Banyak Teror, Australia Mau Beri Anggota Parlemen Panic Button

58 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mempertimbangkan pemasangan "tombol panik" (panic button) di kantor-kantor anggota parlemen untuk meningkatkan keamanan di tengah maraknya ancaman terhadap anggota dan staf mereka.

Rencana ini muncul setelah anggota parlemen independen Helen Haines mengalami serangan hingga harus menjalani amputasi kedua kakinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pidatonya di hadapan anggota parlemen Partai Buruh pada Selasa (27/10), Albanese mengatakan pemerintah Australia perlu memperkuat perlindungan bagi anggota parlemen dan staf mereka, baik di kantor konstituen maupun di lingkungan tempat tinggal.

Menurut Albanese, para politisi telah terlalu lama menghadapi lingkungan kerja yang dipenuhi ancaman. Ia berharap pekan ini menjadi titik balik dalam upaya pemerintah menangani ancaman dan permusuhan terhadap wakil rakyat.

Albanese tidak merinci langkah-langkah spesifik yang akan diterapkan. Namun, ia menyebut pemasangan tombol panik atau alarm darurat yang dapat menghubungkan pengguna dengan pihak berwenang menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintah.

"Kalian semua telah mencurahkan begitu banyak upaya untuk keselamatan orang lain di tempat kerja. Saya bertekad untuk memastikan kita melakukan segala sesuatu demi keselamatan kalian dan keselamatan staf kalian juga," kata Albanese, seperti dilaporkan Independent.

Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke juga mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pengaturan keamanan di tempat pemungutan suara selama proses pemilihan.

Sementara itu, sejumlah anggota parlemen meminta pemerintah memperkuat sistem keamanan di kantor mereka. Usulan tersebut mencakup peningkatan koordinasi dengan Kepolisian Federal Australia, pemasangan kamera pengawas atau CCTV, serta perbaikan penerangan di sekitar kediaman pribadi para politisi.

Janji Albanese untuk memperkuat keamanan disampaikan beberapa jam setelah senator independen Fatima Payman mengkritik pemerintah terkait minimnya dukungan staf untuk kantornya.

Payman, yang meninggalkan Partai Buruh pada 2024 untuk menjadi senator independen, menyampaikan keluhan tersebut dalam sidang pendapat Senat. Ia meminta pemerintah menambah penasihat untuk membantu pekerjaannya dan menilai staf yang tersedia saat ini sudah mengalami beban kerja berlebihan.

Dalam sidang itu, Payman mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam melindungi kesejahteraan orang-orang yang bekerja di lingkungan parlemen. Ia juga menghubungkan persoalan tersebut dengan serangan yang menimpa Haines.

"Jika beliau begitu peduli dengan kesejahteraan dan kesehatan orang-orang yang bekerja di gedung ini, maka saya mohon kepada Anda dan perdana menteri untuk menyelidiki fakta bahwa staf saya mengalami kelelahan kerja," kata Payman kepada Menteri Perdagangan dan Pariwisata sekaligus Wakil Pemimpin Pemerintahan di Senat Don Farrell.

Payman kemudian mempertanyakan apakah pemerintah baru akan menanggapi permintaannya dengan serius setelah terjadi insiden serupa di kantornya.

"Apakah perdana menteri menunggu sesuatu, seperti yang terjadi pada Dr. Helen Haines, terjadi di kantor saya? Pada saya? Agar dia menanggapi permintaan kami dengan serius?" ujarnya.

Pada Senin (19/10), Haines mengalami serangan ketika berada di luar kantor pemilihannya di Wangaratta, wilayah timur laut Melbourne. Ia harus menjalani amputasi kedua kakinya setelah ditabrak mobil dalam insiden tersebut.

Menurut informasi yang disampaikan dalam laporan itu, terduga pelaku menabrak Haines dua kali menggunakan mobil. Polisi kemudian mendakwa Brendan Nugent, warga berusia 43 tahun dari Tarrawingee, sebuah kota di daerah pemilihan Haines.

Nugent menghadapi tiga dakwaan, yakni mengemudi secara berbahaya hingga menyebabkan cedera serius, sengaja menyebabkan cedera serius, dan menyebabkan kerugian terhadap pejabat publik.

(rds)

Baca Artikel Selengkapnya