Jakarta, NU Online
Pengamat Sosial-Politik Fachry Ali mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengkaji Nahdlatul Ulama (NU) berawal dari perjumpaannya dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1979. Saat itu, Gus Dur memperkenalkannya pada laporan penelitian antropolog Jepang, Mitsuo Nakamura, yang mengulas Muktamar NU di Semarang. Dari bacaan itulah Fachry mulai melihat NU bukan sekadar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, melainkan sebuah lapangan akademik yang kaya, tetapi belum banyak digarap para peneliti.
Hal itu disampaikan Fachry dalam program Menjadi Indonesia episode ke-46 yang dipandu Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan dan ditayangkan di kanal YouTube NU Online pada Jumat (17/7/2026).
Menjawab pertanyaan mengenai awal persinggungan intelektualnya dengan NU, Fachry mengatakan bahwa semua bermula dari Gus Dur yang saat itu menjadi konsultan program pesantren di LP3ES.
"Itu semua karena Kiai Abdurrahman Wahid. Sekitar tahun 1979 saya sudah menulis di Harian Kompas. Waktu itu beliau datang kepada saya dan bertanya apakah saya sudah membaca tulisan Mitsuo Nakamura. Saya jawab belum, lalu beliau memberikannya kepada saya," kenangnya.
Setelah membaca laporan penelitian tersebut, Fachry mengaku menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatian banyak kalangan akademik.
"Ketika saya baca, saya kemudian melihat bahwa NU dan kaum Nahdliyin secara keseluruhan merupakan lapangan akademik yang sangat menarik, tetapi belum banyak dilihat orang," ujarnya.
Menurut Fachry, hingga akhir 1970-an perhatian akademisi terhadap Islam Indonesia masih lebih banyak diarahkan kepada kelompok modernis. Ia mencontohkan disertasi Deliar Noer di Cornell University yang membahas gerakan Islam modern di Indonesia. Dalam karya tersebut, NU memang disebut, tetapi hanya sepintas.
"Dia menyinggung NU secara sepintas lalu. Dia belum melihat NU sebagai sebuah lapangan akademik yang menarik," katanya.
Fachry menjelaskan bahwa sebagian ilmuwan yang berpijak pada pendekatan rasional dan positivistik kala itu memandang kelahiran NU sebagai gejala yang sulit dipahami. Mereka melihat berdirinya NU hanya sebagai respons terhadap gerakan reformis Islam yang berkembang di Timur Tengah, terutama berkaitan dengan penghormatan terhadap makam para ulama.
"Buat kaum positivistik itu kan aneh. Kok organisasi dibangun karena soal makam," ujarnya.
Menurutnya, cara pandang tersebut terlalu menyederhanakan sejarah NU sehingga gagal menangkap dinamika sosial, budaya, dan keagamaan yang melatarbelakangi lahirnya organisasi tersebut.
Fachry kemudian menyinggung karya antropolog Clifford Geertz yang dinilainya memberikan perspektif teoritis lebih mendalam mengenai posisi kiai di tengah masyarakat. Meski Geertz lebih banyak menulis tentang kiai daripada NU secara langsung, ia memperkenalkan konsep yang hingga kini masih digunakan Fachry, yakni kiai sebagai cultural broker.
Ia menjelaskan, Geertz melihat masyarakat pedesaan tidak mudah memahami konsep negara modern atau nation-state. Dalam imajinasi masyarakat saat itu, negara masih dipahami seperti kerajaan. Karena itu, diperlukan figur yang mampu menjembatani pemahaman masyarakat terhadap sistem kenegaraan modern.
"Yang menjadi penghubung budaya antara fenomena baru berupa negara modern dengan masyarakat itu adalah para kiai. Makanya muncul frasa kiai as cultural broker. Sampai sekarang saya masih menggunakan istilah itu," katanya.
Meski demikian, Fachry menilai perhatian akademik terhadap NU baru benar-benar berkembang setelah muncul sejumlah penelitian penting pada dekade berikutnya.
Berbekal inspirasi dari tulisan Mitsuo Nakamura, ia mulai melakukan kajian mengenai NU sekaligus aktif menulis di Harian Kompas.
"Saya kira sayalah yang paling banyak menulis tentang NU di Harian Kompas. Waktu itu saya bisa menulis lima artikel berturut-turut mengenai NU," tuturnya.
Fachry mengatakan, berkembangnya kajian mengenai NU dan pesantren tidak lepas dari peran LP3ES. Menurutnya, lembaga tersebut memandang pembangunan masyarakat pedesaan hanya dapat berhasil apabila melibatkan aktor yang diterima secara sosial maupun budaya oleh masyarakat. Dari sinilah pesantren mulai dipandang sebagai institusi penting dalam pembangunan.
Selain LP3ES, Dawam Rahardjo juga dinilai memiliki kontribusi besar melalui penelitian mengenai pesantren yang kemudian dihimpun dalam buku Pesantren dan Pembaharuan. Buku tersebut memuat tulisan sejumlah intelektual Muslim, termasuk Gus Dur dan Nurcholish Madjid, sehingga memperluas perhatian kalangan akademisi terhadap dunia pesantren.
Fachry juga menilai disertasi Zamakhsyari Dhofier yang diterbitkan dengan judul Tradisi Pesantren sebagai tonggak penting dalam perkembangan studi pesantren di Indonesia.
"Menurut saya, karya Zamakhsyari Dhofier kurang sekali diapresiasi orang. Padahal sejak itulah perhatian terhadap dunia pesantren semakin kuat di kalangan generasi muda. Saya salah satu yang masuk ke sana," katanya.
Semakin intens menulis mengenai NU, Fachry mengaku pernah mendapat komentar dari seorang rekannya yang mempertanyakan kekagumannya terhadap organisasi tersebut.
"Dia bilang, 'Kamu kenapa sih kok kagum kepada NU? Kagum sama NU itu seperti melihat pohon. Pohon itu kan semuanya hijau, sudah dianggap biasa saja.' Justru saya melihat di situlah menariknya NU," ujarnya sambil tertawa.
Fachry kembali mengenang kedekatannya dengan Gus Dur. Ia mengatakan, pada masa itu dirinya belum memanggil Abdurrahman Wahid dengan sebutan "Kiai", melainkan "Cak Dur", sebagaimana ia memanggil Nurcholish Madjid dengan sebutan "Cak Nur", karena merasa berasal dari generasi yang lebih muda.
Meski banyak dipengaruhi pemikiran Gus Dur, Fachry menegaskan dirinya tidak pernah kehilangan sikap kritis.
"Pertemuan saya dengan Abdurrahman Wahid itulah yang membawa saya sejak 1979 ke NU. Saya memang sangat dipengaruhi oleh apa yang beliau katakan, tetapi belum tentu semuanya saya terima. Saya juga kadang-kadang kritis kepada beliau," ungkapnya.

8 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·