Jakarta, NU Online
Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengecam keras pengumuman Israel terkait rencana penunjukan utusan diplomatik di wilayah yang disebut Somaliland, yang terletak di bagian barat laut Republik Federal Somalia.
“OKI menyatakan kecaman keras terhadap pengumuman oleh Israel, sebagai kekuatan pendudukan, untuk menunjuk seorang utusan diplomatik di wilayah yang disebut Somaliland,” bunyi pernyataan resmi Sekretariat Jenderal OKI yang dirilis di Jeddah, Arab Saudi, Rabu (16/4/2026).
OKI menilai, langkah Israel sebagai kekuatan pendudukan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan, persatuan nasional, dan keutuhan wilayah Somalia.
Organisasi yang berdiri pada 25 September 1969 di Rabat, Maroko itu menegaskan kembali solidaritas penuh kepada Somalia serta dukungan yang teguh terhadap kedaulatan dan integritas wilayahnya. Selain itu, OKI juga menyatakan dukungan terhadap institusi-institusi sah pemerintah Somalia.
“Sekretariat Jenderal menegaskan kembali solidaritas penuhnya dengan Republik Somalia, dukungan yang teguh terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayahnya, serta dukungan penuh terhadap institusi-institusi sahnya,” imbuh pernyataan organisasi yang beranggotakan 57 negara Islam tersebut.
Lebih lanjut, OKI menekankan pentingnya semua pihak untuk mematuhi prinsip-prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta hukum internasional, yang menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara-negara anggota.
Keputusan yang menggemparkan
Diketahui, Israel telah mengambil keputusan kontroversial untuk mengakui Somaliland yang memisahkan diri sebagai negara merdeka, yang memicu kecaman dari banyak negara lain.
Israel menjadi negara pertama di dunia yang melakukan hal tersebut pada Jumat 26 Desember 2025, lebih dari 30 tahun setelah kawasan itu mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia.
Somalia dengan keras menolak langkah Israel dan menganggap sebagai serangan terhadap kedaulatannya, meski Somaliland menyebut perkembangan itu sebagai momen bersejarah.
Sejak saat itu, puluhan negara dan organisasi termasuk Turki, Arab Saudi, dan Uni Afrika telah mengkritik pengumuman yang mengejutkan tersebut.
Tiongkok ikut menyuarakan penentangannya melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya, Lin Jian. "Tidak ada negara yang boleh mendorong atau mendukung kekuatan separatis internal negara lain demi kepentingan pribadinya sendiri," kata Jian, seperti dikutip BBC.
Namun, AS membela keputusan Israel dalam sesi darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas masalah tersebut, dengan mengatakan bahwa respons tersebut kontras dengan keputusan yang diambil oleh sejumlah negara anggota PBB untuk mengakui negara Palestina.
Perebutan kekuasaan regional
Mengutip Associated Press, Somaliland terletak di Teluk Aden di seberang Yaman dan di sebelah Djibouti, yang terletak di sepanjang salah satu koridor maritim tersibuk di dunia dan merupakan rumah bagi pangkalan militer utama Afrika untuk militer AS, Tiongkok, Prancis, dan beberapa negara lainnya.
Pengakuan Israel atas Somaliland telah menempatkan wilayah yang memisahkan diri itu ke dalam sorotan internasional, menyebabkan kegemparan di Tanduk Afrika dan Timur Tengah sebagai faktor baru yang mengejutkan dalam perebutan kekuasaan regional.
Bagi Israel, keputusan ini kembali memunculkan pertanyaan tentang proposal kontroversial yang diajukan tahun 2025 lalu oleh pejabat Amerika dan Israel agar Somaliland menerima warga Palestina yang mengungsi dari Gaza. Israel juga dapat menggunakan Somaliland sebagai basis untuk merespons serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman, yang terletak di seberang Teluk Aden, dengan lebih efektif.
Mantan menteri perencanaan dan kerja sama internasional Somalia, Abdi Aynte, mencatat bahwa Tanduk Afrika dan koridor Laut Merah, yang berpusat di Selat Bab al-Mandab, salah satu titik rawan maritim terpenting di dunia, telah menjadi arena persaingan yang sengit. Israel, negara-negara Teluk, Turki, Mesir, Ethiopia, Eritrea, dan Tiongkok kini semuanya terlibat secara mendalam.
“Dalam konteks ini, pengakuan Israel terhadap Somaliland menandakan sesuatu yang lebih luas: meningkatnya penggunaan gerakan separatis sebagai instrumen disruptif dalam strategi geopolitik di seluruh Timur Tengah dan Tanduk Afrika,” tulisnya di Al Jazeera.
Aynte menyebut, apa yang oleh beberapa ahli digambarkan sebagai "Poros Separatis" sudah terlihat di Libya, Yaman, Sudan, Somalia, dan Suriah. Dipimpin oleh Israel dan didukung oleh jaringan mitra regional, poros ini menargetkan negara-negara yang pemerintah pusatnya, yang telah melemah akibat konflik, hanya memiliki kendali parsial atas wilayah mereka.
“Logikanya sederhana: melemahkan otoritas pusat, memperkuat wilayah-wilayah yang memisahkan diri, dan membina entitas-entitas yang bergantung dan bersedia bersekutu dengan Israel serta menandatangani Perjanjian Abraham,” tulis Aynte.

2 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·