Rembang, NU Online
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, memberikan catatan terhadap draf Piagam Nilai-Nilai Keulamaan Nahdlatul Ulama yang merangkum 9 bab dan 55 pasal. Ia menilai dokumen tersebut masih memiliki celah penting karena belum secara eksplisit memasukkan sifat kasih sayang sebagai syarat dasar keulamaan.
"Syarat yang belum saya baca di sini adalah sifat kasih sayang kepada umat. Di sini belum ada, ‘laqad ja'akum’. Padahal itu menjadi dasar daripada keulamaan," ujarnya dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di Auditorium Gedung KH Maimoen Zubair, STAI Al-Anwar Sarang, Rembang, Selasa (9/6/2026).
Menurut Kiai Ubaid, sifat kasih sayang semestinya menjadi fondasi utama karakter keulamaan agar peran ulama benar-benar terwujud di tengah masyarakat.
"Tanpa ada dasar kasih sayang, peran ulama tidak mungkin betul-betul bisa terwujud di tengah-tengah masyarakat," lanjutnya.
Kasih sayang yang dimaksud bukan sekadar konsep teoritis, melainkan perwujudan dari misi kenabian yang termaktub dalam Al-Qur'an.
"Maka kalau Nabiyullah itu wa ma arsalnaka illa rahmatan lil 'alamin. Dasar seorang ulama adalah memiliki kasih sayang kepada umat manusia, sebagaimana firman Allah: Laqad ja'akum rasulun min anfusikum 'azizun 'alaihi ma 'anittum harisun 'alaikum bil mukminina ra'ufur rahim," terang Kiai Ubaid.
Ia menjelaskan, ruh kasih sayang itulah yang melahirkan keprihatinan, perhatian, dan ketulusan untuk menuntun manusia dari kesesatan menuju cahaya ilmu, sekaligus mengentaskan masyarakat dari berbagai bentuk penindasan dan kesulitan hidup.
"Rahmat itu berarti membimbing manusia dari kesesatan menuju terang keilmuan. Rahmat juga berarti mengentaskan mereka dari penindasan, kemiskinan, dan berbagai persoalan lainnya. Karena itu, harus ada dasar kasih sayang," ujarnya.
Berangkat dari prinsip kasih sayang universal tersebut, Kiai Ubaid mengingatkan bahwa ulama bukan milik kelompok tertentu, elite birokrasi, atau lingkaran keluarga saja. Ulama harus hadir untuk semua kalangan, termasuk mereka yang berada di pinggiran sosial maupun spiritual.
"Ulama bukan hanya milik Nahdliyin saja. Bahkan ulama juga milik ahli maksiat, karena merekalah yang lebih membutuhkan kasih sayang agar bisa keluar dari kemaksiatannya," ungkapnya.
Selain itu, kata Kiai Ubaid, ulama wajib hadir di garda terdepan saat masyarakat menghadapi persoalan nyata. Kehadiran ulama tidak boleh berjarak dari realitas sosial, melainkan harus memberi pengayoman ketika warga dilanda bencana maupun konflik.
"Bukan berarti kiai harus menyelesaikan semuanya sendiri, tetapi setidak-tidaknya bagaimana bisa mendamaikan umat dengan rasa kasih sayangnya," tegasnya.
Di akhir pemaparannya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen itu juga menyinggung kapasitas intelektual seorang ulama. Menurutnya, ulama ideal adalah al-mutafanninu fil ulum, yakni menguasai berbagai disiplin ilmu.
"Maka dari sisi ilmu, ulama itu harus al-mutafanninu fil ulum. Di pesantren mungkin tidak semua menguasai ilmu teknik atau pertanian, dan di kampus mungkin tidak semua menguasai ilmu syariat. Karena itu, dibutuhkan saling melengkapi," ujarnya.
Kiai Ubaid menilai, di situlah letak keunggulan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Karena tidak mungkin seseorang menguasai seluruh bidang ilmu sendirian, NU menjadi wadah yang menghimpun para ulama dengan beragam keahlian. Dengan demikian, tanggung jawab keumatan yang luas dapat dipikul secara kolektif dan komunal.

2 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·