Parapat, Sumut (ANTARA) - Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan arah kebijakan moneter tidak berubah meski terjadi perubahan kepemimpinan yakni tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
"Saya ingin menekankan bahwa dengan formasi kami sekarang saat ini, posisi kebijakan Bank Indonesia tetap sama. Tidak berubah dibandingkan dengan stance sebelumnya," kata Destry dalam paparannya secara daring di pertemuan dengan redaktur media massa di Parapat, Sumatera Utara, Jumat.
Kepemimpinan di Bank Sentral berubah setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada Sabtu (26/7), mengakhiri masa 8 tahun kepemimpinannya.
Sesuai UU Bank Indonesia, jika terjadi kekosongan jabatan, posisi Gubernur BI secara otomatis dijalankan oleh Pejabat Gubernur Sementara (PGS/Pjs) dari Deputi Gubernur Senior, hingga Presiden mengusulkan calon dan memperoleh persetujuan DPR untuk menetapkan gubernur definitif.
Destry menjelaskan fokus utama BI tetap menjaga stabilitas rupiah dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki. Bank sentral juga terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), untuk memperkuat stabilitas sektor eksternal.
Menurut dia, ketidakpastian global masih tinggi, terutama akibat prospek suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve yang diperkirakan bertahan pada level tinggi lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut berpotensi memberi tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga: Airlangga sebut sistem BI tetap solid di bawah gubernur baru
Baca juga: BI tata struktur industri sistem pembayaran hadapi risiko digital
The Fed pada pengumuman pertengahan pekan ini, Rabu (29/7) mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50-3,75 persen, namun dengan sinyalemen kenaikan suku bunga pada waktu ke depan.
Karena hal itu, ditambah juga dengan dinamika inflasi global, BI tetap mengutamakan stabilitas nilai tukar dan menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran.
Namun, selain menjaga stabilitas moneter, BI juga memastikan berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, antara lain melalui kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.
Di sektor perbankan, Destry mengatakan BI terus memperkuat fungsi intermediasi agar penyaluran kredit kepada dunia usaha, termasuk UMKM dan sektor prioritas, meningkat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta anggota lainnya di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Sementara itu, dalam pengendalian inflasi pangan, BI terus mengoptimalkan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
"Kami tetap memfokuskan stabilitas dengan mengoptimalkan berbagai instrumen dan berbagai kebijakan yang kami miliki. Untuk pertumbuhan, tentu kami akan mengoptimalkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, atau termasuk juga kebijakan kami dalam mengembangkan UMKM dan juga ekonomi syariah pula dan juga termasuk ekonomi hijau," ujar Destry.
Baca juga: BI reformasi aturan industri sistem pembayaran lewat tujuh penguatan
Baca juga: Guru Besar UI: Gubernur BI baru harus bisa seimbangkan dua tujuan
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·