20 Tahun Tsunami Pangandaran, BMKG Ingatkan Mitigasi Tak Boleh Berhenti pada Teknologi

6 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa penguatan mitigasi bencana tidak boleh hanya bertumpu pada kemajuan teknologi. Peringatan dua dekade bencana tsunami Pangandaran harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem mitigasi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman tsunami.


Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa tsunami Pangandaran menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah penanggulangan bencana nasional. Peristiwa itu memperlihatkan bahwa setelah tragedi Aceh pada 2004, Indonesia masih memerlukan sistem peringatan dini tsunami yang komprehensif dan terintegrasi, mulai dari penguatan teknologi hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.


Hal tersebut ia sampaikan dalam Webinar bertajuk A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami Understanding the Past and Strengthening the Future Resilience yang digelar secara daring pada Kamis (16/7/2026).


“Selama dua dekade terakhir, sistem peringatan dini tsunami Indonesia telah mengalami transformasi yang sangat signifikan. Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) kini didukung jaringan sensor seismik real-time, ratusan stasiun pemantauan muka air laut, serta komputasi berperforma tinggi sehingga mampu menyampaikan informasi gempa dan peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi,” ujarnya.


Faisal menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan memberikan manfaat optimal apabila tidak dibarengi dengan kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan sistem peringatan dini sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam memahami informasi yang disampaikan dan mengambil tindakan yang tepat ketika ancaman tsunami terjadi.


Senada, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengungkapkan bahwa tsunami merupakan bencana yang frekuensinya relatif jarang sehingga kesadaran masyarakat berpotensi menurun seiring berjalannya waktu.


“Kesiapsiagaan hanya dapat terwujud apabila kesadaran tetap hidup. Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang tragedi, tetapi memastikan pelajaran dari masa lalu tidak terulang bagi anak cucu kita,” ujarnya.


Sementara itu, Perwakilan Sekretariat UNESCO-IOC, Srinivasa Kumar Tummala menyampaikan bahwa kecepatan sistem tersebut harus diimbangi dengan kesiapan pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil keputusan evakuasi agar risiko korban jiwa dapat diminimalkan.


“Teknologi saja tidak cukup, efektivitas sistem peringatan dini sangat bergantung pada masyarakat yang memahami risiko, mempercayai informasi peringatan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat peringatan diberikan,” ujarnya.

Baca Artikel Selengkapnya