Khutbah Jumat: Hindari Berbuat Zalim terhadap Sesama Manusia

1 bulan yang lalu 19

Sebagai kaum muslimin yang berpedoman kepada ajaran Nabi Muhammad SAW, kita dilarang untuk berbuat kezaliman kepada sesama manusia. Karena perbuatan tersebut memiliki banyak dampak negatif. Entah bagi diri sendiri atau utamanya orang lain. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali berbuat zalim.

Khutbah Jumat dengan judul “Hindari Berbuat Zalim terhadap Sesama Manusia.” Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي حَرَّمَ الظُّلْمَ وَجَعَلَ الْعَدْلَ سَبِيلَ السَّلَامِ، وَنَهَى عَنِ الْبَغْيِ وَالطُّغْيَانِ صِيَانَةً لِلْأَنَامِ، وَفَتَحَ لِعِبَادِهِ أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ وَالْإِكْرَامِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ شَهَادَةً تُنْجِي مِنَ الْآثَامِ، وَتَعْصِمُ قَائِلَهَا مِنْ ظُلْمِ الْخِصَامِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِيْ حَذَّرَ مِنَ الظُّلْمِ فِي السِّرِّ وَالْإِعْلَامِ، وَدَعَا إِلَى الْإِحْسَانِ وَحُسْنِ الْخِتَامِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، وَ قَدْ قَالَ : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Segala puji kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Dzat yang di tangan-Nya tergenggam segala urusan langit dan bumi. Dialah yang kuasa menumbuhkan harapan di tengah segala keterbatasan dan menguatkan hati di kala kita merasa tidak berdaya. Karena izin-Nya pula, pada siang yang mulia ini kita masih diberikan hidayah untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat dengan tenang.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah yang mengubah arah sejarah manusia, yang mulanya tersesat, berubah menjadi selamat. Semoga shalawat itu juga mengalir kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh generasi penerus yang menjaga ajaran Islam dengan ikhlas hingga akhir zaman.

Khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk menjadikan takwa sebagai fondasi tindakan dalam segala aspek kehidupan. Karena takwa adalah wasiat dari Tuhan yang Maha Esa. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Berbuat zalim kepada sesama manusia itu dilarang oleh Allah SWT. Karena setiap kezaliman berarti berbuat sesuka hati dan melukai martabat makhluk yang Allah muliakan. 

Sebab ketidakadilan, sekecil apa pun, merusak tatanan kehidupan di alam raya ini dan dapat mencabut keberkahan yang dianugerahkan oleh Allah SWT bagi para pelakunya. Sehingga dalam ajaran Islam, menegakkan hubungan sosial adalah prinsip keadilan dan kebaikan yang harus kita laksanakan. 

Sebagaimana perintah tersebut, ditegaskan langsung oleh Allah dalam QS. An-Nahl ayat 90:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Selain memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan kepada sesama manusia, dalam QS. An-Nahl ayat 90 ini, Allah SWT juga melarang kezaliman dengan menggunakan kata “al-Bagyu”, yang berarti melarang segala tindakan penindasan terhadap sesama manusia yang disertai dengan kebencian atau permusuhan. 

Kaitannya dengan hal itu, Al-Khazin dalam kitab Lubabut Ta’wil fii Ma’anit Tanzil, jilid III, halaman 95, menjelaskan:

وَقِيلَ: الْبَغْيُ هُوَ التَّطَاوُلُ عَلَى الْغَيْرِ عَلَى سَبِيلِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ. قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ أَعْجَلَ الْمَعَاصِي الْبَغْيُ، وَلَوْ أَنَّ جَبَلَيْنِ بَغَى أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ لَدُكَّ الْبَاغِي

Artinya: "Dikatakan: bahwa al-baghy adalah sikap sombong kepada orang lain dengan bertindak zalim dan melalui permusuhan. Sebagian ulama berkata: sesungguhnya maksiat yang paling cepat (mendatangkan hukuman) adalah kezaliman; bahkan seandainya dua gunung saling melampaui batas, niscaya gunung yang berbuat zalim itulah yang akan dihancurkan."

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, 

Jika kita sudah tahu bahwa zalim itu dilarang, namun masih berani melakukannya kepada manusia yang lain, maka bersiaplah menerima dosa dari Allah SWT. Sehingga dengannya, kita berpotensi lebih besar untuk masuk neraka.

Kepastian paling buruk yang dapat kita tuai ketika berbuat zalim, selain daripada dosa itu sendiri ialah mengalami kebangkrutan pada hari Kiamat. Jadi, semua amal kebaikan dan ibadah yang telah kita lakukan di dunia, akan menjadi kafarat yang harus kita berikan kepada orang lain yang menjadi korban kezaliman kita.

Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌أَتَدْرُونَ ‌مَا ‌الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ، وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia datang dalam keadaan pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka masing-masing dari mereka diberi bagian dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum seluruh hak mereka terpenuhi, maka dosa-dosa mereka diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Kita harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Hormati harkat dan martabat mereka. Jangan mentang-mentang kita bos, kita berhak untuk menindas karyawan yang bekerja untuk kita. Begitu pula, jangan mentang-mentang fisik kita kuat, kita bisa sesuka hati menyakiti yang lemah. Berbuatlah sesuai porsi dan berlaku dengan adil.

Sebab ingatlah, wahai saudaraku sekalian, perbuatan zalim itu merupakan larangan Allah SWT yang harus kita hindari, agar kita selamat di akhirat kelak. Karena kalau sampai kita banyak menzalimi orang lain, maka bersiaplah untuk menjadi orang yang bangkrut. Na’udzubillah.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.

Baca Artikel Selengkapnya