Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH M Jadul Maula menyatakan bahwa Muktamar Kebudayaan yang akan digelar pada 12-14 Juni mendatang, bukan sekadar perayaan figur semata. Namun, momentum menjadi untuk menggali kembali akar pemikiran kebudayaan Asrul Sani.
"Bukan semata-mata figurnya ya, tapi sebetulnya kita ingin, ingin coba menggali lagi pemikiran kebudayaan beliau, yang sampai sekarang sebetulnya masih relevan," ungkapnya saat menjadi narasumber dalam video Menjadi Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Yogyakarta, tersebut lantas menyampaikan bahwa Asrul Sani pernah merumuskan perihal pengertian kebudayaan dalam NU.
"Dia mengatakan bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni," terangnya.
Kiai Jadul lantas menegaskan bahwa tiga pilar penting tersebut harus berjalan bersama. Sebab menurutnya, dari garis tersebut sudut pandang kebudayaan NU dapat dilihat.
"Ini ketiganya harus berjalan bersama, selaras, seimbang, tidak saling meniadakan, tidak saling menafikan, ya," ujarnya.
Tepat pada Rabu (10/6/2026), dunia kebudayaan Indonesia memperingati satu abad lahirnya salah satu pemikir kebudayaan terpenting sekaligus tokoh muassis (pendiri) Lesbumi, Asrul Sani.
"Nah, ini momentum Muktamar 2026 ini juga persis, karena kan 100 tahunnya Asrul Sani 10 Juni 2026," ujar Kiai Jadul.
Kiai Jadul mengatakan bahwa Asrul Sani merupakan tokoh pemikir kebudayaan terpenting mungkin dalam sejarah Indonesia yang dimiliki NU dan warga Indonesia.
Mengutip Ensiklopedi NU, Asrul Sani merupakan seorang sastrawan terkemuka Angkatan 1945, penulis, penerjemah naskah drama dunia, sekaligus sutradara panggung dan film legendaris yang lahir di Rao, Sumatera Barat.
Ia merupakan konseptor utama di balik Surat Kepercayaan Gelanggang (1950) yang menjadi tonggak penting kebudayaan nasional, serta turut mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) bersama Usmar Ismail. Sebagai sineas, ia melahirkan karya-karya berkarakter kuat berbasis sastra seperti skenario Lewat Jam Malam dan sutradara Naga Bonar hingga berhasil menyabet enam Piala Citra.
Didorong kegelisahan yang sama dengan para tokoh NU dalam merumuskan kekuatan ruhaniah kebudayaan Indonesia, Asrul kemudian berkhidmah sebagai Wakil Ketua Lesbumi pada 1962.
Melalui Lesbumi, ia kemudian terjun ke politik praktis dan menjadi anggota DPRGR/MPRS mewakili seniman/NU (1966–1971), serta berlanjut menjadi anggota DPR RI mewakili NU dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada periode 1977–1982.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 1976–1979 dan menjadi anggota Akademi Jakarta. Atas jasa dan kontribusinya yang besar bagi bangsa, ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Pemerintah RI pada tahun 2000.

2 jam yang lalu
3





English (US) ·
Indonesian (ID) ·