Pemerintah nyatakan cadangan devisa aman senilai 145,3 miliar dolar AS

7 jam yang lalu 15

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan cadangan devisa per Juli 2026 aman, dengan nilai 145,3 miliar dolar AS atau setara dengan 5,5 bulan impor.

“Kalau kita lihat, bantalan eksternal aman, proyeksi internasional terjaga, cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor atau 145,3 miliar (dolar AS),” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 yang digelar di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Jakarta, Jumat.

Sementara itu, neraca perdagangan pada periode Januari–Juni 2026 menunjukkan surplus secara kumulatif, dengan defisit pada bulan Juni lebih rendah apabila dibandingkan dengan bulan Mei.

“Neraca dagang secara kumulatif Januari–Juni itu masih positif di 3,58 miliar dolar AS,” ucap Airlangga.

Ia juga menyampaikan bahwa proyeksi International Monetary Fund (IMF/Dana Moneter Internasional) dan Asian Development Bank (ADB/Bank Pembangunan Asia) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 5,0–5,2 persen, bertahan apabila dibandingkan dengan proyeksi kawasan Asia lain yang dipangkas.

“Kemudian, rupiah menguat 0,69 persen dalam seminggu terakhir,” ucap Airlangga.

Baca juga: MIND ID dukung emas jadi penguat cadangan devisa negara Bank Indonesia

Baca juga: BI: Cadangan devisa akhir Juli stabil sebesar 145,3 miliar dolar AS

Indikator-indikator tersebutlah yang diyakini oleh Airlangga sebagai penunjuk keamanan bantalan eksternal perkembangan perekonomian Indonesia.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dapat mencapai 6 persen secara tahunan (year on year/yoy), sebagaimana dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2027.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan, target pertumbuhan ini lebih tinggi dari target APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.

Pada 2027, pemerintah menargetkan belanja negara mencapai sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun pada APBN 2026. Di sisi lain, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun pada APBN 2026.

Pembiayaan direncanakan sebesar Rp671,2 triliun dengan defisit sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menurun dari rencana pembiayaan pada APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun dengan defisit 2,68 persen PDB.

Baca juga: Ekonom: Gubernur BI yang baru harus berperan penting jaga kurs rupiah

Baca juga: Penguatan rupiah masih ditopang cadangan devisa yang memadai

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya