Jakarta (ANTARA) - Indonesia memiliki bantalan eksternal yang kuat. Tetapi ketahanan eksternal itu tetap bergantung pada kemampuan menghasilkan penerimaan valuta asing baru.
Devisa yang sudah diperoleh Indonesia perlu dikelola secara produktif tanpa mengurangi kemampuan sektor ekspor menghasilkan devisa berikutnya.
Data yang ada menunjukkan cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka itu berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor dan menunjukkan posisi eksternal yang relatif kuat.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi Indonesia untuk melihat kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) secara lebih strategis.
Tujuannya bukan sekadar memastikan devisa hasil ekspor berada di dalam negeri, melainkan mengarahkannya agar memberi manfaat bagi perekonomian tanpa mengganggu likuiditas kegiatan usaha penghasil devisa.
Kebutuhan menjaga keseimbangan tersebut membuat pengelolaan DHE tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kegiatan usaha. Sektor penghasil devisa tetap membutuhkan ruang untuk berproduksi, berinvestasi, memenuhi kebutuhan barang modal dan bahan baku, serta memperluas pasar.
Menahan secara produktif
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·