“Memberi nasihat kepada orang lain sangat mudah, yang sulit itu menerimanya.” Begitulah kira-kira nasihat Imam Al-Ghazali kepada salah satu muridnya. (Lihat: Ayyuhal Walad, [Beirut: Darul Minhaj, 2014], hlm. 38).
Nasihat tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Sebab, hati yang kotor membuat seseorang sulit menerima nasihat. Sebaliknya, hati yang bersih akan lebih mudah menerima nasihat, dari siapa pun datangnya.
Pesan Imam Al-Ghazali ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang, terutama di media sosial. Banyak orang gemar membuat unggahan berisi nasihat atau kata-kata motivasi. Namun, ketika dirinya mendapat kritik atau nasihat dari orang lain, tidak sedikit yang justru tersinggung, merasa dimarahi, bahkan menganggapnya sebagai hinaan.
Padahal, mereka sendiri sering menasihati orang lain. Menariknya, sikap menghindari nasihat ini telah digambarkan dalam Al-Qur'an. Orang-orang yang berpaling dari peringatan dan kebenaran diibaratkan seperti keledai liar yang lari ketakutan ketika melihat singa.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Muddatstsir ayat 49–51:
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَ ۙ كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌ ۙ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ
Artinya, "Lalu, mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah) seakan-akan mereka keledai liar yang terkejut lari dari singa." (QS. Al-Muddatstsir [74]: 49–51).
Lantas, mengapa Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang menghindari nasihat seperti keledai liar? Apa kesamaan di antara keduanya?
Mengapa Diibaratkan seperti Keledai Liar?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui bahwa ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang-orang kafir Quraisy yang berpaling dari peringatan Al-Qur'an. Meskipun telah mendapat seruan untuk beriman, mereka tetap menolak dan tidak mau menerima kebenaran.
Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Muqatil dalam kitab tafsirnya:
نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي كُفَّارِ قُرَيْشٍ حِينَ أَعْرَضُوا وَلَمْ يُؤْمِنُوا، ثُمَّ شَبَّهَهُمْ بِالْحُمُرِ الْوَحْشِيَّةِ الْمَذْعُورَةِ
Artinya, "Ayat ini turun berkenaan dengan berpalingnya kaum kafir Quraisy (dari Al-Qur'an) dan mereka tidak mau beriman. Kemudian mereka diumpamakan seperti keledai liar yang ketakutan." (Imam Muqatil, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, [Beirut: Daru Ihya'it Turats, 1423 H], jilid IV, hlm. 499–500).
Ajakan untuk beriman yang telah disampaikan secara tegas melalui Al-Qur'an seolah tidak mereka hiraukan. Bahkan, ketika mendengar Nabi Muhammad SAW membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, mereka justru menghindar. Karena itulah, sikap mereka diibaratkan seperti keledai liar yang langsung lari ketakutan ketika melihat singa.
Lalu, di mana letak kesamaannya? Imam Khazin dalam tafsirnya menjelaskan:
وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: هِيَ الْأَسَدُ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْحُمُرَ الْوَحْشِيَّةَ إِذَا عَايَنَتِ الْأَسَدَ هَرَبَتْ، فَكَذَلِكَ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكُونَ إِذَا سَمِعُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ هَرَبُوا مِنْهُ؛ شَبَّهَهُمْ بِالْحُمُرِ فِي الْبَلَادَةِ وَالْبَلَهِ، وَذَلِكَ أَنَّهُ لَا يُرَى مِثْلُ نِفَارِ حُمُرِ الْوَحْشِ إِذَا خَافَتْ مِنْ شَيْءٍ.
Artinya, "Sahabat Abu Hurairah berkata: 'Kata qaswarah artinya singa. Hal itu karena ketika keledai liar melihat singa, mereka lari ketakutan. Begitu pula orang-orang musyrik, apabila mereka mendengar Nabi SAW membaca Al-Qur'an, mereka lari darinya.
"Beliau menyerupakan mereka dengan keledai dalam hal kebodohan dan kedangkalan akal, karena tidak ada yang menandingi larinya keledai liar ketika mereka takut terhadap sesuatu (mendengar suara manusia)'." (Imam Khazin, Tafsirul Khazin, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah, 1995], jilid IV, hlm. 367).
Dari penjelasan Imam Khazin tersebut, letak kesamaannya ada pada sikap menghindar dan ketidakmauan menerima kebenaran. Sebagaimana keledai liar yang lari ketakutan ketika melihat singa, kaum musyrik juga menjauh ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.
Dalam penafsiran tersebut, sikap mereka juga digambarkan sebagai bentuk kebodohan dan kedangkalan akal. Sebab, sesuatu yang seharusnya didengarkan dan direnungkan justru mereka hindari.
Menolak Kebenaran Tanpa Alasan yang Jelas
Penjelasan serupa disampaikan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab At-Tafsirul Munir dengan mengutip perkataan Ibnu Abbas. Beliau menjelaskan lebih jauh alasan orang-orang musyrik diibaratkan seperti keledai liar.
Simak penjelasan berikut:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْحُمُرُ الْوَحْشِيَّةُ إِذَا عَايَنَتِ الْأَسَدَ هَرَبَتْ، كَذَلِكَ هَؤُلَاءِ الْمُشْرِكُونَ، إِذَا رَأَوْا مُحَمَّداً هَرَبُوا مِنْهُ، كَمَا يَهْرُبُ الْحِمَارُ مِنَ الْأَسَدِ، وَهَذَا التَّشْبِيهُ فِي غَايَةِ التَّقْبِيحِ وَالتَّهْجِينِ لِحَالِهِمْ، وَإِعْلَامِهِمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ بُلْهٌ
وَالْآيَةُ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ إِعْرَاضَهُمْ عَنِ الْحَقِّ وَالْإِيمَانِ بِغَيْرِ سَبَبٍ ظَاهِرٍ مُقْنِعٍ وَلَا اسْتِعْدَادٍ لِلتَّفَاهُمِ وَالِاقْتِنَاعِ، فَفِي تَشْبِيهِهِمْ بِالْحُمُرِ مَذَمَّةٌ ظَاهِرَةٌ، وَنِدَاءٌ عَلَيْهِمْ بِالْبَلَادَةِ وَالْغَبَاوَةِ، وَعَدَمِ التَّأَثُّرِ مِنْ مَوَاعِظِ الْقُرْآنِ، بَلْ صَارَ مَا هُوَ سَبَبٌ لِاطْمِئْنَانِ الْقُلُوبِ مُوجِباً لِنَفْرَتِهِمْ
Artinya, "Ibnu Abbas berkata, 'Keledai liar apabila melihat singa, mereka lari ketakutan. Begitu pula orang-orang musyrik itu, jika mereka melihat Nabi Muhammad, mereka lari darinya, sebagaimana keledai lari dari singa'.
“Penyerupaan ini merupakan puncak keburukan dan penghinaan terhadap keadaan mereka, dan pemberitahuan kepada mereka bahwa mereka adalah kaum yang bodoh.
"Ayat ini menjadi dalil bahwa sikap berpaling mereka dari kebenaran dan keimanan dilakukan tanpa alasan lahiriah yang meyakinkan, tanpa kesiapan untuk memahami dan diyakinkan. Penyerupaan mereka dengan keledai ini merupakan celaan yang nyata, seruan yang memberitahukan kebodohan dan ketololan mereka, serta ketidakterpengaruhan oleh nasihat-nasihat Al-Qur'an.
“Bahkan, apa yang seharusnya menjadi penyebab ketenangan hati, justru menjadi pemicu kebencian atau keengganan bagi mereka." (Syekh Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Beirut: Darul Fiqr, 2009 M], jilid XV, hlm. 261–262).
Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa perumpamaan keledai liar bukan sekadar menggambarkan orang yang tidak mau mendengar nasihat. Lebih dari itu, perumpamaan tersebut menunjukkan sikap kaum musyrik yang menolak kebenaran tanpa alasan yang meyakinkan dan tanpa kemauan untuk memahaminya.
Bagaimana tidak? Ayat-ayat Al-Qur'an yang seharusnya menjadi petunjuk dan menenangkan hati justru membuat mereka menjauh. Bukannya mendengarkan dan merenungkan pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, mereka malah menghindarinya. Inilah sikap yang mendapat celaan dalam ayat tersebut.
Ala kulli hal, di era digital yang dipenuhi nasihat dan kata-kata motivasi di layar media sosial, ayat ini memberikan pelajaran yang masih relevan hingga sekarang.
Kita mungkin mudah menasihati orang lain, tetapi belum tentu siap ketika giliran diri sendiri yang mendapat nasihat. Tidak jarang, kritik yang sebenarnya disampaikan untuk kebaikan justru dianggap sebagai serangan pribadi.
Padahal, kebiasaan menghindari nasihat, terutama ketika nasihat tersebut mengandung kebenaran, dapat membuat seseorang semakin sulit memperbaiki dirinya. Tentu, nasihat dan kritik juga perlu disampaikan dengan cara yang baik. Namun, ketika ada orang yang mengingatkan kesalahan kita, sudah sepatutnya kita mendengarkannya terlebih dahulu, bukan langsung menolak atau tersinggung.
Walhasil, ayat dan penjelasan para ulama tafsir di atas memberikan satu pelajaran penting, yaitu menerima nasihat merupakan sikap yang perlu dibiasakan, meskipun terkadang terasa pahit. Ibarat meminum jamu, rasanya mungkin tidak enak di awal, tetapi kita tetap meminumnya karena mengetahui manfaatnya. Wallahu a'lam bis-shawab.
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

4 jam yang lalu
5



English (US) ·
Indonesian (ID) ·