Merayakan Kelulusan dengan Cara yang Lebih Bernafaskan Pendidikan

1 minggu yang lalu 9

Fenomena perayaan kelulusan sekolah akhir-akhir ini semakin ramai di media sosial. Mereka merayakannya dengan berjoget bersama, mengikuti gaya yang sedang tren di media, lalu membuat video dengan musik jedag-jedug.

Tidak hanya itu, dalam perayaannya sebagian dari mereka mengenakan pakaian ketat yang jauh dari nilai kesopanan, campur baur laki-laki dan perempuan, kemudian foto dan video dari perayaan tersebut diunggah ke media sosial masing-masing.

Di satu sisi, merayakan hari kelulusan merupakan sesuatu yang wajar sebagai tanda berakhirnya perjuangan di bangku sekolah. Tetapi di sisi yang lain, perayaan-perayaan semacam ini kadang mempertanyakan apakah pendidikan yang dijalani benar-benar berhasil membentuk pelajar yang matang secara ilmu, akhlak, dan cara berpikir?

Merayakan Hari Kelulusan Sekolah

Disadari atau tidak, lulus dari sekolah atau berhasil menempuh pendidikan merupakan salah satu nikmat besar dari Allah yang tidak dapat diperoleh oleh semua orang. Karena nikmat, tentu saja wajib disyukuri sebagai bentuk terima kasih atas pertolongan-Nya.

Oleh sebab itu, tidak heran ketika para siswa dan siswi sudah lulus dari sekolahnya masing-masing, banyak dari mereka yang merayakan kelulusannya dengan berbagai perayaan, sebagai bentuk syukur kepada Allah dan untuk menampakkan keberhasilan tersebut kepada orang lain. Perayaan ini, jika meminjam istilah-istilah “madrasah” dan “pesantren”, dikenal dengan istilah “tasyakkuran”, yaitu acara perayaan di setiap akhir tahun atas kelulusan para santri.

Hal ini sesuai dengan salah satu firman-Nya dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya, “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11).

Mengutip penjelasan Imam Ibnu Ajibah al-Hasani, maksud frasa “fa ḫaddits, atau nyatakanlah” pada ayat di atas memiliki makna yang sangat luas, mencakup mensyukuri nikmat itu sendiri, menyebarkannya, dan menampakkan bekas nikmat tersebut dalam kehidupan nyata. Dan di antara nikmat yang masuk dalam cakupan ayat ini adalah belajar ilmu dan Al-Qur’an.

Dengan kata lain, orang yang sudah menyelesaikan masa pendidikan di sekolah sejatinya sedang memperoleh nikmat besar dari Allah swt berupa nikmat belajar, maka merayakannya di akhir masa pendidikannya merupakan anjuran sebagai bentuk syukur atas nikmat tersebut. Simak penjelasannya berikut ini:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ، بِشُكْرهَا وَإِشَاعتِهَا وَإظْهَارِ آثارِهَا يَرُدُّ مَا أَفَاضَهُ الله تَعَالىَ عَلَيْهِ مِنْ فُنُوْنِ النِّعَمِ، الَّتِي مِنْ جُمْلَتِهَا الْمَعْدُوْدَةُ وَالْمَوْعُوْدَةُ وَالنُّبُوَّة الَّتِي آتاهُ اللهُ تَأْتِي عَلىَ جَمِيعِ النِّعَمِ، وَيَدخلُ فِي النِّعمِ تَعَلُّم الْعِلْمِ وَالْقُرآن

Artinya, “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur), yaitu dengan mensyukurinya, menyebarluaskannya, dan menampakkan dampaknya. Hal ini mencakup segala jenis nikmat yang Allah limpahkan, yang di antaranya adalah nikmat yang terhitung, yang dijanjikan, dan kenabian yang Allah berikan, yang semuanya melebihi seluruh nikmat. Dan termasuk ke dalam nikmat-nikmat tersebut adalah mempelajari ilmu dan Al-Qur’an.” (Al-Bahrul Madid fi Tafsiril Qur’anil Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2002 M], jilid VII, halaman 319).

Namun, syukur di sini tidak boleh hanya dipahami sebagai upaya lisan untuk mengatakan “alhamdulillah”, apalagi tawa huru-hara dan joget bersama-sama dengan pakaian yang kurang sopan, melainkan kesadaran bahwa pengetahuan yang diperoleh di sekolah merupakan amanah yang harus dijaga dan diamalkan.

Maka benar apa yang disampaikan oleh Syekh Abul Hasan al-Mubarakfuri, bahwa mensyukuri nikmat itu adalah mengakui dengan tulus bahwa Allah-lah satu-satunya pemberi nikmat, disertai kesadaran bahwa seluruh nikmat bersumber dari-Nya. Dan syukur bisa mencapai kesempurnaan ketika mereka yang mendapatkan nikmat mampu menunaikannya sesuai dengan hal yang diridhai oleh-Nya.

Berkaitan dengan penjelasan tersebut, simak penjelasannya berikut ini:

الشُّكْرُ هُوَ الاِعْتِرَافُ بِالْمُنْعِمِ الْحَقِيقِ، وَرُؤْيَةُ كُلِّ النِّعَمِ دَقِيقِهَا وَجَلِيلِهَا مِنْهُ، وَكَمَالُهُ أَنْ يَقُومَ بِحَقِّ النِّعَمِ وَيَصْرِفَهَا فِي مَرْضَاةِ الْمُنْعِمِ

Artinya, “Syukur adalah mengakui Pemberi nikmat yang sebenarnya, serta melihat setiap nikmat, baik yang kecil maupun yang besar, berasal dari-Nya. Dan kesempurnaan (syukur) adalah dengan menunaikan hak-hak nikmat tersebut serta menggunakannya untuk mencari keridhaan Pemberi nikmat.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, [India: Idaratul Buhuts al-Ilmiah, 1404 H], jilid VIII, halaman 149).

Oleh sebab itu, seorang siswa atau siswi yang sudah dianugerahi kesempatan untuk belajar, waktu, tenaga, hingga mampu menyelesaikan pendidikan di sekolahnya selama bertahun-tahun, merupakan nikmat besar dari Allah yang harus disyukuri dan dipertanggungjawabkan dengan cara yang benar, serta merepresentasikannya sesuai dengan hal-hal yang seirama dengan pendidikan itu sendiri.

Sebab, merayakan kelulusan sekolah dengan cara yang tidak bernapaskan pendidikan merupakan cermin dari kegagalan dalam mensyukuri nikmat itu sendiri. Di Indonesia memang tidak ada larangan untuk mengekspresikan kelulusan dengan cara apa saja, tetapi ketika hal itu kontraproduktif terhadap nafas pendidikan, tentu saja ini sangat berlebihan.

Lantas, seperti apa perayaan yang tidak berlebihan dan tetap bernapaskan pendidikan? Berikut poin-poinnya:

Pertama, pakaian yang digunakan mencerminkan kesopanan, sebab pendidikan selalu mengajarkan etika dalam berpenampilan, misalnya dengan menutup aurat, dan tidak menggunakan pakaian ketat yang dapat mengundang perhatian negatif dari orang lain.

Kedua, tidak ada ikhtilath (campur baur) yang melampaui batas. Perayaan bersama boleh-boleh saja, tetapi tetap saja ada batas-batas demi menjaga kehormatan masing-masing pihak, sekaligus agar tidak masuk dalam campur baur yang diharamkan, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, dalam kitabnya mengatakan:

اخْتِلاَطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهم فَإِنَّهُ حَرامٌ وَفسقٌ

Artinya, “Campur baur laki-laki dan perempuan dengan saling bersentuhan badan-badan mereka, maka sesungguhnya itu adalah haram dan fasik.” (Hasyiyah I’anah at-Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, 1997 M], jilid I, halaman 313).

Ketiga, terdapat momen untuk mengungkapkan rasa terimakasih kepada guru. Poin ketiga ini menjadi sangat penting dalam perayaan kelulusan, karena kelulusan dan keberhasilan seorang siswa dan siswi tidak lepas dari bimbingan dan ajaran dari seorang guru, maka mengadakan momen seperti ini menjadi sesuatu yang sangat penting saat merayakan kelulusan.

Selain itu, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk senantiasa membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang sama atau setara dengannya, dan jika tidak mungkin, maka berterima kasih menjadi balasannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadits, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا مَا تُكَافِئُوْنَهُ بِهِ فَأَثْنُوْا عَلَيْهِ حَتَّى تَعْلَمُوْا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوْهُ

Artinya, “Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka pujilah dia hingga kamu merasa telah membalasnya.” (HR. Al-Baihaqi).

Keempat, yang tidak kalah penting dari semua itu adalah mengadakan acara doa bersama, dengan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menjadikan ilmu yang diperoleh selama masa belajar menjadi ilmu yang bermanfaat, berkah, dan bisa senantiasa menjadi pembimbing bagi diri setiap pemiliknya.

Demikian tulisan keislaman tentang fenomena perayaan kelulusan sekolah yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di media sosial. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan edukasi dan renungan, khususnya bagi para pelajar yang baru saja menyelesaikan pendidikannya, agar kegembiraan yang dirasakan benar-benar terwujud dalam bentuk yang mencerminkan nilai-nilai ilmu yang telah dipelajari. Wallahu a’lam bisshawab.

Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya