Antar-Jemput Bus Shalawat untuk Jamaah Shalat di Masjidil Haram

4 jam yang lalu 3

Jakarta, NU Online 

Kawasan Aziziyah berjarak lebih dari 10 km ke Masjidil Haram. Namun hal itu bukan sebuah masalah bagi jamaah haji, sebab mudah saja untuk dapat menjalankan ibadah di Masjidil Haram dengan adanya Bus Shalawat.


Sepanjang hari, bus tersebut siap sedia mengantar jamaah dari hotel menuju Masjidil Haram. Bukan saja di waktu-waktu prime time, tetapi juga di tengah malam menuju dinihari, bus selalu hadir untuk mengantar jamaah menuju kiblat umat Islam itu.


Tamami, jamaah haji asal Tangerang, Banten, menceritakan pengalamannya itu. Ia tak pernah menunggu lama untuk menuju Masjidil Haram dengan Bus Shalawat. Di waktu-waktu ramai, bus bisa ditambah dari biasanya.


Bus biasanya akan berangkat persis dari depan hotel menuju Terminal Jabal Ka'bah. Dari terminal itu, jalan kaki sekitar 700-800 meter menuju pintu Masjidil Haram. Sementara perjalanan bus ditempuh sekitar 12 menit.


Menurutnya, sepanjang perjalanan itu ada check point. Namun, bus shalawat tidak diperiksa. Sebab, sudah maklum bus tersebut hanya membawa jamaah dari hotel langsung menuju Masjidil Haram tanpa ada pemberhentian lain.


"Kalau Bus Shalawat enggak dicek. Karena naik dan turunnya pasti jamaah Indonesia," ujarnya kepada NU Online beberapa waktu lalu.


Ia mengaku hampir tidak pernah berdiri saat menaiki Bus Shalawat. Namun, suatu kali pernah berdiri dalam satu waktu yang cukup padat. Ia yang muda mempersilakan yang lebih sepuh untuk duduk di kursi karena keterbatasan tempat duduk. Ia berdiri di tengah tata letak kursi 2-2 dalam bus itu.


"Jarang berdiri kecuali shalat Subuh dan Maghrib. Selain dua waktu itu, pasti duduk. Kalau penuh memang biasanya langsung jalan. Sementara Subuh ditahan," katanya.


Ia mengaku pernah keluar dari hotel menuju Masjidil Haram pukul 2 pagi. Meski masih setengah dari jumlah kursi yang terisi, bus langsung jalan menuju tujuan. "Bahkan (pernah) berdua. Jadi, enggak nunggu-nunggu banget," katanya.


Hal senada diungkapkan Nur S Nisa, jamaah haji asal Brebes, Jawa Tengah. Hotelnya berjarak sekitar 7km dari Masjidil Haram. Bus Shalawat selalu hadir untuk mengantarnya menuju tempat suci itu.


Biasanya, dari hotel, ia diantar menuju terminal Syiib Amir. Dari situ, ia jalan kaki menuju Masjidil Haram. Dari titik itu pula, ia mengantre untuk mendapatkan Bus Shalawat menuju hotelnya.


Ia mengungkapkan bahwa Bus Shalawat tidak ada jam keberangkatan. Selagi penuh atau tak lagi ada penumpang, bus akan langsung bertolak menuju terminal terdekat ke Masjidil Haram.


Nisa terkadang bersama ibunya menuju Masjidil Haram. Kursi roda yang memudahkannya berjalan di sana dinaikkan ke Bus Shalawat itu. "Selama di sini, ibu pakai Bus Shalawat. Pakai kursi roda. Digotong di atas (masuk dalam bus)," katanya.


Biasanya, sekali jalan dengan Bus Shalawat, ia akan sekaligus untuk dua kali jamaah shalat. Ia bisa naik bus sekitar pukul 9 atau 10 untuk shalat Dzuhur dan Ashar.

Selepas jamaah Ashar, ia pulang. Sementara untuk jamaah shalat Maghrib dan Isya, biasanya ia berangkat pukul 5 sore. Terkadang, ia juga berangkat pukul 2 dinihari untuk berjamaah Subuh sekaligus shalat Duha dan pulang di pukul 8 pagi.

Baca Artikel Selengkapnya