BPS Bali akhiri Sensus Ekonomi, jangkau 1,3 juta responden

3 jam yang lalu 2
Secara resmi pendataan Sensus Ekonomi di lapangan memang sudah berakhir kemarin, tapi kami masih melakukan sejumlah perbaikan, ada task force (satuan tugas) namanya

Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali resmi mengakhiri pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 dengan mencatatkan total sekitar 1,397 juta responden yang berhasil terdata di seluruh kabupaten/kota.

"Secara resmi pendataan Sensus Ekonomi di lapangan memang sudah berakhir kemarin, tapi kami masih melakukan sejumlah perbaikan, ada task force (satuan tugas) namanya," kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Kamis.

Ia menjelaskan satuan tugas (satgas) tersebut dibentuk khusus untuk menyasar perusahaan maupun rumah tangga responden yang belum terdaftar, yang nantinya akan diselesaikan oleh pegawai organik BPS.

"Yang kedua nanti juga akan ada kegiatan namanya PES, ini tidak hanya dilakukan oleh BPS Indonesia, di BPS semua negara melakukan ini karena secara metodologi itu memang harus dilakukan," ujar Agus Gede.

Baca juga: BPS Bali tegaskan data Sensus Ekonomi bukan buat pengaruhi pajak

Kegiatan Post Enumeration Survey (PES) dilakukan pascasensus guna memastikan kebenaran data serta mengevaluasi ada atau tidaknya kesalahan dari sisi cakupan maupun kualitas.

"Jadi yang kemarin itu secara cakupan atau secara kualitas ada kesalahan atau tidak, nah untuk melihat itu, pascasensus dilakukanlah PES," ucapnya.

BPS Bali menjelaskan pendataan lapangan tahap akhir ini melibatkan sebanyak 3.774 petugas yang tersebar di berbagai wilayah.

Meskipun petugas lapangan tersebut sebagian besar telah selesai, BPS Bali menyebut mereka masih dapat direkrut kembali apabila dibutuhkan dalam pelaksanaan PES lanjutan.

Baca juga: Kepala BPS Bali dampingi petugas awali sensus ekonomi

Capaian total 1,3 juta responden ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan awal data makro yang dikantongi oleh pihak BPS, namun menurutnya itu wajar.

Selisih angka tersebut disebabkan oleh berbagai faktor di lapangan, mulai dari adanya usaha yang sudah tutup, tidak beroperasi, hingga duplikasi data dari sumber awal.

“Kalau di data awal kan namanya perkiraan ya, jauh lebih besar data perkiraannya daripada yang kemarin sudah berhasil kami data, dapat 1,397 juta atau hampir 1,4 juta, kalau perkiraannya itu sekitar 1,7 juta,” ujar Agus Gede.

Sementara itu untuk sebaran wilayah dengan jumlah responden terbanyak secara absolut tercatat berada di Kabupaten Buleleng disusul Denpasar dan Badung.

Ia mengatakan selain karena jumlah penduduk yang besar di Buleleng, konsentrasi jumlah pelaku usaha terbanyak di Bali terpantau terkonsentrasi di wilayah Denpasar dan Badung.

Baca juga: BPS jelaskan alasan perbedaan angka kemiskinan versi Bank Dunia dan RI

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya