Makassar (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2026 mencatat defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS, terutama dipengaruhi defisit transaksi modal dan finansial yang lebih besar dibandingkan transaksi berjalan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan yang diterima di Makassar, Jumat, menyebut kinerja NPI pada triwulan I tahun ini tetap terjaga.
Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mencatat defisit 4,9 miliar dolar AS, setelah pada triwulan sebelumnya mencatat surplus 9,0 miliar dolar AS.
Ramdan menyampaikan bahwa kinerja transaksi modal dan finansial tersebut tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik yang tetap terjaga.
Investasi portofolio juga tetap mencatat surplus, meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global.
Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri.
Selanjutnya, transaksi berjalan pada triwulan I 2026 mencatat defisit 4,0 miliar dolar AS (1,1 persen dari PDB), setelah pada triwulan IV 2025 mencatat defisit 2,5 miliar dolar AS (0,7 persen dari PDB).
Ramdan menyebut defisit transaksi berjalan pada triwulan I tahun ini tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global.
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara.
Defisit neraca perdagangan migas juga menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga.
Adapun defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight.
Pada akhir Maret 2026, posisi cadangan devisa tercatat 148,2 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Untuk sepanjang tahun ini, BI memprakirakan kinerja NPI tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari PDB.
“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal,” kata Ramdan.
Baca juga: Gubernur BI: Kinerja NPI perlu diperkuat untuk mitigasi dampak perang
Baca juga: BI yakin NPI 2026 tetap baik, defisit transaksi berjalan tetap rendah
Baca juga: Rupiah diprediksi konsolidasi, pasar cermati data neraca pembayaran
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·