Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat bergerak menguat 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.642 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.679 per dolar AS.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS.
"Meningkatnya ekspektasi terhadap pelemahan dolar AS lebih lanjut, di tengah berlanjutnya apresiasi yen, turut mendukung tren penguatan rupiah," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Dia menerangkan bahwa investor memandang potensi intervensi yen secara terkoordinasi dan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) sebagai faktor yang dapat semakin menurunkan permintaan terhadap dolar AS.
Karena itu, investor mengalihkan sebagian asetnya dari dolar AS ke mata uang Asia dan emerging markets, sehingga mendukung penguatan rupiah.
Di sisi lain, pernyataan dovish pejabat The Fed Christopher Waller yang menyampaikan pandangan bahwa dirinya cenderung mendukung mempertahankan stance kebijakan saat ini apabila inflasi terus mengalami moderasi, turut mempengaruhi penguatan rupiah.
"Pernyataan dovish tersebut menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) September 2026, sehingga semakin menekan permintaan terhadap dolar AS. Hingga pagi ini, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September 2026 yang tercermin di pasar hanya berada di sekitar 50 persen," ungkap Josua.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.636 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.689 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah menguat seiring pernyataan "dovish" pejabat The Fed
Baca juga: Rupiah pada Jumat pagi menguat jadi Rp17.628 per dolar AS
Baca juga: Rupiah menguat seiring data tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·