REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Inspektorat Jenderal Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada Senin (14/9/2026) merilis laporan pertamanya ihwal dampak kerusakan dari perang Iran. Laporan yang diwartakan oleh NBC News, mengungkap bahwa perang "telah mengakibatkan menipisnya inventaris strategis dan terungkapnya hambatan industri yang memasok munisi" terkait dengan persenjataan canggih.
Namun demikian, Pentagon "berupaya menyederhanakan proses pengadaan dan waktu tunggu produksi, serta menimbun material kritis, komponen, dan amunisi tertentu guna merespons situasi darurat secara cepat," NBC News mengutip laporan Inspektorat.
Dalam laporan itu juga disertakan untuk kali pertama foto-foto kerusakan pesawat-pesawat AS, pangkalan dan pos diplomatik di Timur Tengah. Sebagian besar informasi dari laporan itu sebenarnya sudah diberitakan media selama enam bulan terakhir, namun laporan inspeksi Pentagon menyajikan penghitungan resmi ongkos perang terhadap kehidupan rakyat AS, pembayar pajak, dan kerusakan fisik.
Beberapa ahli sebelumnya telah mengatakan bahwa akan memakan waktu sekitar tiga tahun bagi para kontraktor militer memproduksi rudal terbaru dan rudal interseptor untuk bisa mencapai level kapasitas produksi seperti sebelum perang. Laporan yang meliputi asesmen dari 1 April hingga 30 Juni juga mengakui bahwa serangan-serangan Iran telah merusak dan menghancurkan ratusan gedung dan infrastruktur lainnya di pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Oman, dan Yordania.
Puluhan pesawat dan drone AS juga dilaporkan rusak dan hancur. Sementara, Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada akhir Juli mengatakan kepada Kongres AS bahwa perang Iran telah menghabiskan anggaran hingga 37,5 miliar dolar AS.
Namun demikian, nilai kerugian dari rusaknya fasilitas diplomatik AS, belum dirilis ke publik. Pos-pos diplomatik seperti di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan UEA mengalami kerusakan paling parah, dengan estimasi dampak kerusakan mencapai 184 juta dolar AS.
Pada awal Juni, Departamen Luar Negeri (Deplu) AS melaporkan bahwa ongkos perang secara keseluruhan adalah 113 juta dolar AS, di mana hampir 80 juta dolar AS digunakan untuk respons rencana kontingensi, termasuk biaya evakuasi personel dan keluarga serta warga negara AS lainnya di kawasan.
Deplu AS melaporkan bahwa beberapa pekan dan bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, pemerintahan Trump mengevakuasi sekitar 9.000 warga negara AS dari beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. Lewat penerbangan komersial dan pribadi dan juga melalui jalur darat dan air, ongkos operasi evakuasi mencapai 11 juta dolar AS hingga akhir Juni.
Evakuasi warga AS terbesar terjadi di Israel, disusul Irak dan Yordania. Ongkos evakuasi terbesar berasal dari UEA di mana sebanyak 1.200 warga Amerika dievakuasi ke Istanbul, Athena, dan Washington dengan menghabiskan biaya 4 juta dolar AS.

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·