Tekanan belum reda, ekonom prediksi BI-Rate bertahan di 4,75 persen

1 bulan yang lalu 26

Jakarta (ANTARA) - Para ekonom memperkirakan BI-Rate masih tetap bertahan pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2026, seiring tekanan eksternal yang masih berlangsung serta meningkatnya risiko inflasi jika harga energi global terus meningkat.

“Ruang cut rate sudah habis karena ekspektasi inflasi yang lebih tinggi,” kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Ia juga memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah dalam jangka pendek, yakni sekitar satu hingga tiga bulan ke depan, masih akan menghadapi tekanan yang cukup kuat sehingga cenderung bergerak di kisaran Rp17.000-an.

Secara terpisah, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memandang ruang penurunan BI-Rate ke depan akan semakin kecil, mengingat kondisi geopolitik yang kemungkinan tidak akan cepat berakhir.

Baca juga: Gubernur BI: Ruang penurunan BI-Rate makin tertutup di tengah perang

Ia mencatat bahwa saat ini sentimen terhadap rupiah mulai menunjukkan perbaikan. Namun demikian, terdapat pola musiman pada kuartal kedua berupa pembayaran imbal hasil aset domestik kepada investor nonresiden yang masih memberikan tekanan terhadap rupiah.

Memasuki semester kedua, rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk menguat, terutama karena saat ini berada pada level yang relatif undervalued.

Menurutnya, penguatan ke bawah Rp17.000 dolar per AS masih terbuka, dengan catatan pertumbuhan ekonomi tetap resilien, inflasi terjaga, serta keberlanjutan fiskal tetap kuat, terutama melalui perbaikan dari sisi penerimaan negara.

“Jika semua hal tersebut dapat terwujud maka bisa jadi katalis positif Indonesia. Meski jika pun ke bawah Rp17.000 per dolar AS, namun masih di kisaran Rp16.800-16.900 per dolar AS,” kata Faisal.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya