Bulan Ramadhan merupakan bulan yang menjadi simbol pengendalian diri, kesabaran, dan ketenangan. Dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, Ramadhan menjadi rambu-rambu bahwa kita harus selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, dan lebih kuat dalam menghadapi cobaan, godaan dan tantangan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183).
Lebih jauh, puasa tidak hanya terbatas pada menahan lapar dan haus saja. Puasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan lidah, untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor, untuk tidak menggunjing orang lain, dan menahan untuk tidak melakukan tindakan yang tercela terlebih tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
Puasa juga termasuk cara paling efektif dalam mengendalikan hawa nafsu. Puasa memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan dengan amal ibadah lainnya, karena dalam puasa terkandung hikmah yang agung, yang dapat menguatkan kesalehan seorang mukmin.
Hal ini dijelaskan dalam kitab I'anatuth Thalibin jilid 2 halaman 299:
وَالصَّوْمُ مِنْ أَبْلَغِ الأَشْيَاءِ فِي رِيَاضَةِ النَّفْسِ، وَكَسْرِ الشَّهْوَةِ، وَاسْتَنَارَةِ القَلْبِ، وَتَأْدِيْبِ الجَوَارِحِ وَتَقْوِيْمِهَا وَتَنْشِيْطِهَا لِلْعِبَادَةِ. وَفِيْهِ الثَّوَابُ العَظِيْمُ، وَالجَزَاءُ الكَرِيْمُ الَّذِي لَا نِهَايَةَ لَهُ
Artinya, “Puasa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam melatih jiwa, mematahkan nafsu, menerangi hati, mendidik anggota tubuh, serta memperbaiki dan menguatkannya untuk beribadah. Dalam puasa terdapat pahala yang sangat besar dan balasan yang mulia, yang tidak ada akhirnya.”
Dari penjelasan tersebut sejatinya kita sedang ditempa oleh Ramadhan menjadi pribadi-pribadi yang cerdas. Yang artinya jika tujuan utama disyariatkannya puasa adalah mengendalikan hawa nafsu, maka hal ini selaras dengan sabda baginda Nabi Muhammad SAW bahwa pribadi yang cerdas adalah mereka yang dapat mengendalikan hawa nafsunya sendiri.
عَنْ أبي يَعلَي شدَّادِ بنِ أوْسٍ رضي اللهُ عنه، عنِ النَّبي صلَّي اللهُ عليه وسلمَّ قال: «الكيِّسُ مَنْ دَانَ نفْسَهُ، وعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّي عَلَي اللهِ». رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ
Artinya: “Dari Abu Ya’la yaitu Saddad ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda, orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong”.(HR At-Tirmidzi)
Dari hadits tersebut bisa kita pahami, bahwa orang cerdas adalah mereka menyadari bahwa kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari dan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara.
Hal inilah yang menjadi titik poin keunggulan mereka dalam berpikir cerdas yakni menghadapi kenyataan yang pasti, tidak berpanjang angan-angan dan selalu memprioritaskan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Dengan berpikir kematian ada di depan mata, maka seseorang akan lebih bijaksana dalam mengambil langkah yang akan dilaluinya, mampu menghargai waktu, dan lebih tenang untuk menentukan sikap. Itulah tolok ukur sejati tentang kecerdasan.
-----------
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi.

1 bulan yang lalu
21





English (US) ·
Indonesian (ID) ·