Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 70: Berkata Benar di Era Media Sosial

6 jam yang lalu 3

Barangkali tidak pernah ada zaman yang membuat manusia begitu mudah berbicara selain hari ini. Dahulu, sebuah kabar harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Orang menyampaikannya dari mulut ke mulut. Dari pasar ke pasar. Dari warung kopi ke gardu ronda. Bahkan sebuah gosip pun membutuhkan waktu untuk menemukan telinganya sendiri.
 

Karena bergerak lambat, sebuah kabar masih memiliki kesempatan untuk diperiksa. Orang masih sempat bertanya, “Benarkah demikian?” atau “Siapa yang mengatakannya?”
 

Hari ini semuanya berubah. Satu telepon genggam di tangan lebih berisik daripada satu kampung pada masa lalu. Satu unggahan dapat menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit. Satu potongan video mampu mengubah seseorang menjadi pahlawan atau penjahat dalam semalam.
 

Yang benar menyebar. Yang salah juga menyebar. Masalahnya, kebohongan sering kali berlari lebih cepat daripada kebenaran. Kita menyaksikannya hampir setiap hari. Sebuah video dipotong beberapa detik, lalu diberi judul yang memancing kemarahan. 
 

Ribuan orang membagikannya tanpa merasa perlu memeriksa asal-usulnya. Sebuah foto direkayasa sedemikian rupa hingga tampak meyakinkan. Dalam beberapa jam, nama baik seseorang runtuh. Belakangan diketahui bahwa kabar itu tidak benar. Namun semuanya sudah terlambat.
 

Klarifikasi jarang mendapat panggung sebesar fitnah. Yang lebih memprihatinkan, tidak sedikit semua itu dilakukan atas nama kebaikan. Ada yang merasa sedang membela agama ketika mempermalukan saudaranya sendiri di ruang publik. Ada yang menganggap dirinya sedang berjihad ketika menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya. Ada pula yang merasa sedang menjalankan amar makruf nahi mungkar ketika sibuk membongkar aib orang lain.​​​​​​​
 

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan bahwa tujuan yang baik dapat dicapai dengan cara yang buruk. Kebenaran tidak membutuhkan kebohongan untuk membelanya. Agama tidak memerlukan fitnah untuk ditegakkan.
 

Di sinilah Al-Qur'an memberikan pelajaran yang sangat penting. Jauh sebelum manusia mengenal media sosial, algoritma, dan ruang digital, Al-Qur'an telah meletakkan satu prinsip yang menjadi fondasi seluruh etika komunikasi, yaitu anjuran untuk bertakwa dan berkata yang benar. Allah swt berfirman:
 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
 

Menariknya, Allah tidak mendahulukan perintah berkata benar. Ayat ini justru diawali dengan perintah bertakwa, kemudian diikuti perintah mengucapkan qaulan sadīdan. Susunan ini bukan tanpa makna. Seakan-akan Al-Qur'an hendak mengingatkan bahwa lisan hanyalah juru bicara dari hati. Apa yang keluar dari mulut seseorang pada hakikatnya merupakan cerminan dari apa yang tersimpan di dalam dadanya.​​​​​​​
 

Karena itu, perkataan yang lurus tidak mungkin lahir dari hati yang dipenuhi kebencian, kedengkian, kesombongan, dan prasangka buruk. Kejujuran lisan merupakan buah dari ketakwaan. Seseorang boleh memiliki pengetahuan yang luas. Ia boleh menguasai retorika yang memukau. Ia boleh hafal ratusan dalil. Namun ketika ketakwaan mulai memudar, lisannya dapat berubah menjadi senjata yang melukai sesama.
​​​​​​​

Karena itulah para mufasir tidak memahami ayat ini sekadar sebagai larangan berdusta. Mereka melihatnya sebagai pedoman moral yang jauh lebih luas, yaitu bagaimana ketakwaan harus menjelma menjadi kebaikan tindakan dan kebenaran ucapan.
 

Pemahaman tersebut dijelaskan secara menarik oleh Imam Fakhruddin ar-Razi:
 

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا أَرْشَدَهُمْ إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ يَصْدُرَ مِنْهُمْ مِنَ الْأَفْعَالِ وَالْأَقْوَالِ، فَأَمَّا الْأَفْعَالُ فَالْخَيْرُ، وَأَمَّا الْأَقْوَالُ فَالْحَقُّ
 

Artinya, “Allah membimbing orang-orang beriman kepada apa yang seharusnya lahir dari diri mereka berupa perbuatan dan ucapan. Dalam perbuatan yang dituntut adalah kebaikan, sedangkan dalam ucapan yang dituntut adalah kebenaran.” (Tafsir Mafatihul Ghaib, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2004, juz XXV, halaman 202).​​​​​​​
 

Penjelasan Imam Ar-Razi memberi satu pelajaran penting. Kebenaran ucapan bukan perkara kecil yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari bangunan keimanan seorang muslim. Amal saleh dan ucapan yang benar ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Yang satu menguatkan yang lain.
 

Karena itu, terasa janggal ketika seseorang begitu bersemangat membela agama, tetapi pada saat yang sama lisannya menjadi sumber fitnah, kebencian, dan permusuhan. Sulit membayangkan sebuah perjuangan menuju kebaikan ditempuh dengan cara-cara yang justru merusak nilai kebaikan itu sendiri.​​​​​​​
 

Sayangnya, ironi seperti itu bukan barang langka pada zaman sekarang. Banyak orang lebih berhati-hati menjaga citra daripada menjaga lisan. Mereka memilih pakaian terbaik ketika pergi ke masjid, tetapi tidak selalu memilih kalimat terbaik ketika berbicara tentang orang lain. Mereka menjaga wudhu sebelum shalat, tetapi tidak menjaga kehormatan saudaranya ketika menulis komentar di media sosial.​​​​​​​
 

Akibatnya, kita berhadapan dengan kenyataan yang cukup menggelisahkan. Kajian agama semakin ramai. Kutipan ayat dan hadis semakin mudah ditemukan. Ceramah dapat disaksikan dua puluh empat jam tanpa henti.​​​​​​​
 

Namun pada saat yang sama, fitnah juga semakin mudah menyebar. Ujaran kebencian semakin mudah diproduksi. Caci maki semakin sering dipertontonkan. Dan ruang digital perlahan berubah menjadi arena saling menjatuhkan.
​​​​​​​

Lalu muncul sebuah pertanyaan. Mengapa semua itu bisa terjadi?​​​​​​​
 

Barangkali karena selama ini kita terlalu sering memahami takwa sebagai urusan pribadi antara manusia dan Tuhannya. Ketika mendengar kata takwa, yang terbayang adalah shalat malam, puasa sunnah, zikir, tasbih, atau tilawah Al-Qur'an. Semua itu benar. Semua itu penting.
 

Tetapi Al-Qur'an dalam ayat ini mengingatkan bahwa takwa tidak berhenti di sajadah. Takwa juga harus hadir dalam cara seseorang berbicara. Takwa harus tampak dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Takwa harus terlihat dalam cara seseorang menggunakan lisannya.
​​​​​​​

Karena itulah para ulama tidak pernah memisahkan ketakwaan dari akhlak sosial. Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, misalnya, ketika menjelaskan hakikat takwa mengutip perkataan yang sangat terkenal dari Umar bin Abdul Aziz:
 

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: لَيْسَ تَقْوَى اللَّهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ، وَلَا بِقِيَامِ اللَّيْلِ، وَالتَّخْلِيطِ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللَّهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ، وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللَّهُ
 

Artinya: “Takwa kepada Allah bukan sekadar berpuasa pada siang hari dan mendirikan shalat malam, sementara di sela-selanya masih melakukan berbagai pelanggaran. Akan tetapi, takwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan menunaikan apa yang diwajibkan-Nya.” (Tafsir Ibni Rajab, Riyadh: Dar al-'Ashimah, tt,juz II, halaman 523).

Perkataan Umar bin Abdul Aziz ini terasa seperti ditujukan kepada masyarakat digital hari ini. Seseorang mungkin mampu mengkhatamkan Al-Qur'an berkali-kali selama Ramadhan. Ia mungkin rajin menghadiri majelis ilmu. Ia mungkin tidak pernah meninggalkan kajian daring yang diikutinya.
 

Tetapi pada saat yang sama, ia juga ikut menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Ia ikut membagikan potongan video yang menyesatkan. Ia ikut menghakimi orang lain tanpa mengetahui duduk persoalannya.​​​​​​​
 

Jika demikian keadaannya, persoalannya mungkin bukan pada media sosial. Persoalannya ada pada cara kita menggunakan media sosial. Teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Tetapi ia juga bisa menjadi kendaraan menuju keburukan. Semua bergantung pada siapa yang menggunakannya.
 

Di sinilah hubungan antara takwa dan qaulan sadīdan menjadi sangat penting. Al-Qur'an sengaja menempatkan keduanya dalam satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Sebab hati dan lisan memang tidak pernah benar-benar terpisah.


Apa yang bersemayam di dalam hati pada akhirnya akan menemukan jalannya keluar melalui ucapan. Karena itu Rasulullah saw bersabda:
 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
 

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
 

Perhatikan hadis ini. Rasulullah ajarkan: berkata baik atau diam. Dua pilihan. Tidak ada pilihan ketiga. Karena tidak semua yang diketahui harus disampaikan. Tidak semua yang benar harus diucapkan pada setiap kesempatan. Tidak semua informasi layak disebarluaskan kepada khalayak.​​​​​​​
 

Kadang-kadang diam jauh lebih dekat kepada kebijaksanaan daripada berbicara tanpa pertimbangan. ​​​​​​​
 

Dalam banyak keadaan, kematangan seseorang justru terlihat dari kemampuannya menahan diri untuk tidak berbicara. Sebab semakin besar pengaruh sebuah ucapan, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.

Hal inilah yang tampaknya ingin ditegaskan Al-Qur'an ketika menyandingkan ketakwaan dan qaulan sadīdan dalam satu ayat. Kedua-duanya bukan dua perintah yang berdiri sendiri. Keduanya saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan yang utuh.

Takwa adalah akar. Qaulan sadīdan adalah buahnya. Takwa adalah sumbernya. Qaulan sadīdan adalah pantulannya. Karena itu, kualitas ucapan seseorang sering kali menjadi ukuran paling mudah untuk melihat kualitas ketakwaannya.

Pandangan ini juga ditegaskan oleh Ibnu Asyur. Menurut ahli tafsir asal Tunisia ini, setelah Allah melarang orang-orang beriman melakukan berbagai perbuatan yang menyakiti Rasulullah saw dan memperingatkan mereka agar tidak meniru umat-umat terdahulu yang menyakiti para nabi mereka, Allah kemudian mengarahkan mereka kepada dua sumber utama seluruh kemuliaan akhlak: ketakwaan dan kebenaran ucapan. Ia menjelaskan:
 

بَعْدَ أَنْ نَهَى اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ عَمَّا يُؤْذِي النَّبِيءَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَبَأَ بِهِمْ عَنْ أَنْ يَكُونُوا مِثْلَ الَّذِينَ آذَوْا رَسُولَهُمْ، وَجَّهَ إِلَيْهِمْ بَعْدَ ذَلِكَ نِدَاءً بِأَنْ يَتَّسِمُوا بِالتَّقْوَى وَسَدَادِ الْقَوْلِ لِأَنَّ فَائِدَةَ النَّهْيِ عَنِ الْمَنَاكِرِ التَّلَبُّسُ بِالْمَحَامِدِ، وَالتَّقْوَى جِمَاعُ الْخَيْرِ فِي الْعَمَلِ وَالْقَوْلِ. وَالْقَوْلُ السَّدِيدُ مُبِثُّ الْفَضَائِلِ
 

