CORE: "Swap currency" perlu dukungan fiskal jaga stabilitas rupiah

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (swap currency) dan diversifikasi pembiayaan non-dolar dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Namun demikian, ia menilai langkah tersebut belum cukup untuk memperkuat fundamental rupiah tanpa didukung perbaikan faktor domestik, terutama persepsi fiskal.

Swap currency dan diversifikasi pembiayaan non-dolar bisa (membantu) sebagai stabilisasi rupiah, namun bukan obat untuk penguatan fundamental rupiah,” kata Dipo kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Kerja sama swap currency merupakan mekanisme pertukaran mata uang antarbank sentral negara untuk memperkuat likuiditas dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi maupun stabilisasi pasar keuangan.

Baca juga: BI akan turunkan batas pembelian USD tanpa underlying jadi 25 ribu dolar AS

Ia menjelaskan instrumen tersebut dapat menjadi bantalan likuiditas ketika terjadi arus modal keluar (capital outflow) dalam jumlah besar.

Menurut dia, kerja sama pembiayaan non-dolar juga memberikan sinyal kepada pasar bahwa Indonesia memiliki cadangan likuiditas untuk menghadapi gejolak eksternal.

“Pada intinya, swap currency dan pembiayaan non-dolar bertindak sebagai dana cadangan kalau ada capital outflow besar-besaran,” ujarnya.

Dipo menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik, tetapi juga faktor domestik.

Ia mengatakan pelemahan rupiah dalam terhadap sejumlah mata uang kawasan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi dalam negeri.

“Pelemahan rupiah itu bukan hanya faktor global, tetapi juga domestik,” tuturnya.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya