Rembang, NU Online
Budaya membuang sampah sembarangan di destinasi wisata dinilai masih menjadi persoalan serius yang mengancam kenyamanan pengunjung sekaligus kelestarian lingkungan. Padahal, kawasan wisata semestinya menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, kenyamanan, dan rasa aman bagi setiap pengunjung.
Aktivis lingkungan sekaligus Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Rembang, Ahmad Rif'an, menilai perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi kebiasaan sebagian wisatawan.
"Hal ini mempunyai arti jika dalam jiwa dan otaknya masih ada sampah. Maka tempat wisata menjadi tempat pembuangan sampah yang juga akan berpengaruh pada pola perilaku pengunjung lokasi wisata," ungkap Rif'an kepada NU Online, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, ada dua penyebab utama maraknya perilaku membuang sampah sembarangan di tempat wisata maupun ruang publik lainnya.
Secara eksternal, masih banyak destinasi wisata yang belum menyediakan tempat pemilahan sampah yang memadai serta papan edukasi visual bagi pengunjung. Sementara secara internal, rendahnya kesadaran masyarakat dipengaruhi minimnya pendidikan lingkungan di lingkungan keluarga sejak dini.
"Ataupun jika tak ada tempat pembuangan maka dibawa atau sementara dikantongi terlebih dahulu," imbuhnya.
Rif'an menambahkan, rendahnya kesadaran masyarakat sering kali terjadi meskipun fasilitas pengelolaan sampah telah tersedia. Menurutnya, persoalan utama terletak pada kebiasaan yang kemudian berkembang menjadi budaya dalam lingkungan keluarga.
Apabila seseorang telah dibiasakan menjaga kebersihan sejak di rumah, lanjutnya, kebiasaan tersebut akan terbawa ketika berada di sekolah maupun ruang publik.
Ia juga mengapresiasi sejumlah inisiatif anak muda, termasuk gerakan Bawa Sampahmu Kembali, yang mengajak setiap pengunjung bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya.
"Selain juga Aksi Wisata Petik Sampah yang bertujuan menjaga kelestarian lingkungan agar tetap asri, nyaman, dan bersih," jelasnya.
Rif'an berharap generasi muda, khususnya anggota Karang Taruna, dapat menjadi teladan dalam membangun budaya peduli lingkungan.
"Saya sering menyebut kolaborasi menjadi kolaboraksi. Bukan sebatas acara seremonial bersama, tetapi gerakan bersama berupa aksi konkret yang berdampak, bukan hanya ungkapan verbal dalam pidato pejabat atau pimpinan organisasi," ujarnya.
Selain itu, ia mengimbau pemerintah, pengelola wisata, komunitas, dan masyarakat memperkuat kampanye pengelolaan sampah serta menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan sesuai aturan yang disepakati.
"Seyogianya pemerintah, pengelola wisata, komunitas, dan masyarakat setempat harus bersinergi dengan pembagian peran yang jelas, bergerak secara berkelanjutan, serta dievaluasi secara berkala," paparnya.
Pengelola wisata dorong tanggung jawab bersama
Senada dengan Rif'an, Pengelola Wisata Literasi Lentera Kisik, Plawangan, Kragan, Rembang, Ahmad Fajar Mushoffa, mengatakan kebersihan merupakan wajah pertama sebuah destinasi wisata.
"Pengunjung menilai kualitas tempat wisata dari kondisi lingkungannya sebelum menilai hal lain. Selain itu, kebersihan juga berkaitan langsung dengan kesehatan pengunjung dan kelestarian alam sekitar," ujarnya kepada NU Online, Kamis (2/7/2026).
Fajar mengatakan pihaknya terus mendorong pengunjung membawa kembali sampah yang dihasilkan hingga menemukan tempat sampah, bukan membuangnya sembarangan.
"Namun kami akui ini juga menjadi evaluasi bagi kami. Idealnya, fasilitas dan petunjuk pembuangan sampah harus lebih mudah terlihat," katanya.
Meski demikian, ia mengakui perilaku membuang sampah sembarangan masih kerap ditemukan, terutama saat musim liburan dan akhir pekan ketika jumlah pengunjung meningkat.
"Biasanya berupa bungkus makanan, botol plastik, atau puntung rokok yang ditinggalkan di area duduk maupun jalur wisata," tuturnya.
Menurutnya, papan pengingat untuk membuang sampah telah dipasang di sejumlah titik strategis, seperti area istirahat, lokasi swafoto, dan sekitar tempat sampah agar lebih mudah dilihat pengunjung.
Fajar menilai perilaku tersebut dipicu oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan jumlah tempat sampah, lokasi fasilitas yang kurang strategis, serta anggapan bahwa kebersihan sepenuhnya menjadi tanggung jawab petugas.
"Mereka masih menganggap membuang sampah adalah urusan petugas kebersihan pantai," terangnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
"Pengunjung memiliki tanggung jawab untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pengelola wajib menyediakan fasilitas dan edukasi, pedagang bertanggung jawab atas sampah dari aktivitas usahanya, sedangkan petugas kebersihan membantu pengelolaan sampah secara menyeluruh," paparnya.
Di sisi lain, Fajar juga menilai pemerintah memiliki peran penting dalam penyediaan infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
"Namun, jika harus memilih satu pihak yang paling menentukan, saya akan menyebut pengelola. Sebab, kami yang menyediakan sistem dan fasilitas. Kesadaran pengunjung yang tinggi pun akan sulit diwujudkan jika fasilitasnya tidak mendukung," pungkasnya.

4 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·