Petani Keluhkan Pemadaman Listrik Bergilir Hambat Irigasi Lahan

4 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Pemadaman listrik bergilir pada musim kemarau mulai dirasakan dampaknya oleh petani yang mengandalkan pompa listrik untuk mengairi lahan. Kondisi tersebut menghambat proses irigasi, mengganggu pertumbuhan tanaman, hingga meningkatkan biaya operasional pertanian.


Seorang petani di Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Miftahur Rohim, mengungkapkan bahwa wilayahnya merupakan kawasan tadah hujan sehingga pasokan air untuk pertanian sangat bergantung pada pompa listrik. Ketika listrik padam, pompa atau sibel tidak dapat dioperasikan sehingga proses penyiraman tanaman ikut terhambat.


Menurutnya, petani tembakau bahkan terpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan. Sementara itu, petani yang menanam kacang hijau maupun jagung memilih bertahan dengan kondisi yang ada karena tidak semua mampu membeli pasokan air.


Rohim juga mengaku durasi pemadaman listrik tidak menentu. Meski pihak PLN mengumumkan jadwal pemadaman, pelaksanaannya di lapangan kerap berubah.


"Kadang lama sekitar tiga jam bahkan lebih. Kadang setengah hari. Waktunya pun tidak terjadwal," ujar Rohim kepada NU Online, Selasa (30/6/2026).


Akibat pemadaman tersebut, jadwal irigasi sering tertunda, bahkan gagal dilakukan. Kondisi itu berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman yang menjadi tidak optimal.


"Khawatir itu pasti. Sebab, pertumbuhan tanaman bergantung pada pengairan," katanya.


Karena kondisi tersebut, Rohim memilih tidak mengambil risiko menanam komoditas yang membutuhkan pengairan intensif. Saat ini, ia hanya menanam kacang hijau yang tidak memerlukan penyiraman secara rutin.


"Sementara ini tidak, sebab saya pribadi hanya menanam kacang hijau yang tidak perlu pengairan rutin. Tidak berani menanam tanaman selain itu," ujarnya.


Ia menambahkan, kekhawatiran terbesar petani adalah hasil panen yang tidak maksimal di tengah tingginya biaya produksi dan perawatan tanaman.


"Yang paling membuat khawatir adalah hasil panen yang tidak maksimal. Sementara pengeluaran untuk penanaman dan perawatan sangat besar. Yang dibutuhkan petani adalah keuntungan.


Jika hanya mengembalikan modal berarti hanya sambatan. Kami tetap butuh makan setiap hari. Kalau panen gagal, kami akan sangat sedih," tandas Rohim.


Selain pemadaman listrik, serangan hama tikus juga menjadi alasan dirinya enggan menanam komoditas yang memiliki risiko tinggi pada musim tanam tahun ini.


"Tahun ini saya tidak berani menanam tanaman yang berisiko. Salah satu sebabnya listrik yang sering padam, dan satu lagi hama tikus yang masih belum berkurang," terangnya.


Senada, petani asal Kabupaten Blora, Bambang Suprianto, menilai pemadaman listrik bergilir sangat memengaruhi aktivitas pertanian sekaligus berdampak pada perekonomian masyarakat yang menggantungkan usahanya pada pasokan listrik.


"Untuk pertanian palawija tentunya sangat menjadi kendala dalam penyiraman tanaman. Memang untuk wilayah sentra padi tidak terlalu menjadi kendala karena sudah memasuki masa panen," ucap Bambang kepada NU Online, Selasa (30/6/2026).


Ia mengatakan, durasi pemadaman di wilayahnya umumnya mencapai sekitar lima jam dan sejauh ini masih sesuai dengan jadwal yang telah diumumkan.


Meski demikian, petani masih berupaya menyesuaikan jadwal penyiraman dengan waktu pemadaman agar tanaman tetap memperoleh pasokan air.


"Untuk sementara masih bisa disiasati dengan menyesuaikan jadwal pemadaman," paparnya.


Menurut Bambang, pada musim kemarau kebutuhan air menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha pertanian. Karena itu, pemadaman listrik berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani.


Apabila pemadaman terus berlangsung, kata Bambang, petani tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan pompa berbahan bakar minyak (BBM) agar kegiatan irigasi tetap berjalan. Namun, langkah tersebut akan meningkatkan biaya operasional secara signifikan.


Ia memperkirakan biaya operasional menggunakan pompa berbahan bakar BBM dapat mencapai dua kali lipat dibandingkan menggunakan pompa listrik.


"Biaya operasional menjadi jauh lebih besar dan akan mengurangi laba, bahkan bisa menimbulkan kerugian," tutupnya.

Baca Artikel Selengkapnya