Jakarta, NU Online
Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Idrus Alhamid mendorong pengembangan kaderisasi ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia Timur dengan pendekatan yang adaptif terhadap budaya dan kearifan lokal.
Kurikulum pendidikan dan pengaderan, menurutnya, tidak seharusnya diseragamkan, tetapi perlu disesuaikan dengan dinamika sosial dan karakter masyarakat di setiap wilayah.
Prof Idrus menjelaskan, kultur Nahdliyin di Indonesia Timur memiliki keterkaitan erat dengan peradaban masyarakat setempat. Karena itu, pengembangan kaderisasi NU perlu mempertimbangkan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.
“Dalam perspektif Indonesia, bahwa kultur Nahdliyin ini, itu di wilayah timur, itu betul-betul kultur yang melekat pada peradaban orang Indonesia bagian timur. Mereka itu memandang aswaja itu adalah ada tahlilan, ada Barzanji, ya itu NU sudah,” ujarnya saat ditemui NU Online usai Pelantikan Kepengurusan PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Sebagai perwakilan Indonesia Timur di PBNU, Idrus berharap organisasi mengembangkan orientasi kaderisasi ulama yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Menurutnya, standar pengaderan yang berlaku di suatu wilayah belum tentu dapat diterapkan secara sama di wilayah lain.
Ia mencontohkan kemampuan membaca kitab kuning yang dapat menjadi salah satu standar pengaderan ulama di daerah tertentu. Namun, penerapan standar tersebut di Indonesia Timur perlu mempertimbangkan kondisi lokal melalui manhaj atau metode pengaderan yang adaptif.
“Orientasi bidang pendidikan itu harus basisnya kearifan lokal. Sehingga saya mengusulkan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal itu perlu dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama,” katanya.
Prof Idrus menegaskan, kurikulum pendidikan harus mampu merepresentasikan dinamika dan kearifan lokal (local wisdom). Pendekatan ini penting agar pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada standar tertentu, tetapi juga mampu memanusiakan manusia sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat.
Ia menilai budaya kebersamaan masyarakat Indonesia Timur memiliki kedekatan dengan tradisi NU. Salah satu contohnya ialah kebiasaan makan bersama dalam pesta adat yang mencerminkan keterbukaan dan kuatnya ikatan sosial masyarakat.
Menurutnya, tradisi tersebut sejalan dengan praktik tahlilan yang menghadirkan kebersamaan melalui kegiatan berkumpul dan makan bersama. “Sehingga kalau NU itu masuk ke bagian timur, dia tidak mengalami apa yang disebut culture shock, kepanikan kebudayaan,” ungkapnya..
Prof Idrus meyakini NU memiliki kapasitas untuk mengembangkan kaderisasi dan program organisasi yang menjangkau masyarakat Indonesia Timur secara lebih luas. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai pijakan, NU diharapkan dapat memperkuat persaudaraan sekaligus menghadirkan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Selain kaderisasi, Idrus menilai Indonesia Timur perlu mendapat perhatian strategis dalam pengembangan organisasi. Wilayah ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik di laut maupun di darat, sehingga berpotensi menjadi ruang pengembangan ekonomi umat.
“Sumber daya alam baik laut dan darat itu melimpah, bagaimana NU melakukan pengembangan ekonomi umat itu bisa menggerakkan warga di Indonesia Timur,” ujarnya.
Pihakny berharap badan pengembangan ekonomi umat NU dapat berperan dalam menggerakkan potensi tersebut. Menurutnya, program strategis organisasi harus dibangun dengan wawasan Nusantara yang mencakup seluruh wilayah Indonesia.
“Persaudaraan itu bukan ucapan. Persaudaraan itu tindakan,” tegas Prof Idrus.

3 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·