Kita pasti sering melihat anak-anak bermain bersama teman-temannya dengan penuh kesenangan, tak ada beban. Bila saatnya Maghrib tiba, mereka akan pulang kepada ibunya. Melepas lelah di pelukannya dan merengkuh kasih dari belaiannya.
Perumpamaan sederhana seperti ini yang termuat dalam Firman-Nya surat Al-Ankabut ayat 64 berikut:
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.” (QS. Al-'Ankabut: 64)
Lalu, mengapa Al-Qur'an mengumpamakan kehidupan dunia seperti permainan dan senda gurau? Simak artikel berikut sampai tuntas untuk mendapatkan jawabannya!
Konteks Surat Al-'Ankabut Ayat 64
Secara historis, ayat 64 dari surat Al-'Ankabut ini berkaitan dengan sikap kaum musyrik yang lebih mengutamakan kehidupan dunia yang fana dari kehidupan akhirat yang kekal. Simak penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili berikut:
بعد بيان كون المشركين يعترفون بأن الله هو الخالق وهو الرازق وهو المحيي، وهم مع ذلك يتركون عبادته، ويعبدون من دونه الشركاء حرصا على زينة الحياة الدنيا ومكاسبها المادية، أوضح الله تعالى أن ما يميلون إليه وهو الدنيا ليس بشيء، وأن الحياة الآخرة هي الحياة الحقة التامة التي تستحق الحرص عليها والعمل من أجلها، فلو كان عندهم شيء من العلم ما آثروا الدنيا الفانية على الآخرة الباقية
Artinya: “Setelah Allah SWT menjelaskan bahwa kaum musyrik mengakui Allah sebagai Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Yang Menghidupkan, mereka justru meninggalkan ibadah kepada-Nya dan menyembah sekutu-sekutu selain-Nya.
Hal itu mereka lakukan demi mengejar perhiasan kehidupan dunia dan keuntungan materi. Karena itu, Allah SWT menjelaskan bahwa dunia yang mereka utamakan sebenarnya tidak memiliki nilai yang berarti dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang hakiki dan sempurna, yang lebih layak untuk diperjuangkan dan dijadikan tujuan dalam beramal.
Seandainya kaum musyrik memiliki sedikit saja pengetahuan yang benar, niscaya mereka tidak akan mengutamakan kehidupan dunia yang fana daripada kehidupan akhirat yang kekal.” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid XXI, hlm. 35).
Artinya, dalam ayat tersebut Allah swt. menegaskan bahwa sikap kaum musyrik yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah sebuah kekeliruan yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka tentang hakikat dunia dan akhirat. Seandainya mereka tahu, pasti akan lebih memilih akhirat yang abadi ketimbang dunia yang fana.
Mengapa Kehidupan Dunia Diumpamakan seperti Permainan dan Senda Gurau?
Menurut Syekh Tantawi, alasannya adalah karena kenikmatan yang diperoleh di dunia bersifat sementara dan akan segera berakhir dengan sangat cepat seperti halnya singkatnya anak-anak kecil yang bermain dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Simak penjelasan beliau berikut:
أى: أن هذه الحياة الدنيا، وما فيها من حطام، تشبه في سرعة انقضائها وزوال متعها، الأشياء التي يلهو بها الأطفال، يجتمعون عليها وقتا، ثم ينفضون عنها
Artinya: “Maksudnya: Bahwa kehidupan dunia ini, beserta segala isinya berupa puing-puing/sisa-sisa kenikmatan, dalam hal cepatnya masa berakhir dan lenyapnya kenikmatan-kenikmatannya, menyerupai segala hal yang dijadikan mainan oleh anak-anak kecil; mereka berkumpul di sekitarnya untuk sesaat, lalu mereka membubarkan diri darinya.” (At-Tafsir Al-Wasith, [Mesir, Darun Nahdhah: 1998 H], jilid. XI, hlm. 56)
Artinya, karena begitu cepat dan singkatnya roda kehidupan di dunia, sampai diumpamakan oleh Allah swt. seperti permainan dan senda gurau yang dilakukan oleh anak-anak kecil terhadap teman sebayanya.
Lebih jauh, Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitabnya, Khawathir Haulal Qur’an memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara lahwun (senda gurau) dengan la’bun (permainan). Simak penjelasan beliau berikut:
إذن: اللهو واللعب عبث، لكن يختلفان من ناحية أخرى، فاللعب حركة لا فائدة منها، لكنه لا يصرفك عن واجب يعطي فائدة، كالولد حين يلعب، فاللعب لا يصرفه عن شيء إذن: فاللعب لمن لم يبلغ، أمّا البالغ المكلف فاللعب في حقِّه يسمى لَهْوًا، لأنه كُلِّف فترك ما كُلِّف به إلى ما لم يكلّف به، ولَهَا عن الواجب، ومنه: لَهْو الحديث
Artinya: “Maka dari itu, lahwun dan la‘ib adalah kesia-siaan (‘abats). Akan tetapi, keduanya berbeda dari sisi yang lain: Al-La‘ib (Permainan): Adalah gerakan yang tidak ada manfaatnya, namun ia tidak sampai melalaikanmu dari suatu kewajiban yang mendatangkan manfaat, seperti anak kecil ketika bermain; permainan tersebut tidak melalaikannya dari apa pun. Oleh karena itu, permainan (la‘ib) itu wajar bagi orang yang belum baligh.
Adapun orang yang sudah baligh dan mukallaf, maka permainan dalam haknya disebut sebagai lahw (senda gurau), karena ia telah dibebani kewajiban (mukallaf) namun ia justru meninggalkan apa yang diwajibkan kepadanya, lalu beralih kepada hal yang tidak dibebankan kepadanya, serta melalaikan dari kewajiban tersebut. Termasuk dari akar kata ini adalah frasa: lahwal hadits (perkataan yang melalaikan).” (Khawathir Haulal Quran, [Mesir, Akhbarul Yaum: tt], jilid. XVIII, hlm. 11259–11260)
Dari keterangan beliau ini dapat kita ketahui bahwa letak perbedaan antara keduanya terletak pada status mukallaf pelakunya dan dampaknya terhadap kewajiban. Permainan (la‘ib) masih wajar bagi anak-anak karena tidak melalaikan kewajiban, sedangkan bagi orang dewasa yang mukallaf, tindakan sia-sia tersebut berubah menjadi lahw karena menyimpang dan melalaikan mereka dari tugas utama syariat.
Walhasil dapat kita simpulkan, alasan Al-Quran mengumpamakan kehidupan dunia seperti permainan dan senda gurau adalah karena kenikmatannya sangat singkat, fana, dan cepat berlalu layaknya anak kecil yang asyik bermain sesaat sebelum membubarkan diri.
Adapun perbedaan antara ‘permainan/la'ibun’ dengan ‘senda gurau/lahw’ terletak pada status mukallaf pelakunya dan dampaknya terhadap kewajiban. Permainan (la'ib) masih wajar dilakukan oleh anak-anak karena tidak melalaikan kewajiban, sedangkan bagi orang dewasa yang sudah mukallaf, tindakan sia-sia tersebut berubah menjadi lahw (senda gurau) karena menyimpang dan melalaikan mereka dari tugas utama syariat. Wallahu a’lam.
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

6 jam yang lalu
4



English (US) ·
Indonesian (ID) ·