Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 23: Ayat yang Dibacakan kepada Delegasi Hamas dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

1 jam yang lalu 3

Di balik setiap peristiwa politik, terkadang tersimpan bahasa yang tidak disampaikan melalui pidato. Ia hadir dalam bentuk simbol, isyarat, bahkan potongan ayat suci. Bahasa seperti inilah yang kerap luput dari perhatian, padahal justru menyimpan pesan yang paling menarik untuk dibaca.

Hal itu tampak dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Di hadapan ribuan pelayat dan berbagai delegasi dari sejumlah negara serta kelompok, panitia tidak hanya menyambut para tamu dengan seremoni kenegaraan. Mereka juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang berbeda kepada setiap delegasi yang hadir.

Delegasi Qatar disambut dengan Surah Al-Fath ayat 2. Delegasi Turki dengan Surah An-Nisa ayat 95. Arab Saudi dengan Surah Ali Imran ayat 13. Pakistan dengan Surah Ali Imran ayat 200. Hizbullah dengan Surah Ali Imran ayat 139–140. Delegasi Houthi dengan Surah Al-Fath ayat 29. Adapun delegasi Hamas disambut dengan pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 23.

Mengapa setiap delegasi memperoleh ayat yang berbeda?

Mengutip laporan Middle East Eye, pemilihan ayat-ayat tersebut dipahami sebagai simbol diplomatik yang mencerminkan cara Teheran memandang posisi, hubungan, maupun sikap masing-masing pihak yang hadir dalam prosesi tersebut. Dengan kata lain, ayat-ayat itu tidak sekadar dibacakan sebagai pembuka acara, tetapi juga mengandung pesan simbolik menurut pembacaan media tersebut.

Terlepas dari benar atau tidaknya seluruh tafsir politik di balik pemilihan ayat-ayat tersebut, satu hal tetap menarik untuk dikaji: mengapa Surah Al-Ahzab ayat 23 dipilih untuk menyambut delegasi Hamas? Apa sebenarnya makna ayat itu menurut para ulama tafsir?


Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita membaca terlebih dahulu firman Allah dari Surat Al-Ahzab ayat 23:


مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ

Artinya: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)”.

Alasan Penamaan Surat Al-Ahzab 

Sebelum memasuki pembahasan terkait penafsiran Surat Al-Ahzab di atas, alangkah baiknya kita mengetahui alasan penamaan surat ini dengan nama Al-Ahzab karena akan berkaitan dengan penafsiran ayat di atas. 

Lafadz Al-Ahzab yang digunakan sebagai nama pada Surat ini memiliki makna “beberapa golongan yang bersekutu atau aliansi”. Hal tersebut merujuk pada peristiwa peperangan antara kaum muslimin dengan beberapa gabungan dari golongan kaum musyrik Quraish, Yahudi dan beberapa golongan lainnya.

Dengan jumlah 10.000 personel, mereka berkumpul disekitar kota Madinah untuk melakukan pengepungan dan penyerangan terhadap umat Islam sedangkan umat Islam hanya berjumlah 3000 pasukan.

Oleh karenanya peperangan ini disebut dengan perang Ahzab. Nama lainnya ialah perang Khandaq (parit) karena pada saat itu umat Islam membuat parit untuk menghadang kaum musyrik lewat usulan Salman Al-Farisi.

Perang Ahzab sendiri dipicu oleh seruan dan ajakan orang-orang Yahudi saat itu kepada beberapa kelompok dan pembesar suatu suku, lantaran mereka sangat emosi dan merasa sangat terhina ketika melihat kaum Muslimin semakin luar biasa dan semakin luas dalam menyebarkan agama Islam. 

Tidak hanya itu, kaum Yahudi merasa iri ketika melihat keuntungan yang selalu diraih umat Islam. Kaum Yahudi mulai membangun strategi, dengan cara melakukan konspirasi baru untuk mengumpulkan pasukan yang banyak, guna menyerang kaum Muslimin.

Simak penjelasan Syekh Wahbah Az-Zuhaili berikut:

وكان سبب الوقعة اليهود، فقد خرج نفر من بني النضير وبني قريظة، فقدموا على قريش بمكة، فدعوهم إلى حرب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم، وقالوا لهم: إن دينكم خير من دينه، ثم جاؤوا غطفان وقيسا وعيلان وبني مرة وأشجع، فدعوهم إلى الحرب في المدينة، فتوافق المعسكران: الوثني والكتابي على تكوين جيش موحد بقيادة أبي سفيان، فنزلوا أمام المدينة

Artinya: “Adapun sebab terjadinya perang Khandaq adalah ulah orang Yahudi. Keluar sebagian golongan dari Bani Nudair dan Bani Quraizhah, kemudian menghadap orang-orang Quraisy di Makkah, lantas mereka mengajaknya untuk memerangi Rasulullah Saw.

Mereka berkata kepada orang-orang Quraisy: sesungguhnya agama kalian lebih baik dari agama Muhammad. Setelah itu, mereka menghadap kelompok Ghatafan, Kaisan, Ilan, Bani Marrah, dan Asja’, dan mengajaknya untuk berperang ke Madinah, maka kedua kelompok (kafir penyembah barhala, dan ahli kitab) sepakat untuk membentuk tentara di bawah kepemimpinan Abu Sufyan” (Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsirul Munir Lil Zuhaili, [Damaskus: Darul Fikr], juz 21, hal 263).

Perang ini berakhir dengan kemenangan umat Islam lewat kecerdikan Nuaim bin Mas’ud dan pertolongan Allah Swt. Nuaim yang pada saat itu belum diketahui telah masuk Islam oleh orang-orang musyrik dan Yahudi berhasil memprovokasi pemimpin dari tiap golongan agar tidak menyerang umat Islam.

Tidak hanya itu, Allah Swt kemudian memberikan pertolongan kepada umat Islam dengan mengirimkan angin yang membuat golongan kaum muysrik dan Yahudi mengurungkan niatnya untuk menyerang umat Islam. Kejadian tersebut menjadi bukti kebenaran firman Allah, yang telah menjanjikan kemenangan pada Nabi-Nya dan bahkan akan menghancurkan pihak yang  berseberangan dengan umat Islam saat itu. (Lihat Surat Al-Ahzab ayat 9).


Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 23

Surat Al-Ahzab ayat 23 merupakan penjelasan dari Allah Swt atas komitmen yang dilakukan oleh umat Islam yang bertahan di sisi Rasulullah Saw dalam membela agama Islam. Darinya terdapat 2 golongan yang disebutkan, golongan umat Islam yang telah menunaikan janjinya dan wafat di jalan Allah dan golongan yang menunggu janjinya dapat ditunaikan.

Simak penjelasan Syekh Nawawi Banten berikut:


أي أتوا بالصدق في عهدهم من الثبات مع الرسول، أي من الصحابة رجال نذورا أنهم إذا لقوا حربا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ثبتوا وقاتلوا حتى يستشهدوا، وهم عثمان بن عفان، وطلحة بن عبيد الله، وسعيد بن زيد وعمرو بن نفيل، وحمزة، ومصعب بن عمير، وأنس بن النضر وغيرهم

Artinya: “Mereka menepati janji kepada Allah dengan berkomitmen bersama Rasulullah Saw. Dari kalangan Sahabat terdapat orang-orang yang bernadzar bahwa ketika mereka menjumpai peperangan bersama Rasulullah, mereka akan teguh berperang hingga wafat dalam keadaan syahid. Mereka adalah Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Said bin Zaid, Amr bin Nufail, Hamzah, Mush’ab bin Umair, Anas bin Nadhar dan yang lainnya”. (Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah], juz 2, hal 250).

Pertama, golongan umat Islam yang telah menunaikan janjinya kepada Allah Swt. Mereka berjanji untuk tetap di sisi Rasulullah Saw, berkomitmen untuk berjihad di jalan Allah Swt dan wafat dalam keadaan Syahid. Di antara golongan yang disebutkan di atas, Hamzah, Mush’ab bin Umair dan Anas bin Nadhar ialah yang telah wafat syahid di jalan Allah. 

Kedua, golongan yang menunggu dengan yakin dapat memenuhi janjinya. Contohnya sebagaimana Utsman bin Affan dan Thalhah yang wafat syahid setelahnya.

Kedua golongan umat Islam tersebut telah menunaikan janjinya kepada Allah dengan komitmen yang kuat untuk membela agama Allah. Hingga pada akhirnya, Allah Swt akan membalas komitmen mereka dengan balasan yang setimpal sebagaimana tercantum pada ayat selanjutnya.


لِيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَاۤءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ

Artinya: “agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya dan mengazab orang munafik jika Dia menghendaki atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 24).

Jika Surat Al-Ahzab ayat 23 dibacakan untuk menyambut delegasi Hamas, maka secara simbolik ayat itu dapat dipahami sebagai penegasan terhadap makna keteguhan, kesetiaan, dan komitmen perjuangan. Ayat ini memuat citra orang-orang yang tidak menjual prinsipnya, yang tidak bergeser dari janji, dan yang tidak memalingkan muka ketika ujian datang.

Tentu saja, penafsiran simbolik semacam ini tetap perlu dibaca dengan cermat. Sebab Al-Qur’an selalu lebih luas daripada kepentingan politik sesaat. Ia bisa dipakai untuk membaca konteks sejarah, tetapi juga menyodorkan pelajaran moral lintas zaman. Maka, Surah Al-Ahzab ayat 23 tidak semata-mata bicara tentang satu kelompok, melainkan tentang setiap insan yang menjadikan janji kepada Allah sebagai pegangan hidup.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ayat ini memiliki dua daya sekaligus. Di satu sisi, ia berakar kuat dalam sejarah perang Ahzab. Di sisi lain, ia melampaui sejarah itu dan menjadi cermin bagi siapa pun yang ingin mengukur kejujuran dirinya sendiri: apakah ia benar-benar menepati janji, atau sekadar pandai mengucapkannya.

------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu

Baca Artikel Selengkapnya