Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Donald Trump mengeklaim Amerika Serikat (AS) telah menjadi 'Malaikat Pelindung' bagi kapal-kapal di Selat Hormuz. Karenanya, AS boleh jika menarik tarif di jalur perdagangan vital tersebut.
Dalam pernyataan di Truth Social pada Sabtu (20/6), Trump mulanya mengatakan Selat Hormuz tidak akan dikenakan biaya apa pun selama 60 hari periode gencatan senjata AS-Iran.
Setelah periode itu pun, Trump memastikan jalur maritim itu tetap akan gratis. Selat Hormuz, kata Trump, cuma akan dipatok tarif jika Amerika Serikat menginginkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak akan ada biaya tol di Selat Hormuz selama 60 hari periode Gencatan Senjata, dan setelah periode 60 hari berakhir. Kecuali, jika biaya tol tersebut dikenakan oleh dan untuk Amerika Serikat, apabila kepakatan damai tidak tercapai, untuk mengganti biaya di masa lalu, sekarang, dan masa depan atas jasa kami menjadi Malaikat Pelindung bagi negara-negara Timur Tengah," tulis Trump, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan Trump ini membantah komentar Iran sebelumnya bahwa Selat Hormuz akan dikenakan tarif setelah periode 60 hari bebas tol usai. Teheran menyatakan selat tersebut berada di bawah kendalinya dan rencana negara-negara Eropa mengawal kapal-kapal di selat tidak akan diterima.
Sejak perang meletus pada 28 Februari, Iran mengambil kendali Selat Hormuz dengan menutupnya dan mengakibatkan ratusan kapal tanker minyak berbagai negara tersendat. Penutupan itu berulang kali menyebabkan harga minyak dunia meroket tajam hingga negara-negara Barat memutuskan turun mengamankan kapal-kapal yang terjebak.
Setelah meneken kesepakatan damai dengan AS pada Rabu (17/6), Iran akhirnya membuka Selat Hormuz. Menurut analis minyak Matt Smith, lalu intas kapal di Selat Hormuz pada Kamis (18/6) merupakan yang tertinggi sejak pertengahan April, ketika Iran sempat membuka selat. Data perusahaan intelijen maritim Kpler mencatat ada 25 kapal melintasi jalur tersebut pada Kamis.
Namun, menurut Smith, jumlah itu masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan 100-120 kapal tanker yang melintas setiap hari sebelum perang.
Pada Sabtu (20/6), setelah perundingan teknis AS-Iran yang dijadwalkan di Swiss batal, militer Iran mengumumkan menutup kembali Selat Hormuz. Penutupan dilakukan sebagai respons atas serangan Israel terhadap Lebanon.
Berdasarkan kesepakatan, semua pertempuran harus dihentikan, termasuk di Lebanon. Namun, faktanya, Israel masih terus menyerang Lebanon setelah nota kesepahaman damai diteken.
Pada Minggu (21/6), Trump mengatakan kepada Fox News bahwa ia telah mengeluarkan peringatan langsung kepada Iran jika berani menutup kembali Selat Hormuz.
"Jika kalian menutupnya, kalian tidak akan punya negara. Kalian tidak akan bisa kembali ke negara kalian yang terkutuk itu," kata Trump.
Trump juga mengatakan 20 persen dari total minyak yang melintasi Selat Hormuz akan diambil oleh AS jika Iran macam-macam. Ia menambahkan hal itu bisa dilakukan karena AS menjadi "Malaikat Pelindung" di jalur tersebut.
"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami (juga) akan memungut biaya tol," lanjut Trump.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·