Kultum Ramadhan: Puasa, Momentum Mempererat Ikatan Keluarga

1 bulan yang lalu 23

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dipenuhi keberkahan. Pada bulan ini, sangat dianjurkan bagi kita selaku umat Islam untuk mengisinya dengan kebaikan dan amal saleh. Pun di bulan Ramadhan pula, biasanya menjadi momen bagi keluarga untuk sering berkumpul bersama. Oleh karenanya, Ramadhan menjadi momen yang sangat tepat bagi keluarga untuk menjaga keharmonisan keluarganya tetap baik.  

Dalam praktiknya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga kebersamaan keluarga terutama di momen Ramadhan yang mulia ini. Sebab orang tua pada dasarnya merupakan pusat bagi anak-anaknya dan yang bertanggung jawab untuk menjaga keharmonisan di dalam keluarga. 

Rasulullah Saw bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 

Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya". (HR. Imam Bukhari).

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini, menjaga keharmonisan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab setiap keluarga, terutama pihak orang tua. Dengan menjaganya tetap utuh, maka sebuah keluarga akan menjadi satu kesatuan yang kokoh dan tidak mudah tergoyahkan.

Tips Menjaga Keharmonisan Keluarga di Bulan Ramadhan

Sebagai agama, Islam sangat menganjurkan kepada setiap keluarga untuk menjaga keharmonisan di dalam hubungan kekeluargaannya. Dalam praktiknya, di antara upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga ialah dengan memanfaatkan waktu bersama keluarga dengan baik terlebih di bulan Ramadhan yang mulia ini. 

Lebih spesifiknya, berikut penulis hadirkan dua tips agar sebuah keluarga bisa memanfaatkan waktu bersama dengan baik di bulan Ramadhan yang mulia ini:

Pertama, melakukan obrolan ringan keluarga pada momen berkumpul. 
Sejatinya, momen Ramadhan, biasanya terdapat beberapa waktu khusus, berkumpul bersama keluarga, semisal waktu berbuka puasa dan sahur. 

Dua waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan obrolan ringan. Percakapan bersama bisa membantu menjaga komunikasi tetap baik, karena komunikasi merupakan pondasi utama dalam hubungan kekeluargaan.

Komunikasi yang baik dengan  keluarga, merupakan teladan yang dicontohkan langsung  oleh Nabi Muhammad Saw. Pasalnya, Nabi senantiasa berbuat baik dan lembut kepada keluarganya. Rasulullah bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ

Artinya: “Kaum mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang memiliki akhlak yang baik dan bersikap lembut terhadap keluarganya”. (HR. Turmudzi)

Kedua, melakukan aktivitas bersama keluarga pada momen Ramadhan. 

Tips selanjutnya agar sebuah keluarga bisa memanfaatkan waktu bersama ialah dengan mencoba aktivitas bersama. Semisal mengadakan kajian Ramadhan bersama keluarga, buka bersama keluarga besar atau aktivitas baik lainnya. 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penting bagi sebuah keluarga terutama pihak orang tua untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Al-Ghazali mengibaratkan seseorang yang lari dari tanggung jawabnya terhadap keluarga dan tidak melaksanakan kewajibannya disamakan dengan seorang budak yang kabur dari majikannya.

Dalam hal ini, di antara tugas sebuah keluarga terlebih kedua orang tua dan anak-anaknya ialah menjaga keharmonisan keluarga dengan baik. Momen Ramadhan ini, bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menjaga kehangatan keluarga. Dengan melakukan aktivitas bersama, maka sebuah keluarga diharapkan memiliki hubungan yang erat dan kokoh.

Simak penjelasan Al-Ghazali berikut:

وَفِيْ هَذَا أَيْضًا خَطَرٌ لِأَنَّهُ رَاعٍ وَمَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُوْلُ وَرُوِيَ أَنَّ الْهَارِبَ مِنْ عِيَالِهِ بِمَنْزِلَةِ الْعَبْدِ الْهَارِبِ الْآبِقِ لَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ وَلَا صِيَامٌ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ وَمَنْ يَقْصُرْ عَنِ الْقِيَامِ بِحَقِّهِنَّ وَإِنْ كَانَ حَاضِرًا فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ هَارِبٍ 

Artinya: “Dalam hal ini terdapat bahaya, sebab setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia pimpin. Rasulullah Saw bersabda: orang yang menyia-nyiakan keluarganya adalah orang yang berdosa.

Diriwayatkan bahwa orang yang lari dari tanggung jawabnya terhadap keluarganya diibaratkan seorang budak yang kabur dari majikannya. Shalat dan puasanya tidak akan diterima hingga ia kembali menjalankan kewajibannya. Orang yang tidak bertanggung jawab terhadap hak-hak pasangannya meski ia nampak dan memiliki wujud maka ia diibaratkan seorang budak yang lari dari majikannya. (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah, tt], juz II hal 33).

Ketiga, menyiapkan takjil berbuka untuk orang berpuasa bersama. 

Tips selanjutnya yang bisa dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga di bulan Ramadhan ialah dengan menyiapkan takjil untuk orang yang akan berbuka puasa. Selain menjaga hubungan kekeluargaan menjadi semakin dekat, pahalanya juga dilipatgandakan. 

Rasulullah bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنِّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga. (HR Tirmidzi)

Keempat, melaksanakan shalat berjamaah bersama keluarga. Kegiatan berikutnya yang bisa dijadikan hal yang positif bagi hubungan keluarga di bulan Ramadhan ialah dengan melaksanakan shalat berjamaah bersama keluarga. 

Nabi bersabda;

 صلاةُ الجماعةِ تَفضُلُ صلاةَ الفذِّ بِخمسٍ وعِشرينَ دَرَجةً

Artinya; “Shalat jamaah lebih baik dari pada shalat sendirian dengan pahala 27 derajat’.” (HR. Bukhari).

Kesimpulannya, menjaga keharmonisan keluarga merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang sangat penting dilakukan. Dengan menjaga keharmonisan keluarga, maka diharapkan ikatan kekeluargaan akan erat dan kokoh. Momen Ramadhan seperti sekarang, menjadi momen yang sangat tepat untuk mengokohkan ikatan keluarga tersebut dengan membersamai keluarga terutama kedua orang tua.

------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu

Baca Artikel Selengkapnya