JAKARTA -- Rudal pertahanan udara buatan Israel kini menjadi bagian dari persenjataan Siprus, pulau yang terletak di dekat wilayah selatan Turki dan telah menjadi sumber perselisihan kedua negara selama lebih dari setengah abad. Kehadiran Barak MX dengan kemampuan pencegatan hingga 150 kilometer menambah kompleksitas persaingan militer Mediterania Timur.
Namun, persoalan yang lebih besar bagi Ankara bukan sekadar seberapa jauh rudal Israel dapat menjangkau sasaran, melainkan apakah jaringan pertahanan udara Turki sudah cukup kuat menghadapi ancaman modern ketika sistem pertahanan nasionalnya masih dibangun secara bertahap.
Pemerintah Turki mempunyai alasan untuk memperhatikan perubahan tersebut. Selain mempertahankan pasukan dalam jumlah besar di Siprus utara, Ankara sedang mengembangkan sistem pertahanan udara berlapis bernama Celik Kubbe atau Steel Dome. Program itu menggabungkan radar, rudal jarak dekat hingga jauh, peperangan elektronik, dan jaringan komando untuk menghadapi pesawat tempur, rudal, serta drone.
Perkembangan terbaru memperlihatkan percepatan program tersebut. Pada Ahad (25/10/2026), Turki mengumumkan keberhasilan pengujian kemampuan baru rudal pertahanan udara jarak jauh SIPER Urun-2. Sehari kemudian, perusahaan pertahanan ASELSAN mengumumkan kontrak senilai 523 juta euro dengan otoritas industri pertahanan Turki untuk mengembangkan sistem pertahanan udara dan rudal generasi baru.
Dua pengumuman tersebut berlangsung setelah Republik Siprus memperlihatkan peluncur rudal Barak MX buatan Israel dalam parade militer di Nicosia pada 1 Oktober 2026. Sistem tersebut sebelumnya telah dilaporkan tiba di Siprus, memicu keberatan pemerintah Turki yang menilai peningkatan persenjataan di pulau itu berpotensi mengganggu keseimbangan keamanan.
Kantor berita Turki Anadolu Agency pada 25 Oktober melaporkan bahwa SIPER Urun-2 berhasil menghancurkan sasaran baru setelah menerima pembaruan informasi target ketika rudal sudah berada di udara. Kepala Presidensi Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun menyebut keberhasilan itu sebagai kemajuan dalam kemampuan menghadapi ancaman yang berubah selama penerbangan.
Sementara dari pihak Israel, Israel Aerospace Industries atau IAI menyatakan Barak MX merupakan sistem pertahanan udara terpadu yang dirancang menghadapi berbagai ancaman, mulai dari pesawat, drone, rudal jelajah, hingga jenis rudal tertentu.
Kedua perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri pertahanan Turki dan Israel sama-sama memperkuat kemampuan teknologi rudal. Akan tetapi, pengadaan Barak MX oleh Siprus tidak berarti Israel menempatkan pasukan tempurnya di pulau itu untuk menghadapi Turki. Demikian pula, keberhasilan uji SIPER tidak otomatis membuktikan seluruh wilayah Turki telah terlindungi jaringan pertahanan udara nasional yang lengkap.
Barak MX, Rudal Israel yang Dipersoalkan Turki
Siprus telah berupaya memperbarui sistem pertahanan udaranya dengan mengurangi ketergantungan terhadap persenjataan buatan Rusia. Reuters pada 5 Desember 2024 melaporkan bahwa pengiriman awal Barak MX ke Siprus telah berlangsung. Informasi tersebut pertama kali disampaikan media lokal Sigma, sedangkan Presiden Siprus Nikos Christodoulides ketika itu tidak memberikan rincian kontrak pembelian.
Pemerintah Siprus menyatakan modernisasi pertahanan merupakan kebutuhan negara yang berada di kawasan strategis dan menghadapi ketidakpastian keamanan. Pergeseran dari persenjataan Rusia juga berkaitan dengan semakin sulitnya memperoleh komponen serta layanan pemeliharaan setelah perang Rusia-Ukraina.
Pada September 2025, isu kedatangan Barak MX kembali memicu tanggapan keras dari Ankara. Associated Press, sebagaimana diterbitkan The Times of Israel pada 18 September 2025, melaporkan bahwa pejabat Kementerian Pertahanan Turki memperingatkan peningkatan persenjataan Siprus dapat mengganggu keseimbangan keamanan yang rapuh.
Ankara menyatakan perkembangan tersebut terus dipantau dan menegaskan komitmen melindungi keamanan masyarakat Siprus Turki di bagian utara pulau. Kekhawatiran itu berkaitan dengan keberadaan persenjataan baru di wilayah yang secara geografis dekat dengan pesisir selatan Turki.
Namun, penting membedakan kemampuan teknis sistem pertahanan udara dari maksud penggunaannya. Barak MX merupakan sistem rudal permukaan-ke-udara yang dirancang mencegat sasaran udara, bukan rudal serangan darat untuk menyerang kota atau pangkalan militer di Turki.
Kehadirannya dapat memengaruhi perhitungan operasi penerbangan di sekitarnya, tetapi tidak dapat disamakan dengan penempatan rudal balistik ofensif. Dalam parade kemerdekaan Siprus pada 1 Oktober 2026, National Guard memperlihatkan sistem Barak MX secara terbuka.
Koresponden yang menulis di The Times of Israel menggambarkan parade itu sebagai kesempatan ketika Siprus menunjukkan sejumlah sistem buatan Israel, termasuk peluncur Barak MX, rudal antitank Spike LR2, dan senapan Tavor X95. Penampilan tersebut memperlihatkan semakin luasnya hubungan pengadaan persenjataan antara Nicosia dan perusahaan-perusahaan pertahanan Israel.
Namun, parade militer tidak memberikan gambaran lengkap mengenai jumlah baterai, persediaan rudal, lokasi penempatan operasional, maupun tingkat kesiapan tempur sistem yang dimiliki Siprus.
Benarkah Barak MX Bisa Menjangkau 150 Kilometer?
Barak MX merupakan keluarga sistem pertahanan udara yang dikembangkan Israel Aerospace Industries. Menurut spesifikasi resmi IAI, sistem tersebut menggunakan beberapa jenis rudal pencegat dengan jangkauan berbeda.
Barak SR dirancang untuk jangkauan sekitar 15 kilometer, Barak MR sekitar 35 kilometer, Barak LR sekitar 70 kilometer, sedangkan Barak ER mempunyai jangkauan hingga sekitar 150 kilometer. Perbedaan tersebut memungkinkan pengguna menyesuaikan jenis rudal dengan karakteristik sasaran dan kebutuhan pertahanan.
Barak MX juga menggabungkan radar digital, sistem komando dan kendali, serta peluncur yang dapat menggunakan berbagai varian pencegat sesuai konfigurasi. Kemampuan demikian penting dalam peperangan udara modern karena ancaman tidak selalu datang dari pesawat tempur. Drone kecil, rudal jelajah, dan serangan dari berbagai arah membutuhkan sistem deteksi serta respons yang berbeda.
Namun, jangkauan maksimum 150 kilometer hanya berlaku pada varian Barak ER dalam kondisi yang sesuai. Angka tersebut tidak berarti seluruh rudal Barak MX mempunyai jangkauan yang sama. Belum tersedia pula informasi terbuka yang cukup untuk memastikan seluruh jenis pencegat Barak MX yang telah dibeli atau ditempatkan Siprus.
Karena itu, pernyataan bahwa Siprus sudah dapat mencegat setiap pesawat pada jarak 150 kilometer tidak mempunyai dasar teknis yang memadai. Jangkauan rudal bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pencegatan. Kemampuan radar mendeteksi sasaran, ketinggian penerbangan, karakteristik target, kondisi geografis, dan jumlah rudal tersedia akan memengaruhi efektivitas sistem.
Dalam konteks Siprus, sistem tersebut menambah kemampuan pertahanan udara dibandingkan sebagian persenjataan lama. Namun, kemampuan operasionalnya secara menyeluruh tidak dapat dihitung hanya berdasarkan spesifikasi yang diumumkan produsen.

32 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·