Artinya: “Sesudah Allah melarang kaum beriman melakukan hal-hal yang menyakiti Nabi SAW serta memperingatkan mereka agar tidak meniru kaum yang telah menyakiti para rasul mereka, Allah kemudian memanggil mereka untuk berpegang teguh pada ketakwaan dan mengucapkan perkataan yang benar.
 

Sebab tujuan utama pelarangan terhadap berbagai keburukan adalah terwujudnya perilaku-perilaku terpuji. Ketakwaan mencakup seluruh aspek kebaikan, baik dalam tindakan maupun ucapan. Adapun perkataan yang benar dan lurus merupakan sarana utama yang melahirkan dan menyebarluaskan berbagai keutamaan moral.” (At-Tahrir wat Tanwir, Tunisia: Darut Tunisia lin Nasyr, 1984 M, jilid II, halaman 121).​​​​​​​
 

Penjelasan Ibnu Asyur melengkapi apa yang telah diuraikan para ulama sebelumnya. Ar-Razi menjelaskan kesatuan antara amal dan ucapan. Ibnu Rajab mengingatkan bahwa takwa tidak berhenti pada ibadah ritual. Al-Qasimi menunjukkan bahwa kejujuran adalah sumber segala kemuliaan. Adapun Ibnu Asyur menegaskan bahwa ucapan yang benar merupakan pintu lahirnya berbagai keutamaan akhlak.
 

Semua bermuara pada satu kesimpulan: takwa dan qaulan sadidan tidak dapat dipisahkan. Sebab lisan adalah juru bicara hati. Seseorang mungkin dapat menampilkan kesalehan di hadapan manusia, tetapi ucapannya sering kali membongkar isi batinnya.

Pesan ini terasa semakin relevan di era digital. Hari ini hampir setiap orang memiliki mimbar. Jika dahulu orang harus berdiri di masjid, pasar, atau alun-alun untuk didengar banyak orang, kini cukup dengan satu akun media sosial. Dalam hitungan detik, sebuah komentar dapat menjangkau ribuan orang, memengaruhi cara pandang mereka, bahkan merusak nama baik seseorang.

Karena itu, tanggung jawab moral atas setiap ucapan menjadi jauh lebih besar. Kesalahan yang dahulu hanya didengar segelintir orang, kini dapat menyebar ke mana-mana melalui satu klik tombol bagikan.

Maka persoalannya bukan lagi apakah kita bebas berbicara. Kita memang bebas berbicara. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah yang kita ucapkan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Di sinilah Surat Al-Ahzab ayat 70 menemukan relevansinya. Sebelum menulis komentar, membagikan berita, atau menghakimi orang lain di ruang publik, Al-Qur'an meminta kita menghadirkan ketakwaan terlebih dahulu. Sebab dari hati yang bertakwalah qaulan sadidan lahir.

Untuk itu, qaulan sadidan adalah perintah untuk menjadikan kejujuran, ketepatan, dan tanggung jawab sebagai dasar setiap ucapan. Sebab lisan yang benar lahir dari hati yang bertakwa, dan hati yang bertakwa tidak menjadikan kata-kata sebagai alat untuk memfitnah atau melukai sesama, melainkan sebagai jalan menyebarkan kebenaran dan kemaslahatan.

Di zaman ketika semua orang bisa berbicara, yang paling kita butuhkan bukan sekadar keberanian untuk bersuara, melainkan keberanian untuk berkata benar. Wallahu a'lam.

​​​​​​​

Ustadz Zainuddin Lubis, Redaktur Keislaman NU Online

Baca Artikel Selengkapnya