Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap terjaga di tengah kenaikan harga minyak mentah di tingkat global.
Namun demikian, ia tidak memungkiri bahwa ruang fiskal yang sebelumnya tersedia seiring penurunan harga minyak, menjadi kembali terbatas seiring dengan rebound (penguatan kembali) harga minyak mentah di tingkat global.
"Masih (APBN kuat). Tapi tadinya kan begini, ketika harga minyak turun, saya pikir saya ada ruang untuk menambah belanja, ke daerah, dan lain-lain ya, termasuk kementerian/lembaga (KL). Artinya sekarang kalau balik lagi (harga minyak naik), ruangnya semakin terbatas saja. Tapi tidak membahayakan APBN sendiri, karena ini bukan keadaan baru kan,” ujar Purbaya ditemui di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.
Selain itu, Purbaya memastikan bahwa kenaikan harga minyak mentah di tingkat global, tidak akan mengganggu pelaksanaan paket stimulus ekonomi periode semester II-2026.
Alasannya, ia menjelaskan bahwa anggaran paket stimulus tersebut telah ditetapkan oleh pemerintah dengan menggunakan asumsi harga minyak mentah global yang cenderung tinggi.
“Waktu (rancangan) stimulus kemarin (semester II), dilakukan dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel, jadi tidak ada perubahan yang terlalu signifikan. Cuma yang mau saya tambahkan, ke kementerian/ lembaga (K/L) maupun ke daerah mungkin tidak leluasa sebelumnya,” ujar Purbaya.
Lebih lanjut, pihaknya memastikan pemerintah akan tetap menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap di harga yang ditetapkan saat ini.
"Kalau (BBM) yang subsidi akan kita jaga terus. Cuma kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden (Prabowo Subianto) meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda. Jadi kita sedang hitung tadi," ungkap Purbaya.
Sebagai informasi, pada perdagangan Kamis (23/7), harga minyak mentah jenis WTI melonjak lebih dari 6 persen ke atas 92 dolar AS per barel, sementara jenis Brent naik lebih dari 6 persen hingga menembus 100 dolar AS per barel, atau tertinggi sejak awal Juni 2026.
Baca juga: Purbaya khawatir harga minyak melonjak tinggi imbas konflik Timteng
Baca juga: Purbaya nilai rating AAA Panda Bond cerminkan kredibilitas fiskal RI
Baca juga: Purbaya: Pemangkasan anggaran pertahanan opsi jika fiskal tertekan
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·