Rupiah diprediksi melemah seiring tensi geopolitik yang memanas

2 jam yang lalu 5

Jakarta (ANTARA) - Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan cenderung melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, seiring tensi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) antara AS dengan Iran yang memanas.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timteng,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Namun, lanjut Lukman, pelemahan akan terbatas seiring mulai membaiknya sentimen domestik akhir-akhir ini.

“Dari RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) kemarin, walau mempertahankan tingkat suku bunga, namun langkah BI memberi insentif baru yang di antaranya mengurangi biaya transaksi lindung nilai valuta asing dengan bank sentral dan mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, diharapkan bisa mendukung rupiah,” ungkap dia.

Sementara itu, kurs rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, bergerak menguat 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.914 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.917 per dolar AS.

BI memilih untuk menempuh kebijakan pemberian insentif kepada investor melalui kenaikan dan perluasan insentif pengurangan premi guna mendorong arus masuk investasi portofolio asing daripada menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) pada Juli 2026.

Insentif itu berupa kenaikan insentif bagi swap jual lindung nilai (swap beli lindung nilai kepada BI) dari 10 persen menjadi sebesar 12,5 persen, serta perluasan insentif bagi DNDF (domestic non-deliverable forward) jual lindung nilai sebesar 15 persen.

Karena itu, Lukman merasa keputusan BI menahan suku bunga dapat dimengerti mengingat tekanan internal mereda kendati sentimen eksternal memburuk.

“Apabila perkembangan di Timteng tidak membaik, BI mungkin akan baru menaikkan kembali dalam pertemuan berikutnya,” katanya.

Mengutip Sputnik, AS telah mengerahkan kembali pesawat tempur siluman F-35 generasi kelima dan pesawat tempur F-16 dari Eropa ke Timteng.

Dalam sepekan terakhir, Washington juga dilaporkan mengerahkan pasukan operasi khusus serta skuadron tambahan pesawat tempur ke kawasan tersebut. Sementara itu, pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di Inggris disebut telah berada dalam status siap tempur untuk kemungkinan operasi militer berskala besar.

Baca juga: Rupiah pada Kamis pagi menguat jadi Rp17.914 per dolar AS

Baca juga: Ekonom Bank Danamon proyeksikan BI-Rate 6,25 persen akhir 2026

Baca juga: BI pilih insentif guna tarik portofolio asing ketimbang kerek BI-Rate

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya