Jakarta (ANTARA) - PT Timah (Persero) Tbk mencatat laba bersih pada semester I 2026 mencapai Rp2,71 triliun, melampaui target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun atau setara 169 persen dari target.
"Kinerja perseroan pada semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi transformasi operasional dan bisnis yang dijalankan perseroan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas di tengah dinamika industri global," ujar Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro, dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Rabu.
PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun pada semester I 2026, meningkat
247 persen dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp4,22 triliun.
Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan volume penjualan serta meningkatnya harga jual rata-rata logam timah di tengah kondisi pasar yang masih kondusif.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, PT Timah berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp3,48 triliun, meningkat signifikan dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp0,38 triliun.
Perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp3,90 triliun, meningkat 363 persen dibandingkan EBITDA semester I 2025 sebesar Rp0,84 triliun.
Lebih lanjut, terkait dengan kinerja operasi, PT Timah mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang signifikan sepanjang semester I 2026.
Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.997 ton Sn.
Peningkatan produksi tersebut didorong oleh optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi pada sejumlah objek produksi, meliputi kapal isap produksi (KIP), ponton isap produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan yang terdiri atas tambang kecil dan tambang ponton isap darat.
Sejalan dengan peningkatan produksi bijih timah, PT Timah membukukan produksi logam timah sepanjang semester I 2026 sebesar 10.865 metrik ton Sn, meningkat 58 persen dibandingkan semester I 2025 sebesar 6.870 metrik ton Sn.
Adapun penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, meningkat 85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.933 metrik ton.
Peningkatan volume penjualan tersebut turut didukung oleh optimalisasi pengelolaan persediaan logam timah untuk memenuhi permintaan pasar. Sementara itu, harga jual rata-rata logam timah sepanjang semester I 2026 mencapai 49.794 dolar AS per metrik ton, meningkat 52 persen dibandingkan semester I 2025 sebesar 32.816 dolar AS per metrik ton, sejalan dengan masih kuatnya harga timah di pasar global.
Pada semester I 2026, penjualan logam timah perseroan masih didominasi oleh pasar ekspor yang berkontribusi sebesar 97 persen dari total penjualan, sedangkan pasar domestik sebesar 3 persen.
Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi China sebesar 36 persen, India 12 persen, Korea Selatan 11 persen, Singapura 6 persen, Belanda 5 persen, dan Italia 5 persen.
"Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut," ujar Restu.
Baca juga: PT Timah hijaukan 78,21 hektare lahan bekas tambang timah
Baca juga: PT Timah bagikan dividen Rp656,8 miliar
Baca juga: PT Timah: Data center dan solar panel bakal dorong permintaan timah
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·