Kapal Dagang di Laut Hitam Diserang Drone, Turki Gertak Rusia-Ukraina

43 menit yang lalu 1

JAKARTA -- Turki memperingatkan Rusia dan Ukraina agar segera menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Hitam setelah rangkaian serangan drone memperluas ancaman perang ke jalur pelayaran internasional. Ankara menyatakan keselamatan kapal sipil tidak boleh dikorbankan dalam konflik kedua negara, terutama ketika serangan mulai menjangkau perairan dekat negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Peringatan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler pada Rabu (28/10/2026), seusai pertemuan keamanan bersama para menteri pertahanan dan pimpinan militer Turki, Bulgaria, serta Rumania di Sofia, Bulgaria. Güler menegaskan Ankara mencermati meningkatnya serangan terhadap kapal komersial yang beroperasi di Laut Hitam, termasuk kapal berbendera maupun milik perusahaan Turki.

Pernyataan itu muncul pada hari yang sama ketika tiga drone laut menghantam kapal kontainer Contship Jet berbendera Liberia di zona ekonomi eksklusif Bulgaria. Kapal milik perusahaan Yunani tersebut sedang berlayar dari Haifa, Israel, menuju Constanța, Rumania, ketika diserang sekitar 21 mil laut dari kawasan Shabla di pesisir Bulgaria.

Menteri Pertahanan Bulgaria Dimitar Stoyanov mengonfirmasi serangan tersebut. Menurut otoritas Bulgaria, kapal membawa 421 kontainer dan mengalami kerusakan serius setelah dihantam tiga wahana tanpa awak di laut.

Seluruh 18 awak kapal, terdiri atas 14 warga Filipina dan empat warga Ukraina, berhasil dievakuasi. Angkatan Laut, polisi perbatasan, dan otoritas maritim Bulgaria mengerahkan kapal penyelamat untuk membantu operasi tersebut. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden Contship Jet.

Hingga laporan ini disusun, belum terdapat bukti yang memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Ukraina menuduh Rusia berada di balik sejumlah serangan terhadap kapal sipil di Laut Hitam, sementara Moskow membantah keterlibatannya. Otoritas Bulgaria juga belum mengumumkan hasil penyelidikan yang menetapkan pelaku serangan Contship Jet.

Serangan terbaru memperlihatkan meningkatnya risiko bagi pelayaran sipil di Laut Hitam. Kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan gandum, minyak, dan berbagai komoditas itu kini menghadapi ancaman dari drone udara, drone laut, ranjau, serta rudal yang digunakan dalam perang Rusia-Ukraina.

Turki Keluarkan Peringatan kepada Dua Negara

Dalam pernyataannya di Sofia, Güler menegaskan bahwa serangan terhadap kapal dagang telah menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan navigasi di perairan internasional.

"Kami mengikuti dengan penuh keprihatinan serangan intensif terhadap kapal-kapal dagang di Laut Hitam dan menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar bertindak dengan akal sehat, sesuai prinsip keselamatan navigasi di laut lepas," kata Güler sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (28/10/2026).

Güler juga menegaskan Turki mempertahankan hak hukumnya apabila serangan menimpa kapal yang mengibarkan bendera Turki atau dimiliki perusahaan negara tersebut.

"Kami juga mempertahankan seluruh hak hukum terkait serangan terhadap kapal berbendera Turki atau kapal milik Turki dan terus mengikuti perkembangan dengan sangat saksama," ujarnya.

Menurut Güler, Ankara telah berulang kali menyampaikan peringatan kepada Moskow dan Kyiv agar aktivitas pelayaran komersial tidak terseret ke dalam konflik bersenjata.

Turki juga telah mengajukan usulan kepada kedua negara untuk menghentikan serangan terhadap kapal sipil sekaligus memastikan pengiriman gandum dari kawasan Laut Hitam dapat berlangsung dengan aman. Ankara menyatakan masih menunggu tanggapan Rusia dan Ukraina terhadap usulan tersebut.

Peringatan itu memperlihatkan meningkatnya perhatian Turki terhadap dampak perang yang tidak lagi terbatas pada sasaran militer dan infrastruktur di wilayah Rusia maupun Ukraina.

Sebagai negara yang menguasai akses maritim antara Laut Hitam dan Laut Mediterania melalui Selat Bosporus serta Dardanella, Turki memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan perdagangan di kawasan tersebut.

Ankara juga mempertahankan hubungan diplomatik dengan Moskow dan Kyiv sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Posisi tersebut memungkinkan Turki menjadi salah satu saluran komunikasi antara kedua pihak, termasuk dalam pembahasan keamanan pelayaran dan ekspor pangan.

Pada akhir September 2026, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyampaikan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahwa serangan terhadap kapal dagang di Laut Hitam tidak dapat dibenarkan dan harus dihentikan.

Peringatan Güler pada 28 Oktober menunjukkan bahwa persoalan keselamatan pelayaran kini menjadi perhatian keamanan yang semakin mendesak bagi Ankara.

Kapal Dagang Mulai Menjadi Korban Perang Drone

Serangan terhadap Contship Jet bukan insiden tunggal. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal komersial mengalami serangan di sekitar pesisir Bulgaria dan Rumania.

Reuters melaporkan sedikitnya tujuh kapal dagang telah diserang di sekitar kedua negara anggota NATO tersebut dalam dua pekan menjelang 22 Oktober. Rangkaian insiden itu menyebabkan puluhan awak kapal dilaporkan meninggal dunia atau hilang.

Salah satu insiden paling serius terjadi pada Jumat (23/10/2026), ketika kapal kargo Khoryv berbendera Komoro tenggelam di sekitar 13 mil laut dari pelabuhan Constanța, Rumania.

Menurut otoritas maritim Rumania, kapal tersebut membawa 13 awak berkewarganegaraan Ukraina dan Azerbaijan. Sembilan orang berhasil diselamatkan, satu awak ditemukan meninggal dunia, sedangkan tiga lainnya dinyatakan hilang dalam laporan awal.

Presiden Rumania Nicușor Dan menuduh Rusia meningkatkan serangan di kawasan yang berdekatan dengan wilayah NATO. Ia mengaitkan tenggelamnya kapal tersebut dengan eskalasi perang Rusia terhadap Ukraina.

Namun, tuduhan politik terhadap Rusia perlu dibedakan dari hasil penyelidikan teknis mengenai pelaku setiap serangan. Tidak seluruh insiden terhadap kapal dagang di Laut Hitam telah memiliki atribusi yang dapat diverifikasi secara independen.

Peningkatan serangan memperlihatkan perubahan penting dalam karakter ancaman maritim. Kapal dagang yang tidak memiliki kemampuan pertahanan militer memadai menjadi semakin rentan terhadap drone yang mampu menjangkau wilayah pelayaran komersial.

Drone laut dapat bergerak mendekati kapal dari permukaan air, sementara drone udara dan rudal menambah ancaman dari arah berbeda. Keberadaan ranjau laut yang terbawa arus juga memperumit keselamatan navigasi.

Kombinasi ancaman tersebut meningkatkan kebutuhan pengawasan maritim, pertukaran informasi intelijen, dan sistem peringatan dini bagi kapal yang beroperasi di kawasan berisiko tinggi.

Baca Artikel Selengkapnya