Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua memandang bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang tinggi dapat memperbaiki keyakinan perbankan, tetapi belum cukup untuk langsung mengubah risk appetite atau selera risiko bank secara agresif.
“Bank tetap akan melihat kualitas debitur, arus kas, prospek sektor, dan kemampuan bayar, terutama di tengah tekanan rupiah, harga energi, dan ketidakpastian global,” kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Josua menilai pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) akan memberi sinyal positif bagi permintaan kredit, namun dampaknya tidak otomatis signifikan dan tidak otomatis merata.
Angka pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masih berjalan kuat, terutama karena konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta dorongan musiman Ramadhan dan Idul Fitri.
Namun, sebagian pendorong pertumbuhan kuartal I bersifat musiman dan dipengaruhi realisasi belanja pemerintah yang lebih awal, sehingga bank tetap perlu melihat apakah momentum itu berlanjut ke permintaan usaha yang berulang pada kuartal berikutnya.
Baca juga: BI DKI: Industri film bisa jadi pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta
Baca juga: BI Malang jembatani tradisi dan transaksi dengan Qrisma Fest 2026
Baca juga: Bertemu Prabowo, Gubernur BI beberkan tujuh strategi perkuat rupiah
Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) memperlihatkan bahwa penyaluran kredit baru pada kuartal I 2026 tetap tumbuh, tetapi melambat dibanding kuartal IV 2025. Nilai Saldo Tertimbang Bersih (SBT) penyaluran kredit baru turun menjadi 38,74 persen pada kuartal I 2026 dari 88,92 persen pada kuartal IV 2025.
Standar kredit juga lebih berhati-hati, tercermin dari indeks standar penyaluran kredit yang positif sebesar 0,15. Hal ini menunjukkan bahwa bank tidak menutup keran kredit, tetapi lebih hati-hati dalam memilih debitur.
Untuk kuartal II 2026, sinyalnya lebih baik karena SBT penyaluran kredit baru diprakirakan naik ke 96,65 persen dan standar kredit diprakirakan lebih longgar.
“Jadi, ada peluang perbaikan, tetapi tetap bergantung pada apakah pertumbuhan kuartal I benar-benar berlanjut ke pesanan baru, produksi, dan ekspansi usaha setelah efek Lebaran berakhir,” kata Josua.
Mengenai fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan), Josua menilai bahwa jumlahnya memang sangat besar dan menjadi peluang untuk mempercepat kredit.
Sebagai catatan, menurut data BI, rasio undisbursed loan masih cukup besar yakni mencapai 22,59 persen dari plafon kredit yang tersedia atau setara Rp2.527,46 triliun.
Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 saja belum cukup untuk membuat pencairan kredit tersebut meningkat secara otomatis.
“Banyak fasilitas kredit belum ditarik karena proyek belum berjalan, permintaan belum cukup kuat, harga bahan baku masih bergejolak, izin dan pengadaan belum selesai, atau perusahaan memilih menunda ekspansi sambil menunggu kepastian kurs dan biaya energi,” jelas Josua.
Agar fasilitas tersebut berubah menjadi kredit produktif, menurut Josua, yang paling menentukan adalah kepastian permintaan, stabilitas biaya produksi, kepastian proyek, kemampuan debitur menjaga arus kas, dan keyakinan bank bahwa risiko kredit tidak memburuk.
“Jika faktor-faktor itu membaik, fasilitas yang belum ditarik bisa menjadi sumber pertumbuhan kredit cepat tanpa harus membuka plafon baru yang terlalu besar,” kata Josua.
Baca juga: BI akan turunkan batas pembelian USD tanpa underlying jadi 25 ribu dolar AS
Baca juga: BI: Rupiah masih "undervalued", berpotensi menguat ke depan
Baca juga: BI yakin ekonomi sepanjang 2026 tetap kuat, didukung "demand" domestik
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·