashawwur, yakni memahami dan memetakan persoalan secara utuh sebelum memberikan jawaban hukum.


“Kemudian ada dimensi keilmuan. Termasuk ilmu yatafarra’u ‘an tashawwurihi. Nah, kemampuan tashawwur ini juga harus dikonsep,” terangnya.


Menurut Gus Ghofur, piagam ini penting untuk memastikan standar keilmuan para pengurus Syuriyah di berbagai daerah tetap terjaga, terutama di wilayah yang tradisi pesantrennya tidak sekuat daerah-daerah sentra pesantren seperti Sarang dan Sedan.


Selanjutnya, pada dimensi kebangsaan, draf piagam merumuskan pandangan dan komitmen ulama NU terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.


“Kemudian kebangsaan, itu juga butuh konsep tentang kebangsaan sebagai ulama, dan lain sebagainya,” ujarnya.


Ia menegaskan bahwa dimensi kebangsaan memerlukan konsep yang jelas mengenai bagaimana ulama mengejawantahkan nilai-nilai agama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Sementara itu, dimensi jam’iyyah mengatur tata kelola organisasi, kemandirian lembaga, serta independensi kiai dalam struktur NU agar terhindar dari pragmatisme birokrasi maupun kepentingan sesaat.


Dalam konteks ini, Gus Ghofur mengenang pesan KH Maimoen Zubair yang menekankan pentingnya menjaga marwah proses pemilihan pemimpin tertinggi di lingkungan Syuriyah.


Ndudohno nek kiai niku wayah niki gak oleh dipanitiani. Kalah gak popo, sing penting wis nekani kewajiban. (Menunjukkan bahwa kiai saatnya tidak boleh dipanitiai atau diintervensi urusan logistik kepanitiaan. Kalah tidak apa-apa, yang penting sudah menjalankan kewajiban),” jelasnya.


Adapun pada dimensi alamiyah, Gus Ghofur menjelaskan bahwa poin tersebut berkaitan dengan kiprah, respons, dan posisi strategis NU dalam menghadapi berbagai isu global.


“Terus ada alamiyah-nya, bahwa karena NU itu tidak hanya soal internal, tetapi juga soal di luar. Alamiyah itu yang seperti apa? Saya sudah bilang ke Gus Yahya, apakah alamiyah itu maksudnya harus berkawan dengan siapa, Donald Trump? Atau harus berkawan seperti apa yang disebut sebagai alamiyah?” ujarnya.


Menurutnya, sebagai organisasi Islam terbesar, NU kerap dimintai pandangan dan sikap terhadap berbagai persoalan geopolitik internasional. Karena itu, aspek alamiyah perlu dirumuskan secara matang agar menjadi pedoman yang jelas bagi NU dalam menyikapi dinamika global.


Gus Ghofur menilai, melalui Piagam Nilai-Nilai Keulamaan, NU berupaya memperkuat fondasi karakter ulama yang tidak hanya unggul dalam spiritualitas dan keilmuan, tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan, tanggung jawab organisasi, serta wawasan global yang memadai.

Baca Artikel Selengkapnya