Para orang tua mungkin pernah punya rasa cemburu saat melihat anak-anaknya bermain, bercanda, atau berkumpul bersama kakek-neneknya. Mereka seakan-akan sangat nyaman ketika di dekat kakeknya, bahkan terkadang ayah-ibunya tidak dihiraukan karena asyik bersama neneknya.
Ketika mereka ingin mempunyai mainan atau keinginan lainnya pergi menemui kakek-neneknya. Saat menghadapi masalah di luar rumah pun, misalnya bertengkar bersama temannya, mereka langsung mengadu ke mereka dulu, bukan ke ayah atau ibunya.
Anak yang lebih dekat dengan kakek-neneknya bukanlah hal baru dalam kehidupan keluarga. Selain kasih sayang yang tulus, kedekatan tersebut dapat dipengaruhi oleh suasana yang lebih nyaman, kebersamaan yang berkualitas, serta sikap kakek-nenek yang cenderung lebih sabar dan tenang.
Kondisi ini terkadang menimbulkan kecemburuan bagi orang tua. Perasaan tersebut tentu manusiawi. Namun, perlukah kecemburuan itu ditindaklanjuti?
Selama kedekatan tersebut membawa pengaruh positif bagi tumbuh kembang anak, orang tua tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Dalam Islam, rasa cemburu tidak hanya berkaitan dengan hubungan suami-istri, tetapi juga dapat muncul dalam hubungan keluarga.
Bahkan, sebuah hadits riwayat Imam Muslim menjelaskan tentang sifat cemburu yang dinisbatkan kepada Allah SWT, dengan makna yang sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak disamakan dengan kecemburuan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ، وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ، وَغِيْرَةُ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
Artinya, "Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah memiliki cemburu. Orang mukmin pun cemburu. Cemburu Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan larangan yang diharamkan oleh-Nya'.” (HR. Imam Muslim).
Allah SWT cemburu dalam konteks yang berbeda, sebagaimana tersirat dalam hadits di muka. Setiap Mukmin pun bisa cemburu, termasuk bunda dan ayah.
Jadi, datangnya rasa cemburu antara hubungan orang tua dan anak memang bisa terjadi dan tidak perlu ditanggapi berlebihan.
Terkait hadits ini, Syekh Zainuddin Al-Munawi menjelaskan bahwa rasa cemburu dari hamba Allah SWT itu ada dua, yaitu (1) cemburu yang terpuji, dan (2) cemburu yang tercela.
Selengkapnya, mari simak penjelasan berikut:
فَإِنَّ غِيْرَةَ الْعَبْدِ عَلَى مَحْبُوبِهِ نَوْعَانِ: مَمْدُوحَةٌ يُحِبُّهَا اللَّهُ تَعَالَى وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ قِيَامِ رِيبَةٍ، وَمَذْمُومَةٌ يَكْرَهُهَا وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ عَدَمِهَا بَلْ بِمُجَرَّدِ سُوءِ الظَّنِّ، وَهَذِهِ تُفْسِدُ الْحِيْبَ وَتُوقِعُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْمُحِبِّينَ.
Artinya, "Cemburunya hamba terhadap orang yang dicintainya itu ada dua macam. Pertama, cemburu terpuji yang disenangi oleh Allah SWT. Yaitu merujuk pada setiap cemburu saat ada indikator.
"Dan kedua, cemburu tercela yang dibenci oleh-Nya. Yaitu merujuk pada setiap cemburu tanpa adanya indikator. Ia hanya berangkat dari prasangka buruk. Cemburu macam ini bisa merusak tali kekerabatan dan dapat menyebabkan permusuhan di antara dua kekasih." (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H], jilid II, hlm. 294).
Dalam konteks hubungan orang tua dan anak, rasa cemburu merupakan hal yang wajar. Namun, perlu diperhatikan apakah perasaan tersebut didasari alasan yang jelas atau sekadar prasangka buruk.
Misalnya, ketika anak lebih dekat dengan kakek-nenek karena mereka penuh kasih sayang, sabar, dan perhatian, orang tua dapat menjadikan hal tersebut sebagai bahan introspeksi. Sikap positif kakek-nenek bisa menjadi teladan untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak.
Sebaliknya, kecemburuan yang dilandasi prasangka buruk perlu dihindari karena berpotensi menimbulkan konflik dan merusak hubungan keluarga.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Syekh Zainuddin Al-Munawi mengenai pentingnya membedakan kecemburuan yang terpuji dan tercela. Imam Al-Ghazali juga menekankan pentingnya bersikap proporsional dalam menghadapi rasa cemburu. Ia menjelaskan:
الاِعْتِدَالُ فِي الْغِيْرَةِ وَهُوَ أَنْ لَا يَتَغَافَلَ عَنْ مَبَادِئِ الْأُمُورِ الَّتِي تُخْشَى غَوَائِلُهَا وَلَا يُبَالِغَ فِي إِسَاءَةِ الظَّنِّ وَالتَّعَنْتِ وَتَجَسُّسِ الْبَوَاطِنِ
Artinya: “Proporsional dalam cemburu, yaitu tidak lupa terhadap prinsip-prinsip yang dikhawatirkan terjadi kerusakan dan tidak berlebihan dalam buruk sangka, (berlebihan) mencari kesalahan, dan mengintai hal-hal yang bersifat rahasia." (Lihat: Ihya' Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma'rifah, t.t.], jilid II, hlm. 45).
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecemburuan orang tua ketika anak lebih dekat dengan kakek-neneknya merupakan hal yang manusiawi. Namun, perasaan ini perlu disikapi secara bijak agar tidak mengganggu keharmonisan keluarga.
Selama kedekatan tersebut memberikan pengaruh positif bagi tumbuh kembang anak, orang tua tidak perlu merasa tersaingi. Sebaliknya, kasih sayang dan perhatian kakek-nenek dapat menjadi teladan dalam membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak.
Jika rasa cemburu muncul, jadikanlah sebagai dorongan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, memberikan pendidikan terbaik, menjaga kesehatan fisik dan mental anak, serta menanamkan kemandirian sebagai bekal masa depannya. Wallahu a'lam bis shawab.
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

2 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·