Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey ramai-ramai mengeluh usai kapal mereka terdampar di Kamboja gegara tak mampu membeli bahan bakar.
Steve Skulnich, salah satu penumpang kapal, mengatakan kepada Channel News Asia (CNA) bahwa ia dan para penumpang lain diminta turun dari kapal karena operator tidak memiliki dana untuk membeli bahan bakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami diminta turun dari kapal kemarin. Mereka kehabisan uang. Mereka tidak punya dana lagi untuk membeli bahan bakar," ucapnya.
Skulnich berujar pihak kapal pesiar sampai meminta-minta uang kepada para penumpang agar bisa melanjutkan perjalanan ke pelabuhan berikutnya.
"Tetapi tidak ada yang mau memberikannya," ucap Skulnich.
Lebih dari 200 penumpang Villa Vie Odyssey terdampar di kota pelabuhan Sihanoukville, Kamboja, pada Selasa (27/10) setelah perusahaan menangguhkan perjalanan karena tak sanggup membeli bahan bakar.
Villa Vie Residences, operator kapal yang berbasis di Amerika Serikat (AS), terang-terangan menyatakan kenaikan harga bahan bakar yang "luar biasa" buntut perang AS vs Iran membuat perusahaan kesulitan mempertahankan operasional. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di sejumlah wilayah Asia dilaporkan melonjak dari US$1.800 menjadi US$8.000.
"Villa Vie Residences menyadari ini adalah periode yang sulit dan mengganggu bagi penghuni, anggota kru, dan karyawan. Kami sedang berupaya membantu pihak-pihak yang terdampak seiring dengan perkembangan rencana yang ada," demikian pernyataan operator, dikutip dari Channel News Asia.
Perusahaan mengatakan telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan pengeluaran, termasuk memperlambat perjalanan kapal dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan. Namun, upaya itu belum mampu mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
Operator menyebut saat ini pihaknya mengoordinasikan tempat tinggal sementara bagi para penumpang. Perusahaan akan menggunakan waktu 60 hari ke depan untuk melakukan restrukturisasi dan rekapitalisasi.
Paul Montoya, penumpang Odyssey lainnya, mengatakan bahwa para penumpang tidak diberi akomodasi seperti yang dinyatakan perusahaan.
"Dalam siaran persnya, mereka menyatakan telah menyediakan akomodasi bagi seluruh penumpang kapal, padahal kenyataannya tidak demikian. Kami harus mencari akomodasi sendiri," ucapnya.
Jim Chris Guld, penumpang lain, mengaku sangat kecewa dengan kejadian ini. Meski memahami bahwa situasi ini di luar kendali perusahaan, namun ia tetap berharap perusahaan tetap bisa melanjutkan perjalanan yang telah penumpang bayar.
"Tentu saja, kami berharap segalanya bisa berjalan dengan cara yang berbeda," ujar Guld.
Penumpang Odyssey lainnya, Russ Borman, mengatakan banyak penumpang yang tidak punya tempat tujuan setelah kapal berlabuh di Kamboja.
"Masalahnya, banyak orang tidak punya tempat tujuan lain. Kapal ini adalah rumah bagi mereka. Mereka telah menginvestasikan seluruh uang mereka, sampai menjual rumah mereka di Amerika Serikat, Australia, atau negara asal lainnya, dan kini tidak punya tempat untuk dituju," ucapnya.
Villa Vie Odyssey telah berlayar selama 755 hari sejak berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Kapal pesiar sepanjang 200 meter ini menawarkan perjalanan keliling dunia ke sekitar 150 negara.
Kapal ini menyediakan fasilitas seperti bar dan restoran, dek kolam renang, serta lapangan pickleball. Perusahaan juga menawarkan kabin untuk penghuni yang ingin menjalani kehidupan dalam jangka panjang di laut.
Harga kabin untuk hunian permanen berkisar antara US$120.000 hingga US$440.000. Sementara itu, penumpang yang ingin menyewa kabin dapat membayar mulai dari US$3.500 per bulan.
Randy Cassingham, seorang penumpang di kapal yang mengelola blog tentang kapal pesiar, menulis bahwa kapal sudah mengalami serangkaian masalah sejak pertama berangkat.
Kapal sempat tertunda peluncurannya selama empat bulan di Belfast dan tidak pernah mampu mencapai kapasitas maksimum sebanyak 650 orang. Berdasarkan keterangan perusahaan, ada 203 penumpang di Odyssey, dengan kru kapal sebanyak 156 awak.
(isa/bac)

51 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·