Trump Murka ke Jurnalis NBC, Minta FCC Hukum, Begini Respons NBC

54 menit yang lalu 1

Presiden Donald Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —  Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangan keras terhadap jurnalis NBC News Kristen Welker dan meminta Komisi Komunikasi Federal AS atau Federal Communications Commission (FCC) mengambil tindakan terhadapnya. Kemarahan Trump dipicu komentar Welker yang menyebut kandidat-kandidat yang didukung presiden dalam pemilihan pendahuluan menjelang pemilu paruh waktu 2026 memperoleh hasil yang “beragam”.

Dalam unggahan di Truth Social pada Ahad (30/8/2026), Trump menuduh pernyataan moderator program Meet the Press itu sebagai “ketidakakuratan yang disengaja”. Ia bahkan mengatakan Welker akan dilaporkan ke FCC untuk mendapat “teguran atau hukuman”.

Trump juga mempertanyakan bagaimana komentar seperti itu dapat disampaikan melalui jaringan yang menggunakan frekuensi publik. Ia kemudian menyebut pers sebagai aib bagi Amerika Serikat dan secara langsung meminta Ketua FCC Brendan Carr menangani persoalan tersebut dengan serius. “Karena ketidakakuratan yang disengaja ini, dia akan dilaporkan ke FCC untuk mendapat teguran atau hukuman,” kata Trump dalam unggahannya.

Serangan itu bermula dari komentar singkat Welker ketika tampil dalam siaran langsung di WRC-TV, stasiun afiliasi NBC di Washington, D.C., sebelum penayangan Meet the Press. Ketika berbicara mengenai pengaruh Trump terhadap pemilu sela November mendatang, Welker mengatakan presiden telah memberikan dukungan kepada sejumlah kandidat dalam pemilihan pendahuluan dan memperoleh “some mixed results” atau hasil yang beragam. Komentar tersebut bahkan tidak disampaikan dalam episode Meet the Press yang kemudian ditayangkan.

NBC News langsung membela Welker. “Kristen adalah salah satu yang terbaik di bidang ini dan kami mendukungnya,” kata juru bicara NBC sebagaimana dikutip Reuters.

Trump Klaim Rekor Endorsement Nyaris Sempurna

Trump membantah keras gambaran bahwa kandidat yang didukungnya memperoleh hasil campuran. Ia mengklaim dukungannya merupakan salah satu endorsement politik paling kuat dalam sejarah dan menunjuk tingginya tingkat kemenangan kandidat pilihannya dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik.

Data memang menunjukkan mayoritas besar kandidat yang didukung Trump berhasil memenangi primary. Namun gambaran tersebut lebih kompleks daripada sekadar persentase kemenangan yang sangat tinggi.

Analisis The New York Times pada 26 Agustus mencatat Trump telah mendukung sedikitnya 260 kandidat untuk DPR, Senat, dan gubernur sepanjang siklus primary 2026. Dari jumlah itu, ketika analisis tersebut diterbitkan, hanya sembilan kandidat yang kalah. Namun sebagian besar kandidat pilihan Trump merupakan petahana atau maju dalam kontestasi yang relatif aman, termasuk pemilihan tanpa lawan.

Dengan demikian, klaim Trump mengenai tingkat kemenangan yang sangat tinggi mempunyai dasar pada angka keseluruhan. Namun penyebutan Welker mengenai hasil “beragam” juga tidak muncul tanpa dasar, karena sejumlah kandidat yang didukung Trump memang mengalami kekalahan.

sumber : Antara

Baca Artikel Selengkapnya