Musim Kemarau, Desa Pemasok Air di Lasem Mulai Siaga Hadapi Ancaman Krisis Air

4 jam yang lalu 3

Rembang, NU Online

Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Desa Kajar, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, mulai mengantisipasi potensi krisis air bersih dengan mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat. Meski kebutuhan air warga hingga kini masih tercukupi, debit sejumlah sumber mata air mulai mengalami penurunan.


Kepala Desa Kajar, Widayat, mengatakan ketersediaan air bersih di desanya masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat karena ditopang beberapa sumber mata air dan jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).


"Untuk sekarang masih terpenuhi. Sebetulnya karena ada beberapa sumber mata air yang dimanfaatkan warga. RT 1 menggunakan PDAM, RT 2 dan RT 3 memanfaatkan sumber mata air milik desa, RT 11 menggunakan PDAM, RT 5 dan RT 6 memanfaatkan hasil pengeboran desa, RT 4 mengambil air dari gunung, sedangkan RT 7 menggunakan sumur bersama dan membeli air dari warga secara bergilir," ujar Widayat kepada NU Online, Rabu (1/7/2026).


Meski demikian, ia mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air karena debit sejumlah mata air diperkirakan terus menurun apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.


"Kalau kemarau panjang, warga harus hemat menggunakan air karena debit mata air terus berkurang. Ironisnya, Desa Kajar justru menjadi pemasok air bagi sembilan kecamatan, padahal sumber air di desa kami sendiri juga mulai berkurang," imbuhnya.


Menurut Widayat, pada musim kemarau konsumsi air rumah tangga perlu dikendalikan. Jika sebelumnya satu keluarga menggunakan sekitar 10 meter kubik air, maka pemakaiannya perlu dikurangi agar persediaan tetap mencukupi hingga akhir musim kemarau.


Ia juga menjelaskan bahwa Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) mengalami kendala karena sulit menemukan sumber mata air di wilayah Desa Kajar.


"Program seperti Pamsimas juga kesulitan mencari sumber mata air. Justru sumber air berada di tanah milik warga dan harus dibeli dengan harga yang hampir sama dengan tarif PDAM," jelasnya.


Di sisi lain, keterbatasan anggaran desa turut menjadi tantangan dalam pembangunan, termasuk penyediaan layanan dasar bagi masyarakat.


"Anggaran desa dipotong cukup besar. Dulu sekitar Rp800 juta, sekarang tinggal sekitar Rp200 juta. Dana itu juga harus dibagi untuk sektor kesehatan dan pendidikan," ungkapnya.


Meski demikian, Widayat memastikan fasilitas kesehatan dan tempat ibadah tetap memperoleh layanan air bersih.


"Alhamdulillah fasilitas kesehatan dan tempat ibadah sudah terlayani. Beberapa masjid menggunakan air PDAM, sementara sebagian lainnya mendapat bantuan air dari warga," katanya.


Ia menambahkan, berkurangnya debit mata air mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Menurutnya, aliran sungai yang dahulu mengalir sepanjang tahun kini mengering setelah maraknya pengeboran air untuk memasok kebutuhan wilayah di luar Desa Kajar.


"Dulu waktu saya masih kecil, sungai di depan rumah masih mengalir. Sekarang sudah tidak. Setelah beberapa tahun terakhir banyak pengeboran dan air dijual ke luar Kajar, potensi pertanian juga ikut menurun," paparnya.


Untuk memenuhi kebutuhan pertanian, sebagian warga memanfaatkan sumber-sumber air kecil di kawasan pegunungan. Air yang menetes sedikit demi sedikit ditampung semalaman sebelum digunakan menyiram tanaman.


Menurut Widayat, sebagian warga menggantungkan penghasilan dari budidaya tanaman hias, seperti bunga gembong dan mawar, yang dipasarkan hingga Kabupaten Pati dan Blora. Namun, keterbatasan air membuat potensi ekonomi tersebut belum berkembang secara optimal.


"Kalau sumber air lebih besar, pendapatan warga tentu akan meningkat. Harga satu kantong plastik bunga gembong merah bisa mencapai Rp50 ribu," tuturnya.


Sebagai solusi jangka panjang, Widayat berharap ada dukungan dari Perhutani maupun Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan penghijauan melalui penanaman pohon-pohon yang mampu menyimpan cadangan air.


"Kami berharap ada bantuan bibit pohon seperti sukun, kemiri, dan beringin yang mampu mengikat air sehingga debit mata air dapat meningkat," ujarnya.


Ia berharap upaya konservasi tersebut dapat mencegah Desa Kajar mengalami kekeringan yang sampai memerlukan distribusi bantuan air bersih.


"Kalau kekeringannya tidak terlalu ekstrem, kami tidak perlu bantuan air. Rasanya tidak relevan jika Desa Kajar yang dikenal sebagai desa pemasok air justru harus menerima bantuan air bersih," pungkasnya.


Senada, kesulitan memperoleh air bersih juga mulai dirasakan warga Desa Selopuro, Kecamatan Lasem. Namun, pemerintah desa telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.


Kepala Desa Selopuro, Fendi, mengatakan kondisi kemarau tahun ini relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah desa membeli air bersih secara eceran untuk didistribusikan kepada warga.


"Pihak desa mengantisipasinya dengan membeli air eceran," ucap Fendi kepada NU Online, Rabu (1/7/2026).


Selain itu, pemerintah desa juga berupaya menambah titik sumber mata air sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih.


Meski demikian, hingga kini Pemerintah Desa Selopuro belum mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada pemerintah kabupaten.


Fendi menambahkan, pemerintah desa telah menyiapkan anggaran apabila kondisi kekeringan semakin memburuk.


"Anggaran untuk penyediaan air bersih sudah kami siapkan. Namun, hingga saat ini belum ada imbauan khusus kepada warga terkait penggunaan air bersih," pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya