Meski “pro-stability”, BI tegas tetap dorong pertumbuhan ekonomi

2 jam yang lalu 5

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa bank sentral tetap mendorong pertumbuhan ekonomi meski fokus kebijakan moneter saat ini pada stabilitas (pro-stability) guna memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak gejolak global.

Dalam hal ini, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran yang ditempuh bank sentral tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan (pro-growth).

“Jangan diartikan bahwa kalau moneternya pro-stability, Bank Indonesia tidak mendorong pertumbuhan ekonomi. Tidak. Bank Indonesia tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu.

Perry memastikan bahwa kondisi likuiditas pasar uang dan perbankan lebih dari cukup, sehingga diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: BI-Rate naik, BI yakin pertumbuhan ekonomi 2026 tetap 4,9-5,7 persen

Langkah ini dilakukan dengan memastikan pertumbuhan Uang Primer (M0) lebih dari 10 persen (double digit) sesuai dengan ekspansi moneter, termasuk melalui transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Adapun M0 pada April 2026 tumbuh sebesar 14,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 11,8 persen (yoy).

Untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan sekaligus sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, BI juga membeli SBN yang pada 2026 (hingga 19 Mei 2026) mencapai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun.

Selain memastikan kecukupan likuiditas moneter, Perry mengatakan bahwa Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) juga terus diperkuat serta kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dilonggarkan.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya