Survei YouGov: Pembiayaan bank dinilai berandil pada perubahan iklim

3 minggu yang lalu 20

Jakarta (ANTARA) - Hasil survei YouGov atas penugasan Market Forces menunjukkan mayoritas responden Indonesia, yakni 60 persen atau tiga dari lima orang, percaya perbankan berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim jika terus mendanai tambang dan pembangunan pembangkit listrik batu bara.

"Sekitar 71 persen warga Indonesia juga percaya bahwa bank seharusnya tidak mendanai perusahaan atau proyek dengan emisi gas rumah kaca tinggi yang memperburuk perubahan iklim," kata Juru Kampanye Market Forces di Indonesia Ginanjar Ariyasuta dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

“Ini adalah alarm penting, bukan hanya bagi perbankan, tetapi juga bagi industri mineral kritis di Indonesia. Survei ini harus ditanggapi serius oleh bank dalam menentukan ke mana mereka akan mengalokasikan dana di masa mendatang,” lanjutnya.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 43 persen warga Indonesia akan mempertimbangkan untuk mengganti bank mereka jika masih membiayai proyek batu bara baru.

Baca juga: Surveyor Indonesia: Dunia usaha perlu mitigasi risiko perubahan iklim

Sebanyak 54 persen warga Indonesia juga tidak akan mempercayai perbankan yang mengaku menghentikan pembiayaan proyek batu bara, tetapi masih membiayai perusahaan yang membangun proyek tersebut.

Di samping itu, sebanyak 66 persen warga Indonesia berharap ketika bank berkomitmen untuk tidak lagi membiayai proyek batu bara baru, hal itu juga diimplementasikan untuk semua jenis proyek batu bara, termasuk PLTU captive yang dibangun untuk kebutuhan industri, seperti smelter nikel dan aluminium.

Hasil survei bertajuk “Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore” turut memotret pandangan masyarakat Malaysia dan Singapura.

Survei terhadap responden 4.000 orang di tiga negara tersebut dilakukan pada Maret 2026, dengan 2.000 responden di antaranya berasal dari Indonesia.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya