Jakarta (ANTARA) - Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang, kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) yang diputuskan Bank Indonesia (BI) merupakan langkah tepat untuk mengembalikan jangkar stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang semakin berat.
“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, keputusan yang dipilih BI membuktikan bahwa tekanan yang sedang dihadapi Indonesia bukan sekadar volatilitas biasa, melainkan fase yang membutuhkan respons moneter yang pre-emptive.
Fakhrul menilai, kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps ini akan menjadi titik balik penting bagi rupiah. Ia memperkirakan rupiah berpotensi menguat secara bertahap, dengan level penting pertama berada di sekitar Rp17.300 per dolar AS, sebelum bergerak menuju keseimbangan baru di sekitar Rp16.800 per dolar AS.
“Rupiah sudah selesai fase overshooting-nya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, rupiah bisa bergerak menuju Rp16.800,” jelas dia.
Ia juga menilai, saat ini pelaku pasar tidak lagi perlu terlalu defensif terhadap dolar AS. Menurutnya, kombinasi kenaikan BI-Rate, intervensi valas, penguatan DNDF/NDF, serta perluasan transaksi CNH-Rupiah dan local currency transaction (LCT) akan memperkuat keyakinan bahwa tekanan rupiah mulai dapat dikendalikan.
Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai. Setelah BI menaikkan suku bunga acuan, langkah berikutnya yang perlu dilakukan yakni memperbaiki struktur pasar uang dan obligasi domestik.
Menurutnya, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) perlu mulai diturunkan secara bertahap agar tidak terus menyedot likuiditas dari pasar obligasi negara dan aset berdurasi panjang.
“Setelah BI-Rate naik, SRBI tidak boleh terlalu lama menjadi magnet utama likuiditas. Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat,” ujar Fakhrul.
Ia menilai normalisasi yield curve sangat penting agar pasar kembali berfungsi secara wajar. Kurva imbal hasil yang lebih sehat akan membantu investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang, mendukung pembiayaan pembangunan, dan memperbaiki ekspektasi terhadap rupiah.
Fakhrul juga menekankan pentingnya kekompakan antara BI dan Kementerian Keuangan. Dalam hal ini, kenaikan BI-Rate harus diikuti komunikasi fiskal yang jelas, terutama terkait subsidi energi, strategi penerbitan SBN, serta arah pembiayaan pemerintah.
“BI dan Kemenkeu harus kompak. BI menjaga jangkar stabilitas, Kemenkeu menjaga kredibilitas fiskal. Kalau keduanya berjalan bersama, rupiah bisa menguat, yield bisa lebih sehat, dan pasar akan kembali percaya pada cerita besar Indonesia,” kata Fakhrul.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI-Rate diputuskan naik sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Suku bunga deposit facility diputuskan untuk naik 50 bps sehingga pada level 4,25 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk naik 50 bps sehingga pada level 6 persen.
Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate ini menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Rabu (20/5) menguat 52 poin atau 0,29 persen jadi Rp17.654 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.706 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.685 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.719 per dolar AS.
Baca juga: BRI fokus jaga keseimbangan bisnis usai BI-Rate naik jadi 5,25 persen
Baca juga: BI: Kenaikan bunga SRBI dorong modal asing masuk dan stabilkan rupiah
Baca juga: BI-Rate naik, BI yakin pertumbuhan ekonomi 2026 tetap 4,9-5,7 persen
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·