Trump Batalkan Utusan AS ke Pakistan, Klaim Iran Punya Tawaran Baru

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump membatalkan perjalanan utusannya ke Islamabad, Pakistan, untuk perundingan damai dengan Iran. Ia juga mengklaim mendapatkan tawaran baru yang "lebih baik" dari Iran.

Menurut presiden Amerika Serikat tersebut, ia membatalkan perjalanan utusannya pada Sabtu (25/4) waktu setempat karena tidak terkesan dengan posisi negosiasi Teheran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik, dan yang menarik, segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami mendapat dokumen baru yang jauh lebih baik," kata Trump tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Seperti diberitakan AFP pada Minggu (26/4) waktu Indonesia, semula Gedung Putih mengatakan mereka mengirim menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff untuk pergi ke Pakistan melakukan pembicaraan dengan Iran.

Pembicaraan tersebut menjadi langkah untuk bergerak "menuju kesepakatan". Namun Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dia telah membatalkan perjalanan tersebut.

"Kita memegang kendali penuh. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja, tetapi kalian tidak akan lagi melakukan penerbangan 18 jam hanya untuk duduk dan berbicara tanpa tujuan," kata presiden kepada timnya.

Tak lama sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakhiri kunjungan ke Islamabad setelah bertemu dengan kepala militer Pakistan Asim Munir yang menjadi mediator kunci, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar.

Iran mengatakan Araghchi berangkat ke Muscat dan akan kembali ke Pakistan setelah pertemuan di Oman, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia untuk pembicaraan upaya mengakhiri perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari tersebut.

Araghchi menggambarkan perjalanannya ke Pakistan "sangat bermanfaat", tetapi mengisyaratkan skeptisisme atas niat Washington. "Belum kita lihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi," katanya.

Sementara itu, Tekanan untuk mengakhiri perang semakin meningkat karena Selat Hormuz yang menjadi jalur vital dari perdagangan minyak dan gas tetap ditutup. Namun, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka tidak berniat mencabut blokade yang telah mengguncang pasar energi tersebut.

"Mengendalikan Selat Hormuz dan mempertahankan bayang-bayang efek pencegahannya terhadap Amerika dan pendukung Gedung Putih di kawasan itu adalah strategi pasti Iran Islam," kata Garda Revolusi di saluran Telegram resmi mereka.

Sebagai balasan, Amerika Serikat telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Menanggapi hal tersebut, lewat siaran media pemerintah, militer Iran memperingatkan bahwa "pemblokiran, perampokan, dan pembajakan" yang terus dilakukan AS akan memicu respons.

Upaya untuk melanjutkan pembicaraan AS-Iran telah terhenti, karena Teheran menolak untuk terlibat selama blokade angkatan laut masih berlaku. Iran hanya mengizinkan pengiriman terbatas melalui selat tersebut.

(afp/end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